Rabu, 02 Desember 2015

115. Andai Aku Tahu Beramal berpahala



Iman yang dimiliki oleh kaum muslimin tidak hanya cukup dengan hunjaman dalam hati semata dan tidak pula hanya sekedar ucapan lisan belaka tapi harus diujudkan dengan amal perbuatan dengan anggota badan.Artinya manifestasi iman itu harus nampak dan terasa pada hati nurani [8;2], ucapan lisan setiap hari [24;51] dan amal perbuatan [2;25, 103;1-3] yang mencakup pada amalan khusus dengan melaksanakan rukun iman dan islam, amal umum yaitu seluruh aktivitas dalam mencari ridha Allah serta amal bathin yaitu berupa tazkiyatunnafs; pembersihan diri dari sifat-sifat yang tidak terpuji seperti sombong, riya dan lain-lain.

Sifat-sifat iman nampak dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan, ucapan dan sikap bathin, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya surat Al Anfal 8;2-4
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,  (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”

Iman yang dapat menggetarkan hati dikala disebut nama Allah maksudnya adalah sikap mental seorang mukmin yang resfon terhadap seruan Allah, imannya bergetar dihati, dilanjutkan ke otak dengan proses terus ke anggota tubuh untuk melaksanakannya. Ketika dibacakan ayat-ayat Allah bertambah imannya, apalagi ayat yang berkaitan dengan azab dan murka Allah, bahkan para Rasul dikala mendengarkan ayat-ayat azab mereka lansung tersungkur dan pingsan untuk beberapa lama, saat dibacakan ayat-ayat tentang nikmat syurgapun mereka menangis karena khawair tidak dimasukkan ke dalamnya karena dosa dan kesalahan yang dimiliki.

Yang dimaksud dengan tawakkal pada ayat ini adalah berusaha seoptimal mungkin dengan daya dan upaya, setelah itu hasilnya diserahkan kepada Allah sesuai dengan ketentuan qada dan qadar yang ditetapkannya, dengan tidak melupakan shalat dan zakat serta do’a sebagai sarana untuk melapangkan majahadah. Iman yang tauhid yaitu iman yang menjadikan tujuan amalnya hanya Allah semata, tidak dicampuri dengan syirik yang merusak kemurnian amal. Orang yang beramal banyak saja belum tentu semua amalnya itu mendapatkan pahala, karena ibarat perjalanan panjang, ada-ada saja yang menyebabkan amal itu rusak, hancur bahkan hilang, apalagi yang beramal sangat minim, berapa lagi yang  dia persembahkan di akherat kelak.

Ketiga unsur yaitu hati, lisan dan anggota badan merupakan alat yang dapat digunakan untuk memperbanyak amal ibadah kepada Allah, ketiganya berfungsi bila kita dapat mengoptimalkannya dalam kehidupan sehar-hari.Tidak mungkin seorang hamba yang menyatakan lisannya beribadah kepada Allah, sedangkan hati dan amalannya menolak.Keempat-empatnya harus selaras.Lisan, hati, amalan hati, dan amalan anggota badan, semuanya harus selaras dan sesuai, tidak ada yang bertentangan satu dengan lainnya.

Perkatataan hati adalah I’tiqad (keyakian) terhadap apa yang diberitahukan oleh Allah mengenai diri-Nya, nama-Nya, sifat-sifat-Nya, sbagaimana yang disampaikan melalui lisan Rasul-Rasul-Nya.

Sedangkan perkataan lisan, yaitu menginformasikan hal itu, menyeru orang lain kepadanya, membelanya, menjelaskan kebhtilah bid’ah-bid’ah yang bertentangan dengannya, selau menginagatnya, dan menyampaikan perintah-Nya.Tidak menentang dan bermaksiat terhada-Nya.Tidak berbuat durhaka kepada-Nya.Selalu tunduk dan patuh kepadanya.

Amalan hati, antara lain, seperti cinta kepada Allah, tawakkal kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, takut kepada-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya, sabr terhadap perintah-Nya, larangan-Nya dan taqdir-Nya, ridha menerimanya dan ridha kepada-Nya, setia kepada-Nya, merasa tenteram dengan-Nya, dan amalan-amalan hati lainnya yang difardhukan lainnya. Amalan anggota badan tanpa amalan hati boleh jadi tidak ada gunanya.

Amalan anggota badan seperti shalat, jihad, dan melangkah kaki untuk shalat jum’at dan jama’ah, menolong orangt yang lemah, berbuat kebajikan kepada makhluk merupakan bentuk amalan anggota badan, yangm erupakan bentuk refleksi dari amalan hati seorang mukmin.[Website Eramuslim, Mashadi, Jalan Para Mukmin Melaksanakan ‘Iyyaka Na’budu, Tuesday, 25/01/2011 11:03 WIB].

Dalam kehidupan ini, tak jarang seorang Muslim menghendaki hal-hal yang berkebalikan dengan amal perbuatannya.Ia menghendaki karunia dan kebaikan Allah SWT kepada dirinya, tetapi ia sendiri jauh dari Diri-Nya sebagai pemilik sejati karunia dan kebaikan. Padahal kebaikan dan karunia Allah SWT hanya mungkin diraih dengan seberapa keras ia  ber-taqarrub kepada-Nya. Tak jarang pula seorang Muslim berusaha keras meraih kekayaan dan kesenangan dunia. Padahal umurnya sangatlah singkat untuk bisa menikmati semua kekayaan dan kesenangan dunia yang berhasil ia dapatkan. Meski kekayaannya berlimpah-ruah, apa yang ia makan, misalnya, tetaplah tak akan melebihi daya tampung perutnya. Tak sedikit Muslim yang gemar berbuat maksiat dan memperbanyak dosa dalam hidupnya. Padahal ia sendiri tak mungkin sanggup dan mampu menanggung azabnya yang pasti amat pedih. Sebaliknya, tak sedikit pula Muslim yang sedikit sekali menyiapkan bekal untuk akhiratnya.Padahal akhirat itu tempat kembali dirinya yang abadi alias tak berujung. Di sisi lain, kebanyakan Muslim tentu saja merindukan surga yang paling tinggi di sisi Allah SWT. Namun, ia acapkali hanya ’membayarnya’ dengan  amal yang alakadarnya. Padahal surga itu  ’amat mahal’, hanya mungkin bisa ’dibeli’ dengan amal-amal shalih dan berkualitas.

Jika semua itu yang terjadi, setiap Muslim kiranya layak menyimak kata-kata Syaqiq al-Balkhai. Ia bertutur, ”Engkau harus benar-benar memperhatikan lima perkara: 

(1) Beribadahlah kepada Allah SWT sesuai dengan kadar kebutuhanmu kepada-Nya (yakni kebutuhan akan kebaikan dan karunia-Nya); 

(2) Carilah (kekayaan) dunia sesuai dengan kadar usiamu di dalamnya (yakni sebatas bekal hidup kita di dunia yang singkat ini); 

(3) Berbuatlah dosa/maksiat kepada Allah SWT sesuai dengan kadar kesanggupanmu memikul azab-Nya (yang tentu tak ada seorang pun yang sanggup memikulnya karena sesungguhnya azab Allah SWT sangatlah pedih); 

(4)  Siapkanlah bekal di dunia sesuai dengan kadar kebutuhanmu untuk kehidupan di akhirat; 

(5) Beramal shalihlah sesuai dengan kadar keinginanmu untuk menempati maqam (tingkat) mana di surga yang engkau kehendaki (karena maqam setiap orang di surga bergantung pada seberapa banyak dan seberapa berkualitas amal-amal shalihnya) (An-Nawawi, Nasha’ih al-’Ibad, hlm. 39).

Pernyataan al-Balkhai di atas mengajari kita untuk menyadari: 

Pertama, kebutuhan kita akan karunia dan kebaikan Allah SWT sangatlah besar, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, kesungguhan kita dalam beribadah kepada-Nya haruslah berbanding lurus dengan kebutuhan tersebut. Dalam Alquran Allah SWT sendiri berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang amat pedih? Hendaklah kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwa kalian (QS ash-Shaff [61]:10-11).

Ayat ini tegas menyatakan bahwa keselamatan dari azab yang amat pedih harus ‘dibayar’ dengan iman dan jihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah SWT.

Kedua, Islam tidak melarang seorang Muslim untuk meraih kekayaan dunia. Hanya saja, dengan usia manusia yang amat singkat, sebanyak apapun kekayaan yang didapat sejatinya yang bisa dinikmati hanya sedikit saja. Karena itu, alangkah baiknya jika sebagian besar kekayaan itu diinfakkan untuk kepentingan akhirat.

Ketiga, azab Allah SWT sesungguhnya amat pedih (Lihat, misalnya, QS an-Nisa’ [4]: 56). Karena itu, sekecil apa pun dosa/maksiat yang pasti mengundang azab Allah SWT itu, sudah seharusnya dihindari.

Keempat, kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi. Karena itu, setiap Muslim harus menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan di sana. Bekal terbaik itu tak lain adalah takwa (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 197).

Kelima, Rasul bersabda, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkatan yang telah Allah sediakan bagi para mujahidin fi sabilillah… Jika kalian memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus yang tinggi karena ia surga paling atas dan di atasnya terdapat Arsy ar-Rahman…”(HR al-Bukhari).Melalui hadits ini sesungguhnya Rasul SAW mengajari kita agar beramal shalih sebanyak dan sebaik mungkin. Dengan itulah surga Firdaus dapat diraih.[Website, Media Ummat, Beramal Sesuai Harapan dan Kesanggupan ; Sunday, 18 July 2010 17:05].

Idealnya amal seorang mukmin itu  memang banyak “aksaru amala” dan juga diharapkan menjadi amalan yang baik “ahsanu amala”  sebagai modal untuk memperjuangkan nasibnya kelak di hadapan Allah, berapa banyaknya ajaran Islam melalui Rasulullah yang mengajak ummatnya untuk selalu beramal baik dan menjauhi amal-amal yang buruk.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan orang yang melakukan amal-amal buruk (dosa) kemudian mengerjakan amal-amal baik (saleh), bagaikan seorang yang memakai perisai perang sempit sehingga membuatnya terimpit.Ketika dia mengerjakan satu amal baik, maka perisai itu terasa agak longgar sedikit.Selanjutnya ketika dia mengerjakan satu amal baik lainnya, maka perisai tersebut terasa semakin longgar, hingga orang itu meninggal dunia." (HR Ahmad dari Uqbah bin Amir).

Kewajiban manusia adalah di dalam kehidupan dunia ini adalah melakukan amal baik dan menjauhi amal buruk. Amal baik akan mengarahkan manusia ke jalan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sementara amal buruk akan mengarahkan manusia ke jalan keburukan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman, "… dan kerjakanlah amal yang baik (saleh).Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-Mu'minun [23] m: 51).

Amal buruk harus dijauhi. Dan, bagi orang yang sudah melakukan amal buruk, ia harus meninggalkannya. Rasulullah memberikan perumpamaan tentang hal ini.Bahwa melakukan amal buruk (dosa) itu seperti orang yang memakai baju besi dalam perang yang makin mengimpit, membelit kuat tubuhnya. Semakin ia sering melakukan amal buruk, maka baju besi itu akan semakin mengimpit tubuhnya. Apabila orang itu melakukan amal baik setelah melakukan amal buruk, maka ia ibarat orang yang mengendurkan impitan baju besinya. Semakin banyak amal baik dilakukan, semakin longgar baju besi itu.

Apa maknanya? Pertama, buah dari amal buruk itu adalah penderitaan, kesulitan, dan kesengsaraan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat.Kedua, buah dari amal baik itu adalah kelapangan, keluasan, kemudahan, dan kebahagiaan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat. Karena itu, kunci untuk melepaskan diri dari penderitaan, kesulitan, ataupun kesengsaraan hidup itu sebenarnya sangat mudah: lakukanlah kebaikan, apa pun bentuknya, kapan pun, di manapun; dan jangan sekali-kali melakukan keburukan.[Republika online,  Fajar Kurnianto Perumpamaan Amal Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 09:44:0].

Tinggal lagi kesanggupan seorang mukmin untuk melakukan amal-amal baik, apakah amal itu berkaitan dengan ujud pendekatan diri kepada Allah atau amal social yang mendekatkan diri kepada masyarakat, semua itu merupakan amal-amal baik, banyak sekali peluang dan pintu-pintu kebaikan itu yang dapat dilakukan. Mumpung masih ada waktu maka gunakan waktu untuk beramal, bersyukur kita masih sehat sehingga tidak menunggu sakit baru ingat beramal, karena masih muda sehingga peluang untuk beramal masih ada sebelum datangnya masa tua, Alhamdulillah kita masih hidup, kalau kematian sudah menjemput tidak ada lagi waktu kita untuk melakukan amal ibadah dan amal sosial.

Baginda Nabi SAW pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra., “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu keba-jikan? (Yaitu) Shaum yang merupakan perisai; sedekah yang bisa menghapus dosa/kesalahan sebagaimana air bisa mematikan api; dan shalat di penghujung malam…”(HR at-Tirmidzi).

Hadits ini memang terkait dengan keutamaan ibadah-ibadah sunnah: shaum sunnah, infak sunnah dan shalat sunnah (shalat tahajud). 

Pertama: shaum. Oleh Baginda Nabi SAW, shaum dinyatakan sebagai perisai; maknanya adalah perisai dari perilaku maksiat di dunia dan dari azab api neraka di akhirat (Ibn Rajab al-Hanbali, 30/1). Ini berlaku baik bagi shaum wajib pada bulan Ramadhan maupun shaum-shaum sunnah di luar bulan Ramadhan. 

Kedua: sedekah. Sedekah dinyatakan oleh Baginda Nabi SAW dapat menghapus dosa/kesalahan, tentu jika dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.Namun demikian, hal ini tidak berarti tidak mengharuskan seseorang untuk tidak perlu bertobat dari dosa dan kesalahan.Sebab, tobat tetap wajib atas setiap dosa, besar ataupun kecil, bagi setiap pendosa.Hadits ini hanya menjelas-kan salah satu dari keutamaan bersede-kah.

Ketiga: shalat malam. Shalat malam sesungguhnya telah menjadi ciri khas yang melekat pada generasi shalafush shalih dan para ulama dulu maupun sekarang, juga ciri utama yang melekat pada para mujahid dan pengemban dakwah. Karenanya, idealnya shalat malam pun menjadi ciri yang menonjol bagi setiap Muslim yang bertakwa.[Disarikan dari Website, Media Ummat; Pintu-pintu Kebajikan,Thursday, 23 December 2010 10:47].

Amal shaleh yang dilakukan seorang hamba bukan sebatas kewajiban saja, banyak hikmah yang dapat dipetik dari semuanya selain itu juga mendatangkan kebaikan kepada pribadi yang melakukannya, bahkan ada amal hamba selain tiga amal yang disebutkan diatas yaitu puasa, sedekah dan shalat malam, maka do’a juga mengandung efek luar biasa bagi pengamalnya sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Arifin Ilham dalam Republika Online dengan judul Amalan Penentu Takdir.

Hampir dipastikan, kita semua tidak pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke depan. Segala sesuatunya adalah misteri bagi kita.Acap kali kejadian dan semua peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa direkayasa.Terkadang kita juga tidak berkuasa dengan amalan kita sendiri.Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara kehidupan dan kematian adalah mutlak milik Allah. Bahkan, di beberapa ayat diinformasikan, salah satunya dalam QS ash-Shaaffat, [37]: 96, bahwa kita dan semua amalan kita Allahlah pembuat skenarionya, "Wallahu khalaqakum wa maa ta'maluun".

Meski pembuat skenario semuanya adalah Allah SWT, tapi hal yang tidak bisa dinapikan adalah bahwa banyak amalan yang bisa menentukan arah keberpihakan takdir-Nya. Pertama, doa. Sebuah hadis, Laa yaruddul qadhaa-a illa biddu'a, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Jika kita menghendaki kegagalan beralih kepada kesuksesan, maka ubahlah di antaranya dengan doa. Kenapa?Karena Allah sangat mencintai hamba-Nya yang banyak minta kepada-Nya. Dalam hadis laindisebutkan, "Innallaaha yuhibul mulihhiina biddu'a." Karena Allah mencintai hamba-Nya, maka akan mudah bagi-Nya mengubah apa pun dari semua ciptaan-Nya. Cukup dengan mengatakan, "Jadilah!" Maka, "Terjadilah." (QS Yaasiin [36]: 82).

Ketahuilah, doa telah terbukti menjadi senjata yang cukup menentukan bagi orang-orang yang beriman. Sabda Nabi SAW, "ad-Du'au silahul mu'miniin." Doa adalah senjata orang yang beriman. Di antara petikan sejarah yang mampir di telinga kita adalah cerita keajaiban senjata doa Ibrahim 'alaihis salam ketika dipanggang di api unggun raksasa. Saat itu Raja Namrudz memerintahkan punggawa kerajaan untuk mengumpulkan kayu bakar dan disulutkan api raksasa. Lalu Ibrahim diletakkan di atasnya.

Saat itu Ibrahim-seorang hamba pilihan-Nya yang memiliki sebuah keyakinan dan kepasrahan total kepada Sang Khalik- sudah tidak memiliki daya apa pun kecuali senjata doa. Tidak lama, Allah pun kemudian menghadirkan takdir lain dari api, yaitu dingin dan turut membantu menyelamatkan Ibrahim as. "Hai api, jadilah dingin dan selamatkan Ibrahim." (QS al-Anbiyaa [21]: 69).

Kekuatan doa itu pula yang dibuktikan oleh Nabi Musa dan para pengikutnya ketika mereka terdesak di Laut Merah saat dikejar oleh pasukan Firaun. Hukum alam air yang tidak mungkin terbelah dan terpisah, ternyata kala itu tidak berfungsi. Bersamaan dengan doa, air membelah dirinya dan mempersilakan Musa dan pengikutnya lewat. Musa pun selamat, justru Firaun dan semua pasukannya terkubur di dasar Lautan Merah.

Allahu akbar, doa adalah sebuah kekuatan (the power). Bahkan, dalam doa berhimpun berbagai kekuatan untuk menghadirkan puncak harapan setiap hamba."Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, sungguh Aku teramat dekat. Aku akan memenuhi permintaanmu jika kamu memohon (berdoa) dan beriman kepada-Ku" (QS al-Baqarah [2]: 186). [Jumat, 04 Juni 2010, 09:54 WIB].

Yahya bin Syaifuddin An Nawawi membagi derajat manusia dalam beramal menjadi tiga yaitu;
  1. Amal Budak; dia melaksanakan suatu kewajiban karena takut kepada Allah, batas ketundukannya hanya menghindari murka Allah.
  1. Amal Saudagar; suatu perintah Allah dilaksanakan karena mengharapkan sesuatu yaitu pahala dari Allah, bila tidak ada yang diharapkan  maka otomatis dia tidak akan beramal.

  1. Amal Orang Merdeka;  ketundukannya kepada Allah sebagai bukti dan bakti kesyukuran kepada Allah, dilaksanakan karena memang perintah Allah yang wajib dilaksanakan.
  Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Al Hakim, Rasulullah bersabda, ”Tiga orang yang tidak dilihat Allah dihari kiamat ialah; orang yang durhaka kepada orangtuanya, orang yang kecanduan minuman keras dan orang yang mengungkit-ungkit kebaikannya kepada orang lain”.

Betapa besarnya kepentingan ikhlas dalam beramal, mengkalkulasikan kebaikan yang sudah diberikan kepada orang lain akan menghilangkan nilai amal sehingga amal itu tidak bermakna jadinya, ibarat fatamorgana, dikira mendapatkan pahala dalam semua aktivitas amalnya ternyata amal-amal itu sirna pahalanya, inilah orang-orang yang tertipu yang digambarkan oleh Imam Al Gazali.

            Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali pernah mengingatkan, orang yang tertipu di akhirat kelak adalah orang yang jika berbuat baik, dia berkata, “Akan diterima amal kebaikanku”. Jika berbuat maksiat, dia berkata:”Akan diampuni dosaku.” (Ihya Ulmuddin).

Saat beribadah, kerap kita didatangi perasaan, “Telah banyak ibadah yang saya kerjakan”, atau pertanyaan, “Berapa rupiah uang yang sudah saya sedekahkan”.Bahkan sering juga hati bergumam, “Kiranya semua dosa-dosaku pasti telah diampuni, karena aku shalat sunnah sekian kali setiap hati”.

Perasaan, angan-angan dan pertanyaan seperti tersebut di atas bisa merusak amal perbuatan.Bahkan bisa berakibat meremehkan (tahawun) perbuatan dosa.

Sehingga, ibadahnya bisa menjadi sia-sia.Sebab, semangat ibadahnya bukan lagi karena takwa kepada Allah SWT, tapi ingin jadi kaya atau ingin disebut ahli ibadah.Sebagaimana hadis Rasulullah SAW di atas, orang seperti tersebut di atas disebut rakus.Beribadah banyak tanpa disertai pengetahuan ancaman-ancaman Allah SWT dalam al-Qur’an.Ancaman-Nya dianggap lalu saja.

Rasulullah SAW memberi gambaran: “Sesungguhnya orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri di bawah gunung, yang mana dia (sentiasa) rasa takut yang gunung itu nanti akan menghempapnya,dan orang yang keji pula memandang dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang berkata : dengan hanya begini sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan sahaja) maka dengan mudah sahaja lalat itu terbang. “ (HR. Bukhari Muslim)
Imam al-Ghazali mengingatkan, meremehkan dosa dan over confident terhadap amal perbuatannya adalah sangat berbahaya.Sebab katanya, orang yang sibuk menghitung-hitung pahala biasanya lupa terhadap banyaknya dosa.

Orang seperti ini akan mendapatkan kekecewaan di akhirat. Ketika di dunia ia lupa mengkalkulasi berapa banyak dosa yang telah dilakukan, sehingga dosa-dosanya lupa dimintakan ampun kepada Allah SWT. Ia hanya sibuk mengkalkulasi jumlah shalat, zakat, puasa dan sedekah yang dilakukan.

Ia tidak mengetahui seberapa besar kalkulasi pahalanya jika dibanding dosanya. Maka, saat di akhirat ia menyangka membawa pahala, padahal pahalanya berguguran sementara dosanya menumpuk. Inilah fenomena yang disinyalir akan banyak terjadi pada akhir zaman.

Maka dalam beribadah kita mesti memiliki pengetahuan seimbang antara kabar baik dan ancaman Allah SWT.Ancaman-ancaman Allah yang tersebut dalam al-Qur’an harus menjadi perhatian kita, agar tidak terjebak di dalamnya.Sementara orang yang hanya berfokus pada jumlah pahala (kabar baik) disebut sebagai jahil.Tidak mengetahui bahwa setiap harinya diawasi oleh Malaikat Raqib dan ‘Atid yang mencatat kebaikan dan keburukan.

Kita pun terkadang terlalu ‘asyik’ melafalkan huruf demi huruf al-Qur’an, tapi lupa isi dan pelajaran di baliknya. ‘Keasyikan’ itu menimbulkan kebanggaan hati, bahwa ia telah melakukan amal baik – yaitu membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya.Pernahkan terbesit di dalam hati kita kata-kata ini: “Alhamdulillah, sudah sekian kali al-Qur’an telah aku khatamkan. Pasti aku masuk surga”.Ini kata-kata yang menipu.Memastikan diri ini cukup berbahaya.Bisa menimbulkan ‘ujub, bahkan melalaikan dosa.

Fenomena ini pernah terjadi pada masa umat nabi Musa a.s, seperti tertulis dalam al-Qur’an: “...Maka datanglah sesudah mereka, yaitu generasi yang mewarisi Taurat, yang menghambil harta benda dunia yang rendah ini, seraya berkata: ‘Kami akan diberi ampunan oleh Allah.’” (QS. Al-A’raf: 169). Generasi tersebut, berbuat dosa akan tetapi merasa mereka diampuni oleh Allah.

Imam al-Ghazali menjelaskan : “Jika kita terlena menghitung pahala tetapi dosa-dosa dilupakan. Maka kita menjadi orang tertipu terhadap amal kita sendiri. Pada hari penghitungan amal, kita akan terkejut. Sebab ternyata timbangan amal lebih berat daripada pahala yang kita sangka-sangka telah menumpuk.”

Maka, jangan kita tertipu oleh perasaan diri kita sendiri.Yang perlu kita lakukan, bukan asyik mengkalkulasi pundi-pundi pahala.Setelah beramal, biarlah kita serahkan kepada-Nya. Allah SWT Maha Bijaksana, Dia yang mengatur pahala kita secara adil. Jangan pula buru-buru mengatakan “Saya telah ikhlas!”.Biasanya orang yang terang-terangan berkata demikian justru sebaliknya, tidak ikhlas, sebab membawa perasaan ‘ujub di hatinya.[Panji Islam,Sibuk Hitung Pahala, Malah Lupa Beribadah ,Hidayatullah.com, Kamis, 17 Februari 2011].

Hidup di dunia yang diutamakan bukanlah lamanya kita menjalani kehidupan ini, sebentar ataupun lama hidup di dunia bukanlah ukuran kebaikan seseorang, yang menjadi standard baiknya hidup manusia di dunia adalah amal-amal yang dilakukan, sabda Rasulullah, orang yang baik adalah orang yang lama hidupnya dan banyak amalnya dan buruknya manusia adalah yang lama hidupnya tapi buruk amalnya, wallahu a’lam [Mengkoang Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].




Tidak ada komentar:

Posting Komentar