Rabu, 02 Desember 2015

114. Andai aku tahu Belajar Berpahala



Sepanjang sejarah kehidupan manusia maka sepanjang itu pula manusia akan menerima pengetahuan dari berbagai peristiwa yang dilaluinya, proses belajar akan terus berlanjut hingga berakhirnya kehidupan ini bahkan alam yang terkembang ini dapat dijadikan sebagai guru bagi manusia. Banyak pelajaran berharga yang sudah akan dipetik manusia sebagai ibrah untuk mendewasakan kepribadian manusia, segala peristiwa yang dilalui dapat dijadikan sebagai pembelajaran, sungguh beruntung orang yang selalu mau belajar dan merugilah orang yang lalai dalam belajar apalagi enggan untuk belajar.

            Dengan belajar kita akan mendapat ilmu dan pengetahuan yang akan memudahkan hidup bagi pemiliknya, sebagaimana yang diungkapkan oleh pepatah kita,”Dengan seni hidup akan indah dengan ilmu hidup akan mudah”. Dengan belajar maka hidup juga akan beradab, jauh dari sikap-sikap yang dapat mencelakakan diri sendiri apalagi merusak  orang lain. Dengan belajar dijadikan Allah setentang dengan orang-orang yang beriman untuk mendapatkan derajat yang tinggi, dengan belajar maka akan diperoleh ilmu pengetahuan bagi pelakunya yang berguna bagi orang lain.

Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya.Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab.Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingatkan, orang yang mecari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu.  Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a.  yang menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.”  Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang  pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjid ku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”

Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal.Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Sebab, dengan mengenal dan berzikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang.
Maka, belajarlah ilmu yang benar! Belajarlah dengan niat yang benar! Jadilah manusia yang adil dan beradab! Ingatlah, nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya:”Wahai anakku, janganlah kamu menserikatkan Allah, sesungguhnya syirik adalah   kezaliman yang besar.” (QS 31:13) (Republika Online, Adian Husaini, Belajarlah agar beradab,Senin, 03 Mei 2010 04:47 ).

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, "Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu  tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Bahkan Surat dan ayat pertama kali turun kepada nabi Muhammad Saw melalui Jibril yaitu perintah membaca [Al 'Alaq 96;1-5]
1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam ayat ini terkandung makna agar ummat islam membaca apa yang tersurat, tersirat dan tersuruk di muka bumi ini sebagai modal dalam kehidupan. Dengan membaca akan diketahui apa yang belum diketahui, dengan pemahaman akan dapat diungkapkan apa yang tersirat dalam ayat melalui pengkajian, penelitian, percobaan maka akan terbongkar semua dan segala rahasia yang selama ini tersuruk baik dalam bumi maupun di angkasa raya. Jadi makna baca bukan sekedar membaca yang tersurat saja tapi pengertiannya sangat luas dan dalam yaitu membaca segala yang ada di dalam bahkan di luar orbit alam ini.        
              Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” . Di zaman dahulu ada seseorang yang lehernya cacat, dan ia selalu menjadi bahan ejekan dan tertawaan. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.” Sejak itulah, orang itu belajar ilmu syar’i hingga ia menjadi orang alim, sehingga ia diangkat menjadi Qadhi (Hakim) di Makkah selama 20 (dua puluh) tahun. Apabila ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, maka gemetarlah tubuhnya hingga ia berdiri. Orang yang berilmu dan mengamalkannya, maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat. Allah pun telah berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salaam. “...Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki, dan diatas setiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” .Disebutkan bahwa tafsir ayat di atas adalah bahwasanya Kami (Allah) mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki dengan sebab ilmu.

              Menuntut ilmu  atau belajar adalah jalan yang lurus untuk dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, Tauhid dan syirik, Sunnah dan bid’ah, yang ma’ruf dan yang munkar, dan antara yang bermanfaat dan yang membahayakan. Menuntut ilmu akan menambah hidayah serta membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Seorang Muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan mengamalkannya.Pernyataannya harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam.Karena itulah.Kewajiban menuntut ilmu ini mencakup seluruh individu Muslim dan Muslimah, baik dia sebagai orang tua, anak, karyawan, dosen, Doktor, Profesor, dan yang lainnya. Yaitu mereka wajib mengetahui ilmu yang berkaitan dengan muamalah mereka dengan Rabb-nya, baik tentang Tauhid, rukun Islam, rukun Iman, akhlak, adab, dan mu’amalah dengan makhluk.

         Kejadian alam yang nampak oleh manusia sejak dari kejadian terciptanya alam raya ini, adanya manusia, terjadinya bencana dan musibah semuanya harus pandai disikapi  untuk dipetik pelajaran berharga dari semua peristiwa.

Bumi ini sangat rentan terkena guncangan bencana, angin topan, gunung meletus, badai, tsunami, hujan, dan sebagainya yang bisa datang menyerang kapan pun, kepada siapa pun, dan di manapun.Bencana-bencana tersebut bukan untuk dilawan, melainkan untuk diambil hikmah dan pelajarannya.

Sekalipun teknologi dan peradaban sudah maju pesatnya, namun tak bisa menolak datangnya bencana.Bencana memang bisa diprediksi, sebagaimana tsunami yang baru saja terjadi di Jepang, namun tak bisa diperkirakan kapan tepatnya datang bencana tersebut.

Bumi ini memang sengaja diciptakan oleh Allah untuk manusia.Kemudian, Allah hendak menguji setiap penghuni bumi dengan berbagai ujian dalam berbagai bentuk dan macamnya dengan maksud untuk mengetahui seberapa dalam keimanan dan ketakwaannya."Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya (Singgasana-Nya) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Huud [11] : 7).

Cobaan dan ujian terhadap keimanan manusia itu sangat bermacam-macam bentuknya. Di balik ujian tersebut terselip pesan yang ingin disampaikan yakni supaya manusia sadar akan kemahakuasaan Allah atas segenap isi di bumi ini. Dan segala penciptaan-Nya itu niscaya akan kembali kepada-Nya kelak."Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati; Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS al-Anbiyaa', [21] : 35), Allah mengatakan bahwa Dia menguji manusia baik melalui kejadian-kejadian yang baik maupun buruk.
Banyaknya orang yang menjadi korban bencana merupakan teka-teki ujian itu.Manusia harus selalu ingat bahwa Allah adalah Hakim Yang Mahatahu dan "diberi keputusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil." (QS az-Zumar, [39] : 75).

Manusia harus mampu mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian ini. Sesungguhnya, Allah tidak menciptakan apa pun tanpa tujuan; setiap bencana merupakan peringatan bagi umat manusia, dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari pembangkangan mereka. Dalam Alquran, Allah berfirman bahwa tak ada yang terjadi di muka bumi ini tanpa izin-Nya: "Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS at-Taghaabun, [64] : 11).

Pelajaran lain yang harus diambil dari bencana alam adalah bahwa manusia yang menganggap dirinya memiliki kekuatan di atas muka bumi, menyadari bahwa ia sesungguhnya lemah dan benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk mengatasi bencana yang terjadi dengan seketika atas kehendak Allah. Manusia tak dapat menolong dirinya sendiri ataupun orang lain. Tentu saja Allahlah yang Mahakuasa. Ini dinyatakan dalam ayat berikut:  "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Menguasai atas segala sesuatu." (QS al-An'aam, [6] : 17) [Republika Online, Yuyu Yuhanna, Pelajaran dari Bencana Kamis, 07 April 2011 08:26 WIB].

Bahkan modal hidup di dunia ini bukan hanya iman dan amal saja, ilmu merupakan bekal yang tidak kalah pentingnya, dengan ilmu yang telah dituntut melalui belajar dari sekian pengalaman dan guru menjadikan orang semakin kuat iman dan semakin banyak amalnya dan semakin baik akhlaknya.

Seseorang mungkin saja memiliki iman yang kuat bak kuatnya karang di tengah lautan, amalnya banyak, akhlaknya juga terpuji tapi tidak berilmu maka kehidupannya akan senjang. Islam mengharapkan pemeluknya agar mencari ilmu yang baik untuk kehidupan akherat maupun dalam kehidupan di dunia ini sebagaimana yang tergambar dalam hadits Nabi Saw, “Jadilah engkau orang yang mengajar, atau  orang yang belajar, atau orang yang mendengar atau orang yang cintai kepada ilmu dan jangan jadi orang yang kelima maka celaka kamu”. Buya M. Natsir dalam bukunya Capita Selecta menyebutkan bahwa mengajarkan kepada seseorang yang hendak menjadi seorang muslim atau muslimah beberapa hal:

a.       Agama Islam menghormati akal manusia, meletakkan akal pada tempat yang terhormat, menyuruh manusia mempergunakan akal itu untuk memeriksa dan  memikirkan keadaan alam.

b.Agama Islam mewajibkan tiap-tiap pemeluknya, lelaki dan perempuan menuntut ilmu dan menghormati mereka yang mempunyai ilmu.

c. Agama Islam melarang orang bertaqlid buta, menerima sesuatu sebelum diperiksa, walaupun datangnya dari kalangan sebangsa dan seagama, atau dari ibu bapak dan nenek moyang sekalipun.

d.       Agama Islam menggembirakan pemeluknya supaya selalu berusaha mengadakan barang yang belum ada, merintis jalan yang belum ditempuh, membuat inisiatif dalam hal keduniaan yang memberi manfaat kepada masyarakat.

e. Agama Islam menggemarkan pemeluknya supaya selalu berusaha pergi meninggalkan kampung dan halaman, berjalan ke negeri lain, memperkembangkan silaturahim dengan bangsa dan golongan lain, saling bertukar pengetahuan, pandangan-pandangan dan perasaan.

      Orang yang telah mampu beriman yang kuat, beramal yang banyak serta berakhlak terpuji tanpa memiliki ilmunya yaitu ilmu agama maka nilainya kurang, bahkan orang tidak akan mampu menaklukkan dunia tanpa ada ilmu sebagai penunjangnya.
Rasulullah bersabda: "Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang cinta kepada ilmu, janganlah jadi orang yang kelima, maka celaka kamu".

Dari hadits diatas tergambar tentang kewajiban muslim  terhadap ilmu yaitu; mengajar, belajar, mendengar dan cinta kepada ilmu;

1.Mengajar
Orang yang mengajarkan ilmu disebut dengan guru, ustadz, murabbi atau pendidik  ialah orang yang memikul tanggungjawab untuk mendidik. Pada umumnya jika kita mendengar istilah pendidik akan terbayang di depan kita seorang manusia dewasa. Dan sesungguhnya yang kita maksud dengan pendidik adalah hanya manusia dewasa yang akan melaksanakan kewajibannya tentang pendidikan siterdidik.

Kalau ditinjau dari segi pertanggungjawaban, maka orang dewasa yang mendidik memikul pertanggungjawaban terhadap anak didiknya, sedangkan sipenolong kecil itu belumlah demikian. Jelaslah kiranya bahwa si penolong kecil itu belum dapat disebut pendidik dalam arti sesungguhnya, jadi pendidik itu adalah orang dewasa.

            Salah satu syarat guru profesional  ialah sebagaimana yang diungkapkan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara; Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tutwuri handayani, berarti keberadaannya pada semua sisi sangat diperlukan dalam rangka membawa manusia junior dengan bekal ilmu pengetahuan serta kepribadian yang luhur, sehingga akan tercetak manusia pintar lagi baik.

2.Belajar
Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu  tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Di Cina pada masa itu kebudayaan telah maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga layak bila ummat islam belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan Cina dapa dicatat diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai alat penting dalam mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah untuk belajar membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina berhasil menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun Cina telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana. Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin, sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain sebagainya.

3.Mendengar
            Bila tidak mampu untuk mengajar karena berbagai hal maka kewajiban lainnya adalah belajar, secara khusus untuk belajarpun tidak mungkin maka disunnahkan kita untuk mendengarkan ilmu melalui ceramah, diskusi, pengajian ataupun dialoq yang secara tidak lansung mengandung ilmu pengetahuan.
           
            Bahkan seseorang yang ingin mempunyai ilmu,  memang dianjurkan untuk lebih banyak mendengar daripada banyak berbicara. Itulah hikmahnya kenapa kita diberikan perangkat tubuh dengan dua telinga dengan satu mulut, maksudnya supaya sering mendengar dan sedikit becara.

4.Cinta ilmu.
            Karena sesuatu hal membuat orang tidak bisa mengajar, mustahil belajar dan tidak mungkin mendengarkan ilmu maka kewajiban yang terakhir adalah mencintai ilmu pengetahuan. Ujud cinta kepada ilmu itu nampak pada kemauan untuk menumbuh suburkan ilmu melalui pemberian bea siswa, penyediaan buku dan kepustakaan.

Menurut Imam Al Gazali ada empat macam manusia tentang ilmu yaitu;
1.Orang yang tahu, dia tahu bahwa dia tahu ; pintar.
2.Orang yang tahu, dia tidak tahu bahwa dia tahu; lalai.
3.Orang yang tidak tahu, dia tahu bahwa dia tidak tahu; sadar.
4.Orang yang tidak tahu, dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu; bodoh.

Rasulullah bersabda; "Barangsiapa yang mempelajari satu dari ilmu dengan maksud akan mengajarkan kepada  orang lain, maka diberikan kepadanya pahala tujuh puluh Nabi".

Ilmu terbagi dua dalam menuntutnya;
Ø  Fardlu 'ain ; wajib dituntut oleh semua muslim seperti amaliyah ibadah sehari-hari [shalat, syiam, zakat, membaca Al Qur'an dll.
Ø  Fardlu Kifayah; bila sudah ada yang mengerti ilmu ini maka sunnah dipelajari oleh  orang lain seperti; ushul fiqh, tafsir, ilmu hadits, ilmu umum dll.

-Islam tidak membedakan pahala menuntut ilmu umum dan ilmu agama, pembagian ilmu secara umum dan agama adalah pendapat orang barat.

Ilmu lebih mulia dari amal karena ;
  1. Ilmu tanpa amal tetap ada, amal tanpa ilmu tidak terlaksana.
  2. Ilmu tanpa amal tetap bermanfaat, amal tanpa ilmu tidak ada manfaatnya.
  3. Amal bersifat tetap, sedangkan ilmu bersifat aktif dan dinamis.
  4. Ilmu adalah sifat Allah sedangkan amal sifat hamba.
  5. Dengan ilmu bisa menguasai dunia dan akherat, Rasulullah bersabda           "Barangsiapa yang ingin kebahagiaan hidup di dunia maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di akherat maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di dunia dan di akherat maka raihlah dengan ilmu".

Rasulullah bersabda; "Sendi tegaknya dunia ada empat; ilmunya para ulama, keadilan pemerintah, dermawannya orang kaya dan do'anya orang fakir.Niscaya kalau bukan karena ilmunya para ulama maka rusaklah orang-orang yang bodoh, kalau tidak karena kedermawanan orang kaya niscaya lenyapnya orang fakir, kalau tidak karena keadilan pemerintah niscaya orang akan saling tindas menindas sebagai Srigala makan kambing".

Ada empat penyelamat dunia salah satunya adalah; Ulama mengajarkan ilmunya dan mengamalkannya.

Sejak dahulu hingga kini banyak ulama yang dapat membenahi kehidupan seseorang agar menjadi baik, dia memberi penerangan kepada orang lain sementara dia dalam kegelapan, ibarat lilin, terang orang di sekitarnya  tapi sang lilin terbakar, sibuk mengajak orang, diri dan keluarga terabaikan, ”Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan kewajiban sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab  [Taurat] ? Maka tidakkah kamu berfikir ?” [Al Baqarah 2;44].

            Suatu ketika Hasan Al Bisyri didatangi oleh para budak, mereka mengharapkan agar beliau besok jum’at berkenan menyampaikan khutbah tentang pembebasan budak dan keutamaannya. Mereka sangat antusias sekali akan merdeka bila mendengar fatwa sang ulama sekaliber Hasan Al Bisyri. Dua dan tiga minggu, dua dan tiga bulan hingga mendekati setahun belum juga terdengar fatwa itu, walaupun sang ulama sudah sering pula menyampaikan khutbah dengan tema lain. Tepat satu tahun permohonan pada budak itu dikabulkan oleh Hasan Al Bisyri dengan berapi-api disambut dengan kesadaran oleh para tuan untuk memerdekakan budaknya.

            Tentu saja para budak    bertanya, kenapa sekarang mereka bisa merdeka ? tidak setahun yang lalu ? sang ulama kharismatik itu menjawab,”Ketika kalian datang kepadaku pertama kali tentang itu, aku tidak berdaya dan tidak mampu menyampaikannya. Sekaranglah baru saya punya uang, tadi pagi saya sudah memerdekakan seorang budak”, itulah sebuah keteladanan yang dicontohkan oleh ulama kita dahulu.

            Dunia ini akan indah, baik dan selamat bila para ulamanya mengajarkan ilmunya dan dia juga mengamalkan ilmunya itu, siap tampil sebagai teladan dengan akhlak islami. Begitu pentingnya ilmu bagi manusia, untuk itu belajarlah agar berilmu.Wallahu a’lam [Mengkoang Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].





Tidak ada komentar:

Posting Komentar