Selasa, 01 Desember 2015

96. Andai aku tahu Membaca Berpahala



Ayat pertama sekali turun kepada Nabi Muhammad Saw berbunyi “Iqra’” artinya bacalah, bukan perintah untuk shalat, puasa atuapun menunaikan zakat. Ayat itu dituangkan dalam suratke 96 Al Alaq ayat 1-5 yang menyatakan;
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

            Demikian pentingnya perintah membaca yang diungkapkan Allah dalam firman-Nya sehingga menunda kewajiban lainnya, dengan membaca akan menambah wawasan, memperluas ilmu dan cakrawala, meneguhkan iman serta memperbanyak ilmu pengetahuan, bahkan seorang mukmin senantiasa dituntut untuk mengkaji, meneliti, mengeksplorasi, belajar dan mengajar agar hidup lebih beradab sesuai dengan tuntunan islam.

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’ [Ali Imran 3;79].

                Membaca merupakan jalan untuk memperoleh ilmu dan meningkatkan iman serta memotivasi untuk beribadah, prilaku ini akan membuahkan peradaban, suksesnya seseorang dan jayanya sebuah ummat karena memperhatikan adabnya, kegemaran membaca  terhadap anak sebaiknya dimulai sejak dini sehingga dikala mereka sudah duduk di bangku sekolah sudah menjadi kebutuhan, orangtua harus memberikan beberapa kiat agar anaknya kelak rajin membaca yang otomatis akan menjadi sumber berbagai ilmu.

Tak ada kerugian sedikitpun atas kegemaran membaca.Dengan catatan, buku yang dibaca memberi pencerahan positif.Kenalkan dengan buku sedini mungkin, sejak anak masih bayi, bahkan ketika masih di dalam kandungan. Berdasarkan penelitian, bayi yang terbiasa diajak berkomunikasi dan dibacakan cerita (bahkan sejak di dalam kandungan) akan punya kemampuan bahasa lebih tinggi dibandingkan bayi yang didiamkan saja. Jadi, jangan tunggu sampai anak bisa membaca sendiri.

Sediakan buku-buku yang memberikan inspirasi, motivasi dan mengandung banyak faedah di rumah.Jika anak sudah punya selera soal buku, belikan yang memang diminatinya. Mungkin ia tertarik membaca karena pernah pinjam temannya. Buku mahal, tapi tak dibaca anak, tidak ada gunanya.Jadi, agar wawasan anak berkembang, tidak terpaku pada minat bacanya terhadap buku-buku tertentu, belilah dua buku, satu buku pilihan anak dan satunya tambahan pilihan Anda.

Ketika terjadi perang Salib yang berlansung puluhan tahun antara ummat Islam dan kaum Nasrani, Andalusia yang merupakan gudang ilmu pengetahuan, ribuan jumlah buku yang ditulis para ulama yang berkaitan dengan ilmu keislaman dan sain jadi sasaran untuk dihancurkan oleh kaum Salibis, mereka hancurkan dengan membakar semua buku-buku yang berkaitan dengan syariat kemudian mereka ambil buku-buku sain untuk mereka pelajari, dari itu mereka menjadi maju dari segi ilmu dan peradaban dunia mengalahkan ummat islam.

Padahal untuk punya peradaban yang baik tidak hanya memiliki ilmu sain saja tapi juga harus diikuti dengan ilmu syariat,  peradaban tanpa wahyu tidak akan bertahan lama, peradaban tanpa bimbingan Ilahi akan hancur, kehidupan akan gersang dan tidak terarah.

Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang shalih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Jika dikatakan menyebutkan, manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa, maka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih. Itu adab kepada manusia.

Adab terkait dengan iman dan ibadah dalam Islam. Adab bukan sekedar ”sopan santun”.  Jika dimaknai sopan santun, bisa-bisa ada orang yang menuduh Nabi Ibrahim a.s. sebagai orang yang tidak beradab, karena berani menyatakan kepada ayahnya, ”Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74). Bisa jadi, jika hanya berdasarkan sopan santun, tindakan mencegah kemunkaran (nahyu ’anil  munkar) akan dikatakan sebagai tindakan tidak beradab. Padahal, dalam Islam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah.Ukuran seorang beradab atau tidak ditentukan berdasarkan ukuran sopan-santun menurut manusia.Seorang yang berjilbab di kolam renang bisa dikatakan berperilaku tidak sopan, karena semua perenangnya berbikini.

Perkataan adab, menurut al Attas, memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, sebab pada awalnya perkataan adab berarti undangan ke sebuah jamuan makan,yang di dalamnya sudah terkandung ide mengenai hubungan social yang baik dan mulia. Namun adab kemudian digunakan dalam konteks yang terbatas, seperti untuk sesuatu yang merujuk pada kajian kesusastraan dan etika profesional dan kemasyarakatan. Menurut Wan Daud, filosof terkenal, Al Farabi juga mendefinisikan ta’dib sebagai aktivitas yang memproduksi suatu karakter yang bersumber dari sikap moral. Maka, sebenarnya, makna kedua istilah, ta’lim dan tarbiyah telah tercakup di dalam istilah ta’dib.  Ibnul Mubarak menyatakan: “Kita lebih memerlukan adab daripada ilmu yang banyak.”

Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada seluruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor:  ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”

Sikap boros dalam menggunakan kekayaan negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin dan dapat berakibat pada pencopotan dari jabatannya.[Diringkas dari  tulisan Adian Husaini, Belajarlah, Agar Beradab! , Hidayatullah.com.Senin, 03 Mei 2010 04:47].

Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu  tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Di Cina pada masa itu kebudayaan telah maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga layak bila ummat islam belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan Cina dapa dicatat diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai alat penting dalam mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah untuk belajar membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina berhasil menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun Cina telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana. Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin, sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain sebagainya, hal itu semua diawali dari aktivitas membaca, dengan membaca menjadikan orang berilmu dan beradab sehingga memperoleh kemajuan dan peradaban lebih maju dari orang yang enggan belajar dan tidak mau membaca. Rasulullah bersabda; "Barangsiapa yang ingin kebahagiaan hidup di dunia maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di akherat maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di dunia dan di akherat maka raihlah dengan ilmu".

Rasulullah bersabda; "Sendi tegaknya dunia ada empat; ilmunya para ulama, keadilan pemerintah, dermawannya orang kaya dan do'anya orang fakir.Niscaya kalau bukan karena ilmunya para ulama maka rusaklah orang-orang yang bodoh, kalau tidak karena kedermawanan orang kaya niscaya lenyapnya orang fakir, kalau tidak karena keadilan pemerintah niscaya orang akan saling tindas menindas sebagai Srigala makan kambing".

Kemajuan peradaban karena membaca dan belajar akan meningkatkan kualitas suatu bangsa, diantaranya terlihat dari semakin baiknya sarana belajar yang disediakan, kalaulah dahulu Rasulullah diperintahkan membaca melalui tuntunan dari Malaikat Jibril yang kemudian oleh para sahabat ditulis pada pelepah kurma, kulit-kulit binatang yang sudah dikeringkan dan pada batu-batu yang dapat digunakan untuk menulis, dari lembaran-lembaran itu dikumpulkan menjadi sebuah kitab atau buku. Hasil bacaan atau yang kemudian menjadi sumber ilmu itu disebut dengan buku, selayaknya dijaga dengan baik keutuhannya melalui penjagaan oleh pemiliknya.

            Cara menjaga dan menghormati buku itu adalah menatanya dengan baik sehingga dikala dibutuhkan mudah mencarinya, membawanya dengan sikap baik tidak sebagaimana membawa barang lain yang terkesan dilecehkan, begitu juga halnya agar ilmu itu tersimpan rapi dalam buku yang ditulis oleh murid dari transfer ilmu sang guru maka harus ditulis dengan tulisan yang jelas sehingga mudah dan enak dibaca.

            Al Qur'an adalah Kitab yang mengandung banyak ilmu di dalamnya, merupakan wahyu Allah yang harus dijaga oleh ummatnya dengan jalan membacanya, mempelajarinya dan mengamalkannya, walaupun sebenarnya Allah sendiri menjaga Kitab ini “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya “ [Al Hijr 15;9].

            Secara tersurat atau tertulis Allah telah mewahyukan kepada Nabi Muhammad Al Qur’an sebagai pelajaran, di dalamnya banyak terdapat pelajaran berharga bagi ummat untuk diambil hikmahnya sebagai bahan renungan dalam kehidupan, diantara pelajaran yang dapat dibaca diantaranya adalah kehancuaran ummat-ummat terdahulu yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya serta pelajaran tentang terjadinya bencana.

Seperti digambarkan dalam Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang merupakan petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah Allah Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan hidupnya.Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5)
Tentu, yang pertama dilaknat oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal usul.Inilah yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti jejak Iblis, yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran keimanan dan ketakwaannya.Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena sikapnya yang sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13)

Makhluk yang diciptakan oleh Allah, yang terkena perintah harus meninggalkan surga, adalah Adam As, yang terkena bujukan dan kemudian memakan buah yang dilarang oleh Allah, yaitu buah kuldi. Adam As, lalai atas larangan itu, dan terbujuk dengan bisikan Iblis, dan kemudian melanggar perintah Allh. Adam As, merupakan makhluk pertama yang diciptakan yang melanggar perintah Allah, karena terkena fitnah Iblis, dan kemudian diusir dari surga. (QS. Al-A’raf : 20, 22).

Selanjutnya, kisah Nabi Nuh As, mengaja umat untuk beriman, tetapi ajakannya ditentang dengan keras, bahkan beliau dituduh sesat oleh para pemimpin kaumnyaitu. Dakwah yang dilangsungkan Nabi Nuh As, yang berlangsung selama hampir 90 tahun, gagal, dan terus mendapatkan penolakan dari kaumnya, sampailah datang datang azab dari berupa datangnya air bah (tsunami), yang menghancurkan seluruh kaumnya. (QS. Al-A’raf : 59, 60, 64).

Kaum Nabi Hud As, yang dikenal dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat, datangnya angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh tanaman mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang dikiran akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71).

Kisah berikutnya, kaumnya Nabi Saleh As, yaitu kaum Samud, yang menyembah agama Allah, dan dilarang menyakiti unta betina, tetapi perintah dan larangan itu, semuanya dilanggar oleh kaumnya Nabi Saleh As, yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat, sehingga kaum Samud luluh lantak.[Mashadi, Belajarlah Dari Kehancuran Kaum Terdahulu, Eramuslim.com.Senin, 16/08/2010 14:02 WIB].

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari membaca, apakah membaca yang tersurat pada tulisan atau membaca kejadian yang ada di alam ini, sehingga pendapat mengatakan,”alam terkembang jadi guru’’ artinya banyak hal yang dapat dipetik dari peristiwa alam bila kita pandai membacanya.

Gejala-gejala alam seperti gempa bumi, banjir, dan tsunami diartikan sebagian besar oleh kita sebagai petaka. Musibah atau petaka diibaratkan sebagai tamu yang kehadirannya sama sekali tidak pernah diharapkan. Dalam Aquran kita temukan banyak ayat yang membicarakan fenomena alam seperti itu.

Di antaranya, ayat-ayat yang bercerita perihal hari kiamat. Seperti firman Allah dalam QS al-Zalzalah [99]: 1-2, "Apabila bumi itu diguncang dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi juga pada waktu itu mengeluarkan segala apa yang ada di dalamnya." Ayat tersebut secara umum menceritakan ada dan betapa dahsyatnya gempa bumi yang terjadi di penghujung hari akhir nanti, di samping juga mengabarkan kepada kita bahwa gempa ituterjadi karena kuasa-Nya.

Bencana yang tidak kalah dahsyatnya selain gempa bumi adalah tsunami. Dalam Alquran telah diceritakan bahwa petaka ini telah menimpa kaum Nabi Nuh AS dengan bentuk banjir air bah yang sangat besar. Hal itu terjadi tatkala umatnya telah berperilaku melampaui batas dan tidak mau mengikuti apa yang telah Allah ajarkan melalui nabi-Nya.

Bila kita kembalikan kepada kehidupan kita sekarang ini, petaka atau musibah yang terjadi sering kali membuat kita takut dan menimbulkan kegelisahan yang berlebihan.Bahkan, melahirkan suatu penyakit yang membuat kita lupa bahwa itu semua terjadi karena izin dan kehendak Allah SWT.

Musibah, apa pun bentuknya, itu adalah ujian bagi orang-orang beriman yang datang dari Allah. Sejauh mana seorang hamba mampu bersabar hidup pascaterjadinya bencana. Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah [2]: 155, "Sungguh kami (Allah) akan benar-benar menguji kamu dengan sesuatu yang berupa ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dari harta benda, kehilangan jiwa (orang yang kamu sayang), dan buah-buahan dan kabar gembiralah bagi orang-orang yang sabar."

Namun, musibah ini tentunya berbeda bagi orang-orang yang ingkar dan kerap melakukan maksiat kepada Allah.Musibah bagi mereka adalah teguran sekaligus azab sebagai wujud kezaliman yang telah mereka lakukan.Karena kefasikan itulah Allah mengazab mereka. Hal ini dipertegas oleh firman Allah SWT dalam QS al-Isra [17]: 16, "Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila merajalela dan melakukan kedurhakaan (di negeri itu), maka berlakulah perkataan (hukuman) kami, kemudian kami benar-benar binasakan negeri itu."

Cepat tanggap dalam menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan adalah penting, apalagi jika itu berkaitan dengan musibah atau bencana yang menelan banyak korban.Pada saat itulah nurani kita sebagai manusia dipanggil untuk berbagi dan ikut merasakan penderitaan saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Tidak sekadar menonton pilunya tangisan mereka, tetapi kita mesti mampu membaca pesan yang tersirat di balik bencana.[Arsyad Abrar, Hikmah: Membaca Bencana, Republika.co.id. Jumat, 18 Maret 2011, 06:31 WIB].

Kalaulah ummat islam menjadikan perintah pertama yaitu “Iqra” sebagai sebuah kewajiban mutlak pada diri dan keluarga hingga bangsa dan ummat ini maka banyak pengetahuan yang akan diraihnya, tidak sedikit ilmu dan keahlian yang dikuasai dan tidak sulit lagi para da’i mendakwahkan islam ini kepada mereka karena sebagian besar ummat ini sudah berilmu, prihal ummat islam hari ini adalah masalah ilmu karena tidak mau membaca dan enggan belajar, lihatlah kenapa mereka tidak mau menjalan agama, tidak shalat dan puasa, tidak mau meninggalkan maksiat dan dosa, melakukan syirik, bid’ah, kurafat dan tahyul, semuanya karena ummat ini tidak mau membaca, tidak mau belajar sehingga ilmu agama yang dimiliki sangat minim, sebuah ungkapan ada yang mengatakan,”bila anda membaca maka menulislah dan bila anda menulis maka membacalah”, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 24 Juli 2011.M/22 Sya’ban 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar