Sepanjang sejarah
kehidupan manusia maka sepanjang itu pula manusia akan menerima pengetahuan
dari berbagai peristiwa yang dilaluinya, proses belajar akan terus berlanjut
hingga berakhirnya kehidupan ini bahkan alam yang terkembang ini dapat
dijadikan sebagai guru bagi manusia. Banyak pelajaran berharga yang sudah akan
dipetik manusia sebagai ibrah untuk mendewasakan kepribadian manusia, segala
peristiwa yang dilalui dapat dijadikan sebagai pembelajaran, sungguh beruntung
orang yang selalu mau belajar dan merugilah orang yang lalai dalam belajar
apalagi enggan untuk belajar.
Dengan belajar kita akan mendapat ilmu dan pengetahuan
yang akan memudahkan hidup bagi pemiliknya, sebagaimana yang diungkapkan oleh
pepatah kita,”Dengan seni hidup akan indah dengan ilmu hidup akan mudah”.
Dengan belajar maka hidup juga akan beradab, jauh dari sikap-sikap yang dapat
mencelakakan diri sendiri apalagi merusak
orang lain. Dengan belajar dijadikan Allah setentang dengan orang-orang
yang beriman untuk mendapatkan derajat yang tinggi, dengan belajar maka akan
diperoleh ilmu pengetahuan bagi pelakunya yang berguna bagi orang lain.
Islam memandang kedudukan
ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah
kepada-Nya.Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab.Orang yang berilmu (ulama)
adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali
mengingatkan, orang yang mecari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari
keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama.
Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip
hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia
mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan
tempat di neraka.”
Ibnul Qayyim
al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah
buku berjudul Al-Ilmu. Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a.
yang menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan
merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.” Abu Hatim bin Hibban
juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang pernah mendengar
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjid ku ini untuk belajar
kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di
jalan Allah.”
Karena begitu mulianya
kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan
umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau
salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal.Ia tidak akan
pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Sebab,
dengan mengenal dan berzikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang.
Maka, belajarlah ilmu
yang benar! Belajarlah dengan niat yang benar! Jadilah manusia yang adil dan
beradab! Ingatlah, nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya:”Wahai anakku,
janganlah kamu menserikatkan Allah, sesungguhnya syirik adalah
kezaliman yang besar.” (QS 31:13) (Republika Online, Adian Husaini, Belajarlah
agar beradab,Senin, 03 Mei 2010 04:47 ).
Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla.
Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya
ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, "Katakanlah
: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat
Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat
Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS.
Al Kahfi [18] : 109).
Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut
ilmu tanpa membedakan ilmu agama dan
ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus
dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan
perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang
diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke
negeri Cina”.
Bahkan Surat dan ayat pertama kali turun kepada
nabi Muhammad Saw melalui Jibril yaitu perintah membaca [Al 'Alaq 96;1-5]
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal
darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
Dalam ayat ini terkandung makna agar ummat islam membaca
apa yang tersurat, tersirat dan tersuruk di muka bumi ini sebagai modal dalam
kehidupan. Dengan membaca akan diketahui apa yang belum diketahui, dengan
pemahaman akan dapat diungkapkan apa yang tersirat dalam ayat melalui
pengkajian, penelitian, percobaan maka akan terbongkar semua dan segala rahasia
yang selama ini tersuruk baik dalam bumi maupun di angkasa raya. Jadi makna
baca bukan sekedar membaca yang tersurat saja tapi pengertiannya sangat luas
dan dalam yaitu membaca segala yang ada di dalam bahkan di luar orbit alam ini.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an beberapa
kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” . Di zaman dahulu
ada seseorang yang lehernya cacat, dan ia selalu menjadi bahan ejekan dan
tertawaan. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu,
niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.” Sejak itulah, orang itu belajar ilmu
syar’i hingga ia menjadi orang alim, sehingga ia diangkat menjadi Qadhi (Hakim)
di Makkah selama 20 (dua puluh) tahun. Apabila ada orang yang berperkara duduk
di hadapannya, maka gemetarlah tubuhnya hingga ia berdiri. Orang yang berilmu
dan mengamalkannya, maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan
akan dinaikkan derajatnya di akhirat. Allah pun telah berfirman tentang Nabi
Yusuf ‘alaihis salaam. “...Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki, dan
diatas setiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.”
.Disebutkan bahwa tafsir ayat di atas adalah bahwasanya Kami (Allah) mengangkat
derajat siapa saja yang Kami kehendaki dengan sebab ilmu.
Menuntut ilmu atau belajar adalah jalan yang lurus untuk
dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, Tauhid dan syirik, Sunnah dan
bid’ah, yang ma’ruf dan yang munkar, dan antara yang bermanfaat dan yang
membahayakan. Menuntut ilmu akan menambah hidayah serta membawa kepada kebahagiaan
dunia dan akhirat. Seorang Muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan
keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan
mengamalkannya.Pernyataannya harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi
dari Islam.Karena itulah.Kewajiban menuntut ilmu ini mencakup seluruh individu
Muslim dan Muslimah, baik dia sebagai orang tua, anak, karyawan, dosen, Doktor,
Profesor, dan yang lainnya. Yaitu mereka wajib mengetahui ilmu yang berkaitan
dengan muamalah mereka dengan Rabb-nya, baik tentang Tauhid, rukun Islam, rukun
Iman, akhlak, adab, dan mu’amalah dengan makhluk.
Kejadian alam yang nampak oleh manusia sejak dari kejadian terciptanya
alam raya ini, adanya manusia, terjadinya bencana dan musibah semuanya harus
pandai disikapi untuk dipetik pelajaran
berharga dari semua peristiwa.
Bumi ini sangat rentan terkena guncangan
bencana, angin topan, gunung meletus, badai, tsunami, hujan, dan sebagainya
yang bisa datang menyerang kapan pun, kepada siapa pun, dan di
manapun.Bencana-bencana tersebut bukan untuk dilawan, melainkan untuk diambil
hikmah dan pelajarannya.
Sekalipun teknologi dan peradaban sudah
maju pesatnya, namun tak bisa menolak datangnya bencana.Bencana memang bisa
diprediksi, sebagaimana tsunami yang baru saja terjadi di Jepang, namun tak
bisa diperkirakan kapan tepatnya datang bencana tersebut.
Bumi ini memang sengaja diciptakan oleh
Allah untuk manusia.Kemudian, Allah hendak menguji setiap penghuni bumi dengan
berbagai ujian dalam berbagai bentuk dan macamnya dengan maksud untuk mengetahui
seberapa dalam keimanan dan ketakwaannya."Dan Dialah yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya (Singgasana-Nya) di atas
air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya."
(QS. Huud [11] : 7).
Cobaan dan ujian terhadap keimanan
manusia itu sangat bermacam-macam bentuknya. Di balik ujian tersebut terselip
pesan yang ingin disampaikan yakni supaya manusia sadar akan kemahakuasaan
Allah atas segenap isi di bumi ini. Dan segala penciptaan-Nya itu niscaya akan
kembali kepada-Nya kelak."Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati; Kami
akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya).Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS
al-Anbiyaa', [21] : 35), Allah mengatakan bahwa Dia menguji manusia baik
melalui kejadian-kejadian yang baik maupun buruk.
Banyaknya orang yang menjadi korban
bencana merupakan teka-teki ujian itu.Manusia harus selalu ingat bahwa Allah
adalah Hakim Yang Mahatahu dan "diberi keputusan di antara hamba-hamba
Allah dengan adil." (QS az-Zumar, [39] : 75).
Manusia harus mampu mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian ini. Sesungguhnya, Allah tidak menciptakan apa pun tanpa tujuan; setiap bencana merupakan peringatan bagi umat manusia, dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari pembangkangan mereka. Dalam Alquran, Allah berfirman bahwa tak ada yang terjadi di muka bumi ini tanpa izin-Nya: "Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS at-Taghaabun, [64] : 11).
Manusia harus mampu mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian ini. Sesungguhnya, Allah tidak menciptakan apa pun tanpa tujuan; setiap bencana merupakan peringatan bagi umat manusia, dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari pembangkangan mereka. Dalam Alquran, Allah berfirman bahwa tak ada yang terjadi di muka bumi ini tanpa izin-Nya: "Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS at-Taghaabun, [64] : 11).
Pelajaran lain yang harus diambil dari
bencana alam adalah bahwa manusia yang menganggap dirinya memiliki kekuatan di
atas muka bumi, menyadari bahwa ia sesungguhnya lemah dan benar-benar tidak
memiliki kekuatan untuk mengatasi bencana yang terjadi dengan seketika atas
kehendak Allah. Manusia tak dapat menolong dirinya sendiri ataupun orang lain.
Tentu saja Allahlah yang Mahakuasa. Ini dinyatakan dalam ayat berikut: "Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan
kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika
Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Menguasai atas segala
sesuatu." (QS al-An'aam, [6] : 17) [Republika Online, Yuyu Yuhanna, Pelajaran dari Bencana Kamis, 07 April 2011
08:26 WIB].
Bahkan modal hidup di dunia ini bukan
hanya iman dan amal saja, ilmu merupakan bekal yang tidak kalah pentingnya,
dengan ilmu yang telah dituntut melalui belajar dari sekian pengalaman dan guru
menjadikan orang semakin kuat iman dan semakin banyak amalnya dan semakin baik
akhlaknya.
Seseorang mungkin saja memiliki iman
yang kuat bak kuatnya karang di tengah lautan, amalnya banyak, akhlaknya juga
terpuji tapi tidak berilmu maka kehidupannya akan senjang. Islam mengharapkan
pemeluknya agar mencari ilmu yang baik untuk kehidupan akherat maupun dalam
kehidupan di dunia ini sebagaimana yang tergambar dalam hadits Nabi Saw,
“Jadilah engkau orang yang mengajar, atau
orang yang belajar, atau orang yang mendengar atau orang yang cintai
kepada ilmu dan jangan jadi orang yang kelima maka celaka kamu”. Buya M. Natsir
dalam bukunya Capita Selecta menyebutkan bahwa mengajarkan kepada seseorang
yang hendak menjadi seorang muslim atau muslimah beberapa hal:
a.
Agama
Islam menghormati akal manusia, meletakkan akal pada tempat yang terhormat,
menyuruh manusia mempergunakan akal itu untuk memeriksa dan memikirkan keadaan alam.
b.Agama Islam
mewajibkan tiap-tiap pemeluknya, lelaki dan perempuan menuntut ilmu dan
menghormati mereka yang mempunyai ilmu.
c.
Agama
Islam melarang orang bertaqlid buta, menerima sesuatu sebelum diperiksa,
walaupun datangnya dari kalangan sebangsa dan seagama, atau dari ibu bapak dan
nenek moyang sekalipun.
d.
Agama Islam menggembirakan pemeluknya supaya
selalu berusaha mengadakan barang yang belum ada, merintis jalan yang belum
ditempuh, membuat inisiatif dalam hal keduniaan yang memberi manfaat kepada
masyarakat.
e.
Agama
Islam menggemarkan pemeluknya supaya selalu berusaha pergi meninggalkan kampung
dan halaman, berjalan ke negeri lain, memperkembangkan silaturahim dengan
bangsa dan golongan lain, saling bertukar pengetahuan, pandangan-pandangan dan
perasaan.
Orang yang telah mampu beriman yang kuat, beramal yang banyak
serta berakhlak terpuji tanpa memiliki ilmunya yaitu ilmu agama maka nilainya
kurang, bahkan orang tidak akan mampu menaklukkan dunia tanpa ada ilmu sebagai
penunjangnya.
Rasulullah bersabda: "Jadilah orang yang
mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang
cinta kepada ilmu, janganlah jadi orang yang kelima, maka celaka kamu".
Dari
hadits diatas tergambar tentang kewajiban muslim terhadap ilmu yaitu; mengajar, belajar,
mendengar dan cinta kepada ilmu;
1.Mengajar
Orang yang mengajarkan ilmu disebut
dengan guru, ustadz, murabbi atau pendidik
ialah orang yang memikul tanggungjawab untuk mendidik. Pada umumnya jika kita mendengar istilah pendidik akan
terbayang di depan kita seorang manusia dewasa. Dan sesungguhnya yang kita
maksud dengan pendidik adalah hanya manusia dewasa yang akan melaksanakan
kewajibannya tentang pendidikan siterdidik.
Kalau ditinjau
dari segi pertanggungjawaban, maka orang dewasa yang mendidik memikul
pertanggungjawaban terhadap anak didiknya, sedangkan sipenolong kecil itu
belumlah demikian. Jelaslah kiranya bahwa si penolong kecil itu belum dapat
disebut pendidik dalam arti sesungguhnya, jadi pendidik itu adalah orang
dewasa.
Salah satu syarat guru profesional ialah sebagaimana yang diungkapkan oleh tokoh
pendidikan Ki Hajar Dewantara; Ing ngarso
sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tutwuri handayani, berarti
keberadaannya pada semua sisi sangat diperlukan dalam rangka membawa manusia
junior dengan bekal ilmu pengetahuan serta kepribadian yang luhur, sehingga
akan tercetak manusia pintar lagi baik.
2.Belajar
Islam
mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum
lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari. Kewajiban
ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari
ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Dalam
hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi
dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.
Di Cina pada
masa itu kebudayaan telah maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga
layak bila ummat islam belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan
Cina dapa dicatat diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai
alat penting dalam mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah
untuk belajar membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina
berhasil menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun
Cina telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana.
Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin,
sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain
sebagainya.
3.Mendengar
Bila tidak mampu untuk mengajar karena berbagai hal maka
kewajiban lainnya adalah belajar, secara khusus untuk belajarpun tidak mungkin
maka disunnahkan kita untuk mendengarkan ilmu melalui ceramah, diskusi,
pengajian ataupun dialoq yang secara tidak lansung mengandung ilmu pengetahuan.
Bahkan seseorang yang ingin mempunyai ilmu, memang dianjurkan untuk lebih banyak
mendengar daripada banyak berbicara. Itulah hikmahnya kenapa kita diberikan
perangkat tubuh dengan dua telinga dengan satu mulut, maksudnya supaya sering
mendengar dan sedikit becara.
4.Cinta ilmu.
Karena sesuatu hal membuat orang tidak bisa mengajar,
mustahil belajar dan tidak mungkin mendengarkan ilmu maka kewajiban yang
terakhir adalah mencintai ilmu pengetahuan. Ujud cinta kepada ilmu itu nampak
pada kemauan untuk menumbuh suburkan ilmu melalui pemberian bea siswa,
penyediaan buku dan kepustakaan.
Menurut
Imam Al Gazali ada empat macam manusia tentang ilmu yaitu;
1.Orang yang tahu, dia
tahu bahwa dia tahu ; pintar.
2.Orang yang tahu, dia
tidak tahu bahwa dia tahu; lalai.
3.Orang yang tidak
tahu, dia tahu bahwa dia tidak tahu; sadar.
4.Orang yang tidak
tahu, dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu; bodoh.
Rasulullah bersabda; "Barangsiapa
yang mempelajari satu dari ilmu dengan maksud akan mengajarkan kepada orang lain, maka diberikan kepadanya pahala
tujuh puluh Nabi".
Ilmu terbagi dua dalam
menuntutnya;
Ø
Fardlu
'ain ; wajib dituntut oleh semua muslim seperti amaliyah ibadah sehari-hari
[shalat, syiam, zakat, membaca Al Qur'an dll.
Ø
Fardlu
Kifayah; bila sudah ada yang mengerti ilmu ini maka sunnah dipelajari oleh orang lain seperti; ushul fiqh, tafsir, ilmu
hadits, ilmu umum dll.
-Islam tidak membedakan
pahala menuntut ilmu umum dan ilmu agama, pembagian ilmu secara umum dan agama
adalah pendapat orang barat.
Ilmu lebih mulia dari
amal karena ;
- Ilmu tanpa amal tetap ada, amal tanpa ilmu tidak terlaksana.
- Ilmu tanpa amal tetap bermanfaat, amal tanpa ilmu tidak ada manfaatnya.
- Amal bersifat tetap, sedangkan ilmu bersifat aktif dan dinamis.
- Ilmu adalah sifat Allah sedangkan amal sifat hamba.
- Dengan ilmu bisa menguasai dunia dan akherat, Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang ingin kebahagiaan hidup di dunia maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di akherat maka raihlah dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia di dunia dan di akherat maka raihlah dengan ilmu".
Rasulullah
bersabda; "Sendi tegaknya dunia ada empat; ilmunya para ulama, keadilan
pemerintah, dermawannya orang kaya dan do'anya orang fakir.Niscaya kalau bukan
karena ilmunya para ulama maka rusaklah orang-orang yang bodoh, kalau tidak
karena kedermawanan orang kaya niscaya lenyapnya orang fakir, kalau tidak
karena keadilan pemerintah niscaya orang akan saling tindas menindas sebagai
Srigala makan kambing".
Ada empat penyelamat
dunia salah satunya adalah; Ulama
mengajarkan ilmunya dan mengamalkannya.
Sejak dahulu
hingga kini banyak ulama yang dapat membenahi kehidupan seseorang agar menjadi
baik, dia memberi penerangan kepada orang lain sementara dia dalam kegelapan,
ibarat lilin, terang orang di sekitarnya
tapi sang lilin terbakar, sibuk mengajak orang, diri dan keluarga
terabaikan, ”Mengapa kamu suruh orang
lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan kewajiban sendiri, padahal
kamu membaca Al Kitab [Taurat] ? Maka
tidakkah kamu berfikir ?” [Al Baqarah 2;44].
Suatu ketika Hasan Al Bisyri didatangi oleh para budak,
mereka mengharapkan agar beliau besok jum’at berkenan menyampaikan khutbah
tentang pembebasan budak dan keutamaannya. Mereka sangat antusias sekali akan
merdeka bila mendengar fatwa sang ulama sekaliber Hasan Al Bisyri. Dua dan tiga
minggu, dua dan tiga bulan hingga mendekati setahun belum juga terdengar fatwa
itu, walaupun sang ulama sudah sering pula menyampaikan khutbah dengan tema
lain. Tepat satu tahun permohonan pada budak itu dikabulkan oleh Hasan Al
Bisyri dengan berapi-api disambut dengan kesadaran oleh para tuan untuk
memerdekakan budaknya.
Tentu saja para budak
bertanya, kenapa sekarang mereka bisa merdeka ? tidak setahun yang lalu
? sang ulama kharismatik itu menjawab,”Ketika
kalian datang kepadaku pertama kali tentang itu, aku tidak berdaya dan tidak
mampu menyampaikannya. Sekaranglah baru saya punya uang, tadi pagi saya sudah
memerdekakan seorang budak”, itulah sebuah keteladanan yang dicontohkan
oleh ulama kita dahulu.
Dunia ini akan indah, baik dan selamat bila para ulamanya
mengajarkan ilmunya dan dia juga mengamalkan ilmunya itu, siap tampil sebagai
teladan dengan akhlak islami. Begitu pentingnya ilmu bagi manusia, untuk itu
belajarlah agar berilmu.Wallahu a’lam [Mengkoang Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar