Iman yang dimiliki oleh kaum muslimin
tidak hanya cukup dengan hunjaman dalam hati semata dan tidak pula hanya
sekedar ucapan lisan belaka tapi harus diujudkan dengan amal perbuatan dengan
anggota badan.Artinya manifestasi iman itu harus nampak dan terasa pada
hati nurani [8;2], ucapan lisan setiap hari [24;51] dan amal perbuatan [2;25,
103;1-3] yang mencakup pada amalan khusus dengan melaksanakan rukun iman dan
islam, amal umum yaitu seluruh aktivitas dalam mencari ridha Allah serta amal
bathin yaitu berupa tazkiyatunnafs; pembersihan diri dari sifat-sifat yang
tidak terpuji seperti sombong, riya dan lain-lain.
Sifat-sifat iman nampak dalam kehidupan sehari-hari
melalui tindakan, ucapan dan sikap bathin, sebagaimana yang disebutkan Allah
dalam firman-Nya surat Al Anfal 8;2-4
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat
dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh
beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat)
yang mulia.”
Iman yang dapat menggetarkan hati dikala disebut nama
Allah maksudnya adalah sikap mental seorang mukmin yang resfon terhadap seruan
Allah, imannya bergetar dihati, dilanjutkan ke otak dengan proses terus ke
anggota tubuh untuk melaksanakannya. Ketika dibacakan ayat-ayat Allah bertambah
imannya, apalagi ayat yang berkaitan dengan azab dan murka Allah, bahkan para
Rasul dikala mendengarkan ayat-ayat azab mereka lansung tersungkur dan pingsan
untuk beberapa lama, saat dibacakan ayat-ayat tentang nikmat syurgapun mereka
menangis karena khawair tidak dimasukkan ke dalamnya karena dosa dan kesalahan
yang dimiliki.
Yang dimaksud dengan tawakkal pada ayat ini adalah berusaha
seoptimal mungkin dengan daya dan upaya, setelah itu hasilnya diserahkan kepada
Allah sesuai dengan ketentuan qada dan qadar yang ditetapkannya, dengan tidak
melupakan shalat dan zakat serta do’a sebagai sarana untuk melapangkan
majahadah. Iman yang tauhid yaitu iman yang menjadikan tujuan amalnya hanya
Allah semata, tidak dicampuri dengan syirik yang merusak kemurnian amal. Orang
yang beramal banyak saja belum tentu semua amalnya itu mendapatkan pahala,
karena ibarat perjalanan panjang, ada-ada saja yang menyebabkan amal itu rusak,
hancur bahkan hilang, apalagi yang beramal sangat minim, berapa lagi yang dia persembahkan di akherat kelak.
Ketiga unsur yaitu hati, lisan dan anggota badan
merupakan alat yang dapat digunakan untuk memperbanyak amal ibadah kepada
Allah, ketiganya berfungsi bila kita dapat mengoptimalkannya dalam kehidupan
sehar-hari.Tidak mungkin seorang hamba yang menyatakan lisannya
beribadah kepada Allah, sedangkan hati dan amalannya menolak.Keempat-empatnya
harus selaras.Lisan, hati, amalan hati, dan amalan anggota badan, semuanya
harus selaras dan sesuai, tidak ada yang bertentangan satu dengan lainnya.
Perkatataan hati adalah
I’tiqad (keyakian) terhadap apa yang diberitahukan oleh Allah mengenai
diri-Nya, nama-Nya, sifat-sifat-Nya, sbagaimana yang disampaikan melalui lisan
Rasul-Rasul-Nya.
Sedangkan perkataan lisan,
yaitu menginformasikan hal itu, menyeru orang lain kepadanya, membelanya,
menjelaskan kebhtilah bid’ah-bid’ah yang bertentangan dengannya, selau
menginagatnya, dan menyampaikan perintah-Nya.Tidak menentang dan bermaksiat
terhada-Nya.Tidak berbuat durhaka kepada-Nya.Selalu tunduk dan patuh kepadanya.
Amalan hati, antara lain,
seperti cinta kepada Allah, tawakkal kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, takut
kepada-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, mengikhlaskan ketaatan
kepada-Nya, sabr terhadap perintah-Nya, larangan-Nya dan taqdir-Nya, ridha
menerimanya dan ridha kepada-Nya, setia kepada-Nya, merasa tenteram dengan-Nya,
dan amalan-amalan hati lainnya yang difardhukan lainnya. Amalan anggota badan
tanpa amalan hati boleh jadi tidak ada gunanya.
Amalan anggota badan seperti
shalat, jihad, dan melangkah kaki untuk shalat jum’at dan jama’ah, menolong
orangt yang lemah, berbuat kebajikan kepada makhluk merupakan bentuk amalan
anggota badan, yangm erupakan bentuk refleksi dari amalan hati seorang mukmin.[Website Eramuslim, Mashadi, Jalan
Para Mukmin Melaksanakan ‘Iyyaka Na’budu, Tuesday, 25/01/2011 11:03 WIB].
Dalam kehidupan ini, tak jarang
seorang Muslim menghendaki hal-hal yang berkebalikan dengan amal
perbuatannya.Ia menghendaki karunia dan kebaikan Allah SWT kepada dirinya,
tetapi ia sendiri jauh dari Diri-Nya sebagai pemilik sejati karunia dan
kebaikan. Padahal kebaikan dan karunia Allah SWT hanya mungkin diraih dengan seberapa
keras ia ber-taqarrub kepada-Nya. Tak jarang pula seorang Muslim berusaha
keras meraih kekayaan dan kesenangan dunia. Padahal umurnya sangatlah singkat
untuk bisa menikmati semua kekayaan dan kesenangan dunia yang berhasil ia
dapatkan. Meski kekayaannya berlimpah-ruah, apa yang ia makan, misalnya,
tetaplah tak akan melebihi daya tampung perutnya. Tak sedikit Muslim yang gemar
berbuat maksiat dan memperbanyak dosa dalam hidupnya. Padahal ia sendiri tak
mungkin sanggup dan mampu menanggung azabnya yang pasti amat pedih. Sebaliknya,
tak sedikit pula Muslim yang sedikit sekali menyiapkan bekal untuk
akhiratnya.Padahal akhirat itu tempat kembali dirinya yang abadi alias tak
berujung. Di sisi lain, kebanyakan Muslim tentu saja merindukan surga yang
paling tinggi di sisi Allah SWT. Namun, ia acapkali hanya ’membayarnya’ dengan
amal yang alakadarnya. Padahal surga itu ’amat mahal’, hanya
mungkin bisa ’dibeli’ dengan amal-amal shalih dan berkualitas.
Jika
semua itu yang terjadi, setiap Muslim kiranya layak menyimak kata-kata Syaqiq
al-Balkhai. Ia bertutur, ”Engkau harus benar-benar memperhatikan lima perkara:
(1)
Beribadahlah kepada Allah SWT sesuai dengan kadar kebutuhanmu kepada-Nya (yakni
kebutuhan akan kebaikan dan karunia-Nya);
(2)
Carilah (kekayaan) dunia sesuai dengan kadar usiamu di dalamnya (yakni sebatas
bekal hidup kita di dunia yang singkat ini);
(3)
Berbuatlah dosa/maksiat kepada Allah SWT sesuai dengan kadar kesanggupanmu
memikul azab-Nya (yang tentu tak ada seorang pun yang sanggup memikulnya karena
sesungguhnya azab Allah SWT sangatlah pedih);
(4)
Siapkanlah bekal di dunia sesuai dengan kadar kebutuhanmu untuk kehidupan
di akhirat;
(5)
Beramal shalihlah sesuai dengan kadar keinginanmu untuk menempati maqam
(tingkat) mana di surga yang engkau kehendaki (karena maqam setiap orang di
surga bergantung pada seberapa banyak dan seberapa berkualitas amal-amal
shalihnya) (An-Nawawi, Nasha’ih al-’Ibad, hlm. 39).
Pernyataan al-Balkhai di atas mengajari kita untuk
menyadari:
Pertama,
kebutuhan kita akan karunia dan kebaikan Allah SWT sangatlah besar, baik di
dunia maupun di akhirat. Karena itu, kesungguhan kita dalam beribadah
kepada-Nya haruslah berbanding lurus dengan kebutuhan tersebut. Dalam Alquran
Allah SWT sendiri berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman,
maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan
kalian dari azab yang amat pedih? Hendaklah kalian beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwa kalian (QS
ash-Shaff [61]:10-11).
Ayat ini tegas menyatakan bahwa keselamatan dari azab yang
amat pedih harus ‘dibayar’ dengan iman dan jihad dengan harta dan jiwa di jalan
Allah SWT.
Kedua, Islam
tidak melarang seorang Muslim untuk meraih kekayaan dunia. Hanya saja, dengan
usia manusia yang amat singkat, sebanyak apapun kekayaan yang didapat sejatinya
yang bisa dinikmati hanya sedikit saja. Karena itu, alangkah baiknya jika
sebagian besar kekayaan itu diinfakkan untuk kepentingan akhirat.
Ketiga, azab
Allah SWT sesungguhnya amat pedih (Lihat, misalnya, QS an-Nisa’ [4]: 56).
Karena itu, sekecil apa pun dosa/maksiat yang pasti mengundang azab Allah SWT
itu, sudah seharusnya dihindari.
Keempat,
kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi. Karena itu, setiap Muslim
harus menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan di sana. Bekal terbaik itu tak
lain adalah takwa (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 197).
Kelima, Rasul
bersabda, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkatan yang telah Allah
sediakan bagi para mujahidin fi sabilillah… Jika kalian memohon kepada Allah,
mohonlah surga Firdaus yang tinggi karena ia surga paling atas dan di atasnya
terdapat Arsy ar-Rahman…”(HR al-Bukhari).Melalui hadits ini sesungguhnya
Rasul SAW mengajari kita agar beramal shalih sebanyak dan sebaik mungkin.
Dengan itulah surga Firdaus dapat diraih.[Website, Media Ummat, Beramal Sesuai
Harapan dan Kesanggupan ; Sunday, 18 July 2010 17:05].
Idealnya amal seorang mukmin itu memang banyak “aksaru amala” dan juga
diharapkan menjadi amalan yang baik “ahsanu amala” sebagai modal untuk memperjuangkan nasibnya
kelak di hadapan Allah, berapa banyaknya ajaran Islam melalui Rasulullah yang
mengajak ummatnya untuk selalu beramal baik dan menjauhi amal-amal yang buruk.
Rasulullah
bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan
orang yang melakukan amal-amal buruk (dosa) kemudian mengerjakan amal-amal baik
(saleh), bagaikan seorang yang memakai perisai perang sempit sehingga
membuatnya terimpit.Ketika dia mengerjakan satu amal baik, maka perisai itu
terasa agak longgar sedikit.Selanjutnya ketika dia mengerjakan satu amal baik
lainnya, maka perisai tersebut terasa semakin longgar, hingga orang itu
meninggal dunia." (HR Ahmad dari Uqbah bin Amir).
Kewajiban
manusia adalah di dalam kehidupan dunia ini adalah melakukan amal baik dan
menjauhi amal buruk. Amal baik akan mengarahkan manusia ke jalan kebaikan di
dunia dan di akhirat. Sementara amal buruk akan mengarahkan manusia ke jalan
keburukan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman, "… dan kerjakanlah
amal yang baik (saleh).Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan." (QS al-Mu'minun [23] m: 51).
Amal buruk harus
dijauhi. Dan, bagi orang yang sudah melakukan amal buruk, ia harus meninggalkannya.
Rasulullah memberikan perumpamaan tentang hal ini.Bahwa melakukan amal buruk
(dosa) itu seperti orang yang memakai baju besi dalam perang yang makin
mengimpit, membelit kuat tubuhnya. Semakin ia sering melakukan amal buruk, maka
baju besi itu akan semakin mengimpit tubuhnya. Apabila orang itu melakukan amal
baik setelah melakukan amal buruk, maka ia ibarat orang yang mengendurkan
impitan baju besinya. Semakin banyak amal baik dilakukan, semakin longgar baju
besi itu.
Apa maknanya? Pertama, buah dari amal buruk itu adalah penderitaan, kesulitan, dan kesengsaraan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat.Kedua, buah dari amal baik itu adalah kelapangan, keluasan, kemudahan, dan kebahagiaan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat. Karena itu, kunci untuk melepaskan diri dari penderitaan, kesulitan, ataupun kesengsaraan hidup itu sebenarnya sangat mudah: lakukanlah kebaikan, apa pun bentuknya, kapan pun, di manapun; dan jangan sekali-kali melakukan keburukan.[Republika online, Fajar Kurnianto Perumpamaan Amal Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 09:44:0].
Tinggal
lagi kesanggupan seorang mukmin untuk melakukan amal-amal baik, apakah amal itu
berkaitan dengan ujud pendekatan diri kepada Allah atau amal social yang
mendekatkan diri kepada masyarakat, semua itu merupakan amal-amal baik, banyak
sekali peluang dan pintu-pintu kebaikan itu yang dapat dilakukan. Mumpung masih
ada waktu maka gunakan waktu untuk beramal, bersyukur kita masih sehat sehingga
tidak menunggu sakit baru ingat beramal, karena masih muda sehingga peluang
untuk beramal masih ada sebelum datangnya masa tua, Alhamdulillah kita masih
hidup, kalau kematian sudah menjemput tidak ada lagi waktu kita untuk melakukan
amal ibadah dan amal sosial.
Baginda Nabi SAW pernah bersabda
kepada Muadz bin Jabal ra., “Maukah
engkau aku tunjukkan pintu-pintu keba-jikan? (Yaitu) Shaum yang merupakan
perisai; sedekah yang bisa menghapus dosa/kesalahan sebagaimana air bisa
mematikan api; dan shalat di penghujung malam…”(HR at-Tirmidzi).
Hadits ini memang terkait dengan keutamaan ibadah-ibadah
sunnah: shaum sunnah, infak sunnah dan shalat sunnah (shalat tahajud).
Pertama: shaum. Oleh Baginda Nabi
SAW, shaum dinyatakan sebagai perisai; maknanya adalah perisai dari perilaku
maksiat di dunia dan dari azab api neraka di akhirat (Ibn Rajab al-Hanbali,
30/1). Ini berlaku baik bagi shaum wajib pada bulan Ramadhan maupun shaum-shaum
sunnah di luar bulan Ramadhan.
Kedua: sedekah. Sedekah dinyatakan oleh Baginda Nabi SAW
dapat menghapus dosa/kesalahan, tentu jika dilakukan dengan ikhlas semata-mata
karena Allah SWT.Namun demikian, hal ini tidak berarti tidak mengharuskan
seseorang untuk tidak perlu bertobat dari dosa dan kesalahan.Sebab, tobat tetap
wajib atas setiap dosa, besar ataupun kecil, bagi setiap pendosa.Hadits ini
hanya menjelas-kan salah satu dari keutamaan bersede-kah.
Ketiga: shalat malam. Shalat malam sesungguhnya telah
menjadi ciri khas yang melekat pada generasi shalafush shalih dan para ulama
dulu maupun sekarang, juga ciri utama yang melekat pada para mujahid dan
pengemban dakwah. Karenanya, idealnya shalat malam pun menjadi ciri yang
menonjol bagi setiap Muslim yang bertakwa.[Disarikan dari Website, Media Ummat;
Pintu-pintu Kebajikan,Thursday, 23
December 2010 10:47].
Amal
shaleh yang dilakukan seorang hamba bukan sebatas kewajiban saja, banyak hikmah
yang dapat dipetik dari semuanya selain itu juga mendatangkan kebaikan kepada
pribadi yang melakukannya, bahkan ada amal hamba selain tiga amal yang
disebutkan diatas yaitu puasa, sedekah dan shalat malam, maka do’a juga
mengandung efek luar biasa bagi pengamalnya sebagaimana yang diungkapkan oleh
Ustadz Arifin Ilham dalam Republika Online dengan judul Amalan Penentu Takdir.
Hampir
dipastikan, kita semua tidak pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke
depan. Segala sesuatunya adalah misteri bagi kita.Acap kali kejadian dan semua
peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa direkayasa.Terkadang kita juga tidak
berkuasa dengan amalan kita sendiri.Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara
kehidupan dan kematian adalah mutlak milik Allah. Bahkan, di beberapa ayat
diinformasikan, salah satunya dalam QS ash-Shaaffat, [37]: 96, bahwa kita dan
semua amalan kita Allahlah pembuat skenarionya, "Wallahu khalaqakum wa maa
ta'maluun".
Meski pembuat
skenario semuanya adalah Allah SWT, tapi hal yang tidak bisa dinapikan adalah
bahwa banyak amalan yang bisa menentukan arah keberpihakan takdir-Nya. Pertama,
doa. Sebuah hadis, Laa yaruddul qadhaa-a illa biddu'a, tidak ada yang dapat
menolak takdir kecuali doa. Jika kita menghendaki kegagalan beralih kepada
kesuksesan, maka ubahlah di antaranya dengan doa. Kenapa?Karena Allah sangat
mencintai hamba-Nya yang banyak minta kepada-Nya. Dalam hadis laindisebutkan,
"Innallaaha yuhibul mulihhiina biddu'a." Karena Allah mencintai
hamba-Nya, maka akan mudah bagi-Nya mengubah apa pun dari semua ciptaan-Nya.
Cukup dengan mengatakan, "Jadilah!" Maka, "Terjadilah." (QS
Yaasiin [36]: 82).
Ketahuilah, doa
telah terbukti menjadi senjata yang cukup menentukan bagi orang-orang yang
beriman. Sabda Nabi SAW, "ad-Du'au silahul mu'miniin." Doa adalah
senjata orang yang beriman. Di antara petikan sejarah yang mampir di telinga
kita adalah cerita keajaiban senjata doa Ibrahim 'alaihis salam ketika
dipanggang di api unggun raksasa. Saat itu Raja Namrudz memerintahkan punggawa
kerajaan untuk mengumpulkan kayu bakar dan disulutkan api raksasa. Lalu Ibrahim
diletakkan di atasnya.
Saat itu Ibrahim-seorang hamba pilihan-Nya yang memiliki sebuah keyakinan dan kepasrahan total kepada Sang Khalik- sudah tidak memiliki daya apa pun kecuali senjata doa. Tidak lama, Allah pun kemudian menghadirkan takdir lain dari api, yaitu dingin dan turut membantu menyelamatkan Ibrahim as. "Hai api, jadilah dingin dan selamatkan Ibrahim." (QS al-Anbiyaa [21]: 69).
Saat itu Ibrahim-seorang hamba pilihan-Nya yang memiliki sebuah keyakinan dan kepasrahan total kepada Sang Khalik- sudah tidak memiliki daya apa pun kecuali senjata doa. Tidak lama, Allah pun kemudian menghadirkan takdir lain dari api, yaitu dingin dan turut membantu menyelamatkan Ibrahim as. "Hai api, jadilah dingin dan selamatkan Ibrahim." (QS al-Anbiyaa [21]: 69).
Kekuatan doa itu
pula yang dibuktikan oleh Nabi Musa dan para pengikutnya ketika mereka terdesak
di Laut Merah saat dikejar oleh pasukan Firaun. Hukum alam air yang tidak
mungkin terbelah dan terpisah, ternyata kala itu tidak berfungsi. Bersamaan
dengan doa, air membelah dirinya dan mempersilakan Musa dan pengikutnya lewat.
Musa pun selamat, justru Firaun dan semua pasukannya terkubur di dasar Lautan
Merah.
Allahu
akbar, doa adalah sebuah kekuatan (the power). Bahkan, dalam doa berhimpun
berbagai kekuatan untuk menghadirkan puncak harapan setiap hamba."Jika
hamba-Ku bertanya tentang Aku, sungguh Aku teramat dekat. Aku akan memenuhi
permintaanmu jika kamu memohon (berdoa) dan beriman kepada-Ku" (QS
al-Baqarah [2]: 186). [Jumat, 04 Juni 2010, 09:54 WIB].
Yahya bin
Syaifuddin An Nawawi membagi derajat manusia dalam beramal menjadi tiga yaitu;
- Amal Budak; dia melaksanakan suatu kewajiban karena takut kepada Allah, batas ketundukannya hanya menghindari murka Allah.
- Amal Saudagar; suatu perintah Allah dilaksanakan karena mengharapkan sesuatu yaitu pahala dari Allah, bila tidak ada yang diharapkan maka otomatis dia tidak akan beramal.
- Amal Orang Merdeka; ketundukannya kepada Allah sebagai bukti dan bakti kesyukuran kepada Allah, dilaksanakan karena memang perintah Allah yang wajib dilaksanakan.
Dalam sebuah
Hadits yang diriwayatkan Al Hakim, Rasulullah bersabda, ”Tiga orang yang tidak dilihat Allah dihari kiamat ialah; orang yang
durhaka kepada orangtuanya, orang yang kecanduan minuman keras dan orang yang
mengungkit-ungkit kebaikannya kepada orang lain”.
Betapa
besarnya kepentingan ikhlas dalam beramal, mengkalkulasikan kebaikan yang sudah
diberikan kepada orang lain akan menghilangkan nilai amal sehingga amal itu
tidak bermakna jadinya, ibarat fatamorgana, dikira mendapatkan pahala dalam
semua aktivitas amalnya ternyata amal-amal itu sirna pahalanya, inilah
orang-orang yang tertipu yang digambarkan oleh Imam Al Gazali.
Hujjatul
Islam,
Imam al-Ghazali pernah mengingatkan, orang yang tertipu di akhirat kelak adalah
orang yang jika berbuat baik, dia berkata, “Akan diterima amal kebaikanku”.
Jika berbuat maksiat, dia berkata:”Akan diampuni dosaku.” (Ihya Ulmuddin).
Saat beribadah,
kerap kita didatangi perasaan, “Telah banyak ibadah yang saya kerjakan”, atau
pertanyaan, “Berapa rupiah uang yang sudah saya sedekahkan”.Bahkan sering juga
hati bergumam, “Kiranya semua dosa-dosaku pasti telah diampuni, karena aku
shalat sunnah sekian kali setiap hati”.
Perasaan,
angan-angan dan pertanyaan seperti tersebut di atas bisa merusak amal perbuatan.Bahkan
bisa berakibat meremehkan (tahawun) perbuatan dosa.
Sehingga,
ibadahnya bisa menjadi sia-sia.Sebab, semangat ibadahnya bukan lagi karena
takwa kepada Allah SWT, tapi ingin jadi kaya atau ingin disebut ahli ibadah.Sebagaimana
hadis Rasulullah SAW di atas, orang seperti tersebut di atas disebut
rakus.Beribadah banyak tanpa disertai pengetahuan ancaman-ancaman Allah SWT
dalam al-Qur’an.Ancaman-Nya dianggap lalu saja.
Rasulullah SAW memberi gambaran: “Sesungguhnya
orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri di bawah
gunung, yang mana dia (sentiasa) rasa takut yang gunung itu nanti akan
menghempapnya,dan orang yang keji pula memandang dosa-dosa mereka seperti
seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang berkata : dengan hanya begini
sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan sahaja) maka dengan mudah
sahaja lalat itu terbang. “ (HR. Bukhari Muslim)
Imam al-Ghazali
mengingatkan, meremehkan dosa dan over confident terhadap amal perbuatannya
adalah sangat berbahaya.Sebab katanya, orang yang sibuk menghitung-hitung
pahala biasanya lupa terhadap banyaknya dosa.
Orang seperti
ini akan mendapatkan kekecewaan di akhirat. Ketika di dunia ia lupa
mengkalkulasi berapa banyak dosa yang telah dilakukan, sehingga dosa-dosanya
lupa dimintakan ampun kepada Allah SWT. Ia hanya sibuk mengkalkulasi jumlah
shalat, zakat, puasa dan sedekah yang dilakukan.
Ia tidak
mengetahui seberapa besar kalkulasi pahalanya jika dibanding dosanya. Maka,
saat di akhirat ia menyangka membawa pahala, padahal pahalanya berguguran
sementara dosanya menumpuk. Inilah fenomena yang disinyalir akan banyak terjadi
pada akhir zaman.
Maka dalam
beribadah kita mesti memiliki pengetahuan seimbang antara kabar baik dan
ancaman Allah SWT.Ancaman-ancaman Allah yang tersebut dalam al-Qur’an harus
menjadi perhatian kita, agar tidak terjebak di dalamnya.Sementara orang yang
hanya berfokus pada jumlah pahala (kabar baik) disebut sebagai jahil.Tidak
mengetahui bahwa setiap harinya diawasi oleh Malaikat Raqib dan ‘Atid yang mencatat
kebaikan dan keburukan.
Kita pun
terkadang terlalu ‘asyik’ melafalkan huruf demi huruf al-Qur’an, tapi lupa isi
dan pelajaran di baliknya. ‘Keasyikan’ itu menimbulkan kebanggaan hati, bahwa
ia telah melakukan amal baik – yaitu membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya.Pernahkan
terbesit di dalam hati kita kata-kata ini: “Alhamdulillah, sudah sekian kali
al-Qur’an telah aku khatamkan. Pasti aku masuk surga”.Ini kata-kata yang
menipu.Memastikan diri ini cukup berbahaya.Bisa menimbulkan ‘ujub, bahkan
melalaikan dosa.
Fenomena ini
pernah terjadi pada masa umat nabi Musa a.s, seperti tertulis dalam al-Qur’an:
“...Maka datanglah sesudah mereka, yaitu generasi yang mewarisi Taurat, yang
menghambil harta benda dunia yang rendah ini, seraya berkata: ‘Kami akan diberi
ampunan oleh Allah.’” (QS. Al-A’raf: 169). Generasi tersebut, berbuat dosa akan
tetapi merasa mereka diampuni oleh Allah.
Imam al-Ghazali
menjelaskan : “Jika kita terlena menghitung pahala tetapi dosa-dosa dilupakan.
Maka kita menjadi orang tertipu terhadap amal kita sendiri. Pada hari
penghitungan amal, kita akan terkejut. Sebab ternyata timbangan amal lebih
berat daripada pahala yang kita sangka-sangka telah menumpuk.”
Maka, jangan
kita tertipu oleh perasaan diri kita sendiri.Yang perlu kita lakukan, bukan
asyik mengkalkulasi pundi-pundi pahala.Setelah beramal, biarlah kita serahkan
kepada-Nya. Allah SWT Maha Bijaksana, Dia yang mengatur pahala kita secara
adil. Jangan pula buru-buru mengatakan “Saya telah ikhlas!”.Biasanya orang yang
terang-terangan berkata demikian justru sebaliknya, tidak ikhlas, sebab membawa
perasaan ‘ujub di hatinya.[Panji Islam,Sibuk Hitung Pahala, Malah Lupa
Beribadah ,Hidayatullah.com, Kamis, 17 Februari 2011].
Hidup di dunia yang diutamakan bukanlah lamanya kita
menjalani kehidupan ini, sebentar ataupun lama hidup di dunia bukanlah ukuran
kebaikan seseorang, yang menjadi standard baiknya hidup manusia di dunia adalah
amal-amal yang dilakukan, sabda Rasulullah, orang yang baik adalah orang yang
lama hidupnya dan banyak amalnya dan buruknya manusia adalah yang lama hidupnya
tapi buruk amalnya, wallahu a’lam [Mengkoang Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar