Shalat merupakan ibadah wajib dalam ajaran Islam yang
dilakukan sehari semalam lima waktu dengan tata cara tertentu, shalat merupakan
upaya yang mampu menahan seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Dengan shalat
seseorang mendekatkan diri kepada Allah membina hubungan vertikal juga memupuk
hubungan herizontal antara manusia. Pada
satu segi shalat mendatangkan kecelakaan bagi pelaksananya karena tidak melaksanakan
dengan baik sesuai dengan aturan yang ditentukan Allah, sebagaimana dijelaskan
dalam surat Al Maun ayat 4-5, ”Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari
shalatnya”.
Shalat seseorang dapat dikatakan celaka karena shalatnya
lalai dalam waktu, misalnya shalat zhuhurnya dilakukan ketika waktu ashar akan
tiba, atau shalat asharnya dilakukan ketika waktu shalat maghrib akan tiba,
begitupun dengan shalat-shalat wajib lainnya yang dilaksanakan dengan mengundur-undur waktunya.
Dengan
shalat seseorang mendekatkan diri kepada Allah membina hubungan vertikal juga
memupuk hubungan herizontal antara manusia.
Adapun
kedudukan shalat dalam islam adalah;
1.Tiang Agama
Shalat merupakan tiang agama, ibarat tiang pada sebuah bangunan maka
bangunan itu tidak akan tegak, tiang sangat penting untuk bersandarnya bangunan
lain, dengan tiang jelas posisi sebuah arah, Rasulullah bersabda; "Pokok
urusan adalah islam, sedangkan tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah
berjuang dijalan Allah".
Dalam hadits lain Nabi Muhammad menyatakan bahwa shala itu tiang agama,
barangsiapa yang menegakkan shalat berarti dia menegakkan agama dan barangsiapa
yang meninggalkan shalat maka dia telah merubuhkan agama.
2.Ibadah Yang
Pertama Kali diwajibkan
Dari sekian ibadah yang diwajibkan Allah maka shalat merupakan amalan yang
pertama sekali diwajibkan oleh Allah ketika nabi Muhammad melaksanakan perjalan Isra' dan Mi'raj bahkan menurut
sejarah awalnya kewajiban itu sebanyak lima puluh kali shalat sehari semalam.
Menurut sejarah dikabarkan, ketika Nabi Muhammad Saw
melakukan Isra' Mi'raj, beliau menerima wahyu
untuk melaksanakan shalat lima puluh kali sehari semalam, disaat bertemu
dengan para nabi tidak ada yang menanyakan kecuali nabi Musa saat berada di
langit ke enam, terjadilah dialog;
Musa ; Apa yang diperintahkan Allah
kepadamuMuhammad ?
Muhammad ; Sayadiperintahkanshalatlimapuluh kali
seharisemalam.
Musa ;Ummatengkautidakakansanggupmelakukanshalatsebanyakitu,demi
Allah akutelahberpengalaman, kembalilahkeatasmintakeringanankepada Allah.
NabiMuhamamdkembalimenghadap
Allah memintakeringanan, tapinabi Musa
menyuruhkembalimemintakeringananpadahalhanyatinggallima kali
sajalagishalatseharisemalam, akhirnyanabi Muhammad menjawab; "Akutelahmohonkeringanankepada
Allah sehinggaakumerasamalu, tetapiakurelamenerimanyadenganbaik".
3.Amalan Yang
Mula-mula Dihisab
Shalat
sangat istimewa sekali bagi seorang muslim karena ketika di akherat yang pertama
kali diperiksa adalah shalat bukan amalan-amalan besar lainnya bahkan shalat
menjadi ukuran untuk baiknya amalan lain bila shalatnya sudah baik, Rasulullah
bersabda; "Amalan yang mula-mula dihisab dari seseorang hamba pada hari
kiamat ialah shalat, jika ia baik maka baiklah seluruh amalannya, jika buruk
maka buruklah semua amalannya".[HR. Thabrani].
4.Wasiat Terakhir
Nabi Muhammad
Ketika ajal
hampir datang, Rasul tidak mampu lagi memimpin shalat sehingga diserahkan
kepada Abu Bakar, ini sebagai simbul bahwa kelak Abu Bakar yang akan memimpin
ummat ini. Dengan berat hati Abu Bakar memimpin shalat berjamaah saat
Rasulullah dalam keadaan sakit. Suatu ajaran kepada kita, bila sebagai
pimpinan, pimpinan apa saja, bila sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugas,
lebih banyak uzurnya dari pada hadirnya maka serahkanlah tugas itu kepada kader
yang telah dipersiapkan.
Sebelum
wafat, nabi Muhammad berpesan,"Tiga hal yang dapat menyebabkan rusaknya
seseorang; memperturutkan hawa nafsu, kikir yang diperturutkan dan kagum pada
diri sendiri". Sehari sebelum wafat nabi berpesan,"As shalah, annisa
dan ummati". Agar ummat ini menjaga shalat, menjaga wanita dan ummat
islam". Begitu pentingnya shalat sehingga dipesankan oleh Rasulullah agar
ummat ini tidak meninggalkan shalat dengan alasan apapun kecuali mati.
Wafatnya
Nabi Muhammad membuat Umar bin Khattab tidak yakin, hal itu karena ujudnya
kepada Rasulullah. Sesampai dia di rumah Nabi, dia melihat orang banyak
berkumpul dan membicarakan kematian Rasul, dengan suara lantang sambil
menghunuskan pedang dia berkata,"Siapa yang mengatakan Muhammad telah
meninggal maka akan berhadapan denganku,
Muhammad tidak meninggal, dia hanya menghadap Allah sebagaimana Musa dahulu
pergi ke Tursina untuk bertemu Allah". Semua yang mendengar hanya diam
tidak mampu meredakan kemarahan dan kekecewaan Umar.
Datanglah
ketika itu Abu Bakar Ash Shidik untuk memberi kebenaran kepada Umar hingga dia
menyadari bahwa Nabi Muhammad memang telah wafat, Muhammad adalah makhluk Allah
yang juga merasakan maut atau kematian, jangankan kematian sedangkan kena panah dan tombak saja berlumuran darah muka beliau
dalam perang Uhud sehingga lepas gerahamnya.
5.Barang Terakhir Yang Lenyap Dari Agama
Sejak diturunkannya ajaran Islam melalui malaikat Jibril kepada Nabi
Muhammad dengan segala aturan yang komplit mencakup seluruh asfek kehidupan,
shalat merupakan perintah pertama yang diwajibkan Allah untuk melaksanakannya
dalam sehari semalam hanya lima waktu, yang sunnah bisa ditambah dengan shalat
sunnah rawatib, tahajud, dhuha dan lainnya.
Kelak suatu masa
seluruh ajaran islam itu akan hilang dari kehidupan manusia karena
kekafiran dan kefasikan ummat ini, ketika itu hidup penuh dengan gelimang dosa
dan maksiat, yang terakhir hilang dari
kehidupan manusai itu adalah shalat, masih ada orang mau menegakkan shalat
sementara ajaran islam yang lain sudah lenyap, sebagaimana sabda Rasulullah; "Sungguh,
ikatan agama islam itu akan terurai satu demi satu, maka setiap terurai satu,
orangpun bergantung pada buhul berikutnya, buhul yang pertama lepas adalah
menegakkan hukum, sedangkan yang terakhir adalah shalat"[Ibnu Hibban].
6.Alat Untuk
Memperbaiki Diri
Shalat adalah salah satu media untuk memperbaiki diri
manusia, dalam hikmah shalat dapat dikatakan bahwa orang yang shalat tidak akan
menyia-nyiakan waktu karena dia terikat oleh waktu-waktu shalat yang harus
segera ditunaikan, sebelum berangkat dia sudah dapat memperkirakan dimana nanti
shalatnya, orang yang shalat sebelumnya
harus membersihkan badan, pakaian dan tempat shalat yang diawali dengan wudhu
terlebih dahulu, orang yang melaksanakan shalat akan nampak tanda bekas sujud
di wajahnya, begitupun dalam pribadinya ada perubahan ke arah kebaikan dalam
tindak dan prilakunya sehari-hari, orang yang shalat akan tercegah dari
perbuatan jahat, hatinya tidak akan tergerak untuk melakukan kejahatan, bila
shalat dilakukan, sementara diikuti pula dengan kejahatan berarti orang
tersebut shalatnya tidak membekas. Dalam surat Al Ankabut 29;45, Allah Swt berfirman, “Bacalahapa yang
telahdiwahyukankepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dandirikanlahshalat.
Sesungguhnyashalatitumencegahdari (perbuatan- perbuatan)
kejidanmungkar.danSesungguhnyamengingat Allah (shalat) adalahlebihbesar
(keutamaannyadariibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahuiapa yang kamukerjakan.
Demikian pentingnya kedudukan shalat bagi seorang muslim
sehingga tidak boleh meremehkan kewajiban ini sedikitpun karena disamping
mengandung hal-hal positif ketika dikejakan tapi juga mendapatkan hal-hal
negatif kalau kita meninggalkan shalat, ada beberapa ibarat yang dapat
dikemukakan yaitu;
Pada suatu hari ada seseorang sakit, lalu dia berobat
pada seorang tabib, tabib menyarankan agar diberi obat dari "Air Kencing
Syaitan". Untuk menemkan kencing syaitan ini orang merasa kesulitan, lalu
dia bertanya kepada Rasulullah, maka Rasul memberi jalan keluar
yaitu,"Ambillah air hujan yang mengucur dari atap rumah seseorang yang tidak shalat, maka
itu sama artinya air kencing syaitan".
Suatu hari hujan turun sangat lebat sehingga mendatangkan
banjir, dari kejauhan nampak oleh Ali bin Abi Thalib dua bangkai yang hanyut
yaitu bangkai anjing dan bangkai manusia. Ali berusaha menyelamatkan bangkai
manusia tadi tapi dicegah oleh Rasul dan bersabda,"Kau selamatkanlah
bangkai anjing itu dan biarkan bangkai manusia ini", Ali
bertanya,"Kenapa ya Rasulullah dibiarkan bangkai manusia itu?". Nabi menjawab,
"Bangkai manusia adalah orang yang tidak shalat". Artinya bangkai
anjing lebih berharga daripada bangkai manusia yang tidak shalat.
Dalam satu hadits Rasulullah bersabda, ”Dari Amer bin Syuaib dari bapaknya, dari kakeknya, ia
berkata, telah berkata Rasulullah Saw, perintahkanlah anak-anakmu untuk
mendirikan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun dan pukullah mereka
bila belum mau shalat dikala berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tidur
diantara mereka sejak berumur sepuluh tahun”[HR.Abu Daud].
Hadits di atas memerintahkan bahwa anak umur sepuluh
tahun yang belum mau mengamalkan shalat
harus dipukul. Pukulan itu adalah sebagai sangsi atau hukuman. Ini bukannya
tindakan kejam, karena menurut penjelasan ahli agama, hukuman pukulan bagi anak
tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali dengan alat pemukul kecil yang tidak
menyakitkan sehingga tidak membawa penderitaan fisik bagi si anak. Lagi pula,
sebelum hukuman pukul itu dilaksanakan, hendaklah telah dipergunakan segala
cara dan taktik bagaimana agar si anak mau shalat. Ia diberi kesempatan untuk
memperbaiki kesalahannya itu, sehingga cara-cara yang keras dari orangtua
dihindari dulu.
Maka orangtua hendaknya menjalankan segala siasat untuk
membiasakan anaknya mengamalkan semua adat istiadat baik yang sesuaii dengan
ajaran agama. Juga kewajiban-kewajiban dari agama yang telah patut
diamalkannya. Segala siasat, artinya dengan nasehat, perangsang, motivasi, dorongan,
pujian. Semuanya sebagai upaya agar anak mau berbuat baik dan meninggalkan
perbuatan jelek. Sebaliknya, cara menakut-nakuti, ancaman, celaan dan gertakan
semuanya itu bisa digunakan bilamana perlu. Tentu saja semuanya itu
dilaksanakan oleh orangtua setelah memahami segala sifat-sifat dan watak
sianak, sehingga tindakan orangtua bisa disesuaikan dengan kondisi pribadi dan
perkembangan jiwa anak.
Dalam memukul anak, janganlah dipukul pada tempat yang
berbahaya dari tubuhnya sehingga berakibat fatal bagi anak. Namun jarang kita
mendengar ada orangtua memukul anaknya karena anak tersebut tidak melaksanakan
shalat. Bahkan sebaliknya banyak orangtua muslim yang tenang-tenang saja
melihat keadaan anaknya tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu dan tidak
bisa membaca Al Qur’an. Tetapi ia merasa gelisah kalau anaknya tidak bisa
berbahasa asing, tidak bisa menggunakan komputer atau tidak menguasai salah satu alat musik.
Sering kita mendengar orangtua yang memukul anaknya tanpa
didasari jiwa agama tapi didorong oleh ambisi pribadi seperti anak gagal dalam
kompetisi olahraga di sekolah, raport
anak nilainya rendah atau anak tidak sanggup meraih sesuatu yang
diidam-idamkannya. Melaksanakan shalat sebagaimana firman Allah dalam surat An
Nisa’ 4;103 disebutkan bahwa waktu-waktu
shalat tersebut sudah ditentukan sedemikian rupa, walaupun ummat islam terutama
orangtua tahu waktu shalat berdasar kebiasaan yang ada hanya dijadikan sebagai
waktu saja bukan untuk mendirikan shalat apalagi mengajak anaknya.
Ketika adzan subuh bergema anak harus bangun, pertanda
hari sudah siang, lalu mandi, sarapan pagi dan berangkat ke sekolah. Zhuhurpun
datang waktunya anak untuk pulang sekolah, makan siang lalu tidur atau
disibukkan dengan kegiatan lain. Saat ashar datang orangtua sibuk memanggil
anaknya agar cepat mandi dan ganti pakaian. Maghribpun terdengar saat anak
harus masuk rumah dan tidak boleh berkeliaran di luar. Bila isya datang
anak-anak diperintahkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah lalu
cuci kaki dan tidur.
Kecelakaan bagi yang
mengerjakan shalat diakibatkan kurangnya
konsentrasi, artinya hatinya senantiasa dihantui dan dikacaukan dengan berbagai
urusan dunia yang fana ini. Shahun asal kata dari lupa sesuai dengan surat Al
Ma’un, ada tiga kelupaan yang dilakukan orang yang shalat sehubungan dengan
arti shahun yaitu;
- Shahun Qablaha, yaitu lupa sebelum melakukan shalat, artinya ia sudah lupa dengan shalatnya sebelum takbir dimulai, fisiknya siap untuk shalat tapi hatinya masih berada di seberang.
- Shahun Fiha, yaitu ketika shalat dimulai dia lupa dengan shalatnya yang teringat adalah segala pekerjaan yang ditinggalkan, sehingga tidak tahu lagi apa yang harus dibaca dan jumlah rakaatnya.
- Shahun Ba’daha, suatu pengertian orang lupa setelah shalat dilaksanakan, begitu salam diucapkan lansung saja bangkit tanpa zikir dan berdo’a walaupun sejenak, seolah-olah dia tidak mengerjakan shalat.
Dari ketiga kriteria di atas rasanya lebih baik shahun
qablaha, bila dia lansung sadar untuk membenahi niatnya kembali atau shahun
ba’daha, dikatakan masih lebih baik karena shalat telah selesai, konsentrasinya
pada shalat telah usai bersamaan usainya shalat, dari pada lalai dalam shalat.
Walaupun demikian kesempurnaan shalat harus djaga demi kebaikan shalat agar tidak
termasuk dalam golongan shahun yaitu lupa. Orang yang shalat dengan baik akan
membekas pada prilakunya sehari-hari dengan pengaruh positif sebagai berikut;
- Menanamkan Sifat Disiplin
Orang yang
shalat tidak akan menyia-nyiakan waktu karena dia terikat oleh waktu-waktu
shalat yang harus segera ditunaikan, sebelum berangkat dia sudah dapat
memperkirakan dimana nanti shalatnya, andaikata tdak ada waktu karena
perjalanan yang jauh dia siap dengan shalat jamak/ qasharnya, demikian pula
dalam bertamu dia akan memilih waktu yang tidak mengganggu ketenangan tuan
rumah dalam shalat karena kedatangannya.
- Cinta Kebersihan
Orang yang
shalat sebelumnya harus membersihkan badan, pakaian dan tempat shalat yang
diawali dengan wudhu terlebih dahulu, orang islam harus mandi paling sedikit
sekali dalam sehari. Melalui wudhu dapat menghilangkan dosa dan noda
sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Muslim, bahwa muka yang dicuci
ketika wudhu akan keluar dari padanya dosa dari memandang, kedua tangan yang
dicuci akan mengeluarkan dosa yang dilakukan tangan, kedua kaki yang disiram
dengan bersh akan keluar dosa yang dilakukan oleh kaki.
- Air Muka Jernih
Dua orang yang
sama-sama putih kulitnya, yang satu shalat sedangkan yang satunya tidak, maka
akan nampak berbeda kejernihan mukanya masing-masing. Bahkan orang yang
berkulit hitampun nampak jernih dibandingkan orang berkulit putih yang tidak
shalat, di akherat nanti bekas whudu akan memancar sebagaimana difirmankan
Allah dalam surat Al Hadid ayat 12, ”Yaitu
pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang
cahaya mereka bersinar dihadapan dan di sebelah kanan mereka, dikatakan kepada
mereka, ”Pada hari ini ada berita gembira untukmu, yaitu syurga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan
yang besar”.
- Ada Bekas Sujud di Mukanya
Orang yang
melaksanakan shalat akan nampak tanda bekas sujud di wajahnya, begitupun dalam
pribadinya ada perubahan ke arah kebaikan dalam tindak dan prilakunya
sehari-hari, seperti kesabarannya kian bertambah, demikan pula ketabahan dan
kerendahan hatinya. Allah berfrman dalam surat Ma’arij; 19-23 ,”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat
keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan
apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang shalat,
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya”.
- Mencetak Kedermawanan
Akhir shalat
dengan ucapan salam ke kiri dan salam ke kanan, secara hakekatnya salam ke
kanan memperhatikan nasib ummat islam di sebelah kanan dengan do’a selamat,
salam ke kiri dengan simbul memperhatkan nasib ummat di sebelah kiri.
Tidaklah layak
orang yang shalat dengan segala kemegahan dan kekayaan yang ada, sementara
ummat islam kiri kanannya dalam keadaan kelaparan dan kepapaan. Ucapan salam
saja tidak akan mampu merubah nasib mereka tanpa ada uluran tangan untuk
membantu meringankan beban mereka.
- Takut Berbuat Dosa
Orang yang
shalat akan tercegah dari perbuatan jahat, hatinya tidak akan tergerak untuk
melakukan kejahatan, bila shalat dilakukan, sementara diikuti pula dengan
kejahatan berarti orang tersebut shalatnya tidak membekas. Dalam surat Al Ankabut
ayat 45, Allah Swt berfirman, ”Sesungguhnya
shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar”.
- Membela Islam
Ibadah shalat
membentuk jiwa cinta kepada islam dengan konsekwensinya rela membela islam
dengan lisan, kekuasaan, harta benda maupun fisik dengan kemampuan
masing-masing. Rasulullah Saw pernah meramalkan bahwa nanti ajaran islam yang
pertama kali di dunia yaitu shalat, bila orang tidak shalat mustahil dia akan
menegakkan hukum islam yang lain, karena shalat merupakan tiang dari agama,
begtu tiang hancur maka bangunan yang lain ikut roboh.
- Selalu Ingat Kepada Allah
Dengan shalat
berart mengadakan hubungan vertikal kepada Khaliq [Allah Maha Pencipta] dengan
segala kerendahan hati bermunajat dengan permohonan dan ampunan. Banyak orang
yang meninggalkan shalat lalu hdupnya diliputi
oleh kehancuran karena Allah telah menjanjikan, ”Ingatlah Aku, maka Aku
akan ingat kepadamu, berdo’alah kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan”, Allah Swt
berfirman dalam surat Thaha ayat 14, ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak
ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan drikanlah shalat untuk
mengingat-Ku”.
Dan dalam
surat Ar Ra’du ayat 28 Allah Swt berfirman, ”Yaitu
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat
Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”.
Shalat disamping sebagai
sarana ibadah bagi orang islam dia juga ciri dan pembeda dengan orang lain.
Rasululllah Saw pernah bersabda bahwa yang membedakan orang islam dengan orang
kafir adalah shalat. [Cubadak Solok, 15 Ramadhan 1431.H/ 25 Agustus 2010.M]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar