Ada dua kata yang bertolak belakang maknanya, tidak bisa disatukan dalam
sebuah keimanan, salah satu harus ditinggalkan sebagai konsekwensi dari
menerima yang lain. Kata itu adalah Taat dan Maksiat. Taat artinya patuh atas
segala perintah dan meninggalkan apa yang dilarang, berbuat menurut ketentuan
undang-undangan dan aturan yang sudah digariskan, tidak terjadi penyelewengan,
sedangkan maksiat adalah kebalikan dari itu, pengingkaran, pengkhianatan,
melakukan dosa dan kesalahan. Bila s eorang mukmin ingin taat maka dia harus
menjauhkan maksiat, bila ahli maksiat akan memulai hidup baru menjadi orang
taat maka harus bertekad meninggalkan maksiat melalui taubat.
Taubat yang baik adalah taubat nasuha, yang hanya bisa
dilakukan oleh para muhajir, orang-orang yang siap untuk hijrah dari maksiat
kepada taat, taubat saja tidak cukup tapi harus diikuti oleh ketaatan, ketaatan
inilah yang membuat para sahabat nabi berhasil dalam segala asfek kehidupan. ,”Hai orang-orang yang beriman, taatilah
Allah dan taatilah Rasul-Nya..”[An Nisa’ 4;59]
Ketaatan seorang mukmin kepada Allah adalah mutlak,
inilah inti dari tauhid, walaupun beriman kepada Allah dengan mengutamakan
ibadah tapi loyalitasnya kurang maka keberadaan imannya dipertanyakan. Sikap
mulia seorang muslim adalah siap mendengarkan semua perintah Allah dan siap
pula untuk mentaatinya, hal ini tumbuh karena iman yang mendalam dan pemahaman
syahadat yang baik selain itu karena merupakan tuntutan dari iman.
Orang-orang sebelum islam, dibawah bimbingan wahyu yang
dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi-nabi sebelumnya, karakter ummat mereka bila
diperintahkan untuk melaksanakan hukum Allah mereka menjawab,”Sami’na wa
ashoina” artinya kami mendengar tapi kami lalai. Sedangkan jawaban orang-orang
yang benar imannya adalah bagaimana yang tergambar dalam surat An Nur 24;51 ‘’ Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin,
bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum
(mengadili) di antara mereka ialah
ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah
orang-orang yang beruntung.’’
Ketaatan seorang mukmin diukur oleh beberapa hal;
Pertama, ketaatan tanpa reserve yaitu ketaatan tanpa
tawar menawar [24;51] berat maupun ringan, dalam kondisi susah maupun
senang semua itu akan dilakukan, ibarat loyalnya seorang prajurit kepada
komandannya, demikian pula seorang mukmin sebenarnya adalah hizbullah atau
pasukan Allah yang siap untuk dikirim kemanapun juga demi melaksanakan tugas
menegakkan agama Allah.”Sesungguhnya
jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar
rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah
ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung.’’ [An Nur 24;51]
Kedua, ketaatan yang diminta juga adalah ketaatan dalam semua
lapangan kehidupan tanpa memisah-misahkannya antara satu dengan
lainnya, inilah yang disebut dengan kaffah yaitu melaksanakan syariat islam
secara integral dan menyeluruh [Al Baqarah 2;208]”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Ketiga, ketaatan yang diharapkan adalah ketaatan
yang tidak memilih-milih antara satu hukum dengan lainnya, bukankah
hukum islam itu satu dan utuh dan merupakan satu kesatuan, satu saja kita
ingkari berarti telah kafir terhadap
semuanya;”Tidak ada satu keberatan atas Nabi tentang apa yang ditetapkan Allah
baginya”[ Al Ahzab 33;38]”Tidak
ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah
baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada
nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu
ketetapan yang pasti berlaku,”
Keempat, ketaatan yang diharapkan adalah ketaatan
yang ajeg yaitu ketaatan yang konsekwen, istiqamah dan mantap, jauh
dari keragu-raguan, ibarat kokohnya bukit karang di tengah lautan [Al Hasyr
59;7]”Apa saja harta
rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang
berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam
perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di
antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.
Bila ummat islam tidak lagi mentaati Allah berarti mereka
berada dalam radius maksiat, kemaksiatan yang dilakukan mengundang bencana yang
berujud kepada kehancuran dan kesengsaraan.Sangat banyak
ayat Al-Qur’an bercerita tentang bagaimana Allah menghancurkan dan mengazab
umat-umat terdahulu. Di antaranya seperti yang Allah jelaskan dalam surat
Adz-Zdariyat [51] ayat 31 sampai 51.Dari 20 ayat tersebut dapat kita ambil
kesimpulan sebagai berikut :
- Allah mengazab umat Nabi Luth yang mengikutkan syahwat sex mereka yang menyimpang (homo sex) dan tidak mau peduli dengan sistem dan aturan Allah dalam menyalurkan hasrat sex mereka dan bahkan menyebarkannya kepada masyarakat luas sebagai sebuah kebenaran. Lalu Allah turunkan kepada mereka hujan batu bersal dari tanah yang bisa saja berasal dari gunung merapi saat itu. Lalu mereka terbakar, mati dan hancur semuanya kecuali satu keluarga yang Allah selamatkan, keluarga nabi Luth selain istrinya yang durhaka.
- Allah mengazab dan menghancurkan Fir’aun dan prajuritnya yang terkenal gagah perkasa. Betapa tidak, dengan kepongahanya, Fir’aun bukan hanya menolak dakwah nabi Musa, melainkan ingin membunuhnya dan mebrengus ajarannya yang datang dari Allah, dengan cara membunuh Musa dan pengikutnya. Namun, sesuai scenario Allah, Allah perintahkan Nabi Musa untuk lari ke pinggir laut merah agar Fir’aun dan pasukannya mengejar mereka ke sana. Tanpa diduga sama sekali oleh Fir’aun dan prajuritnya, di laut merah itulah tempat mereka menghembuskan nafas terakhir.. Inilah cara Allah menghancurkan pemimpin dan pasukannya yang sombong itu dan tidak mau bertaubat dan kembali kepda Allah.
- Kaum ‘Ad Allah hancurkan pula dengan angin kencang yang menusuk daging selama 7 malam dan delapan hari sehingga tercerabutlah tulang-tulang mereka dari daging sehingga mereka binasa semua dalam keadaan berglimpangan. Azab itu turun juga karena mereka durhaka kepada Allah dan Nabi-Nya.
- Kaum Tsamud juga Allah hancurkan dengan petir keras sekali sehingga mereka berjatuhan dan tidak mampu lagi bangkit untuk selama-lamanya. Azab ini juga Allah timpakan karena mereka membangkang kepada ajaran Allah dan Nabi-Nya.
- Demikian pula dengan kaum Nuh sebelum kaum-kaum tersebut. Mereka Allah hancurkan dengan menciptakan banjir besar sehingga mereka tenggelam semuanya, kecuali para pengikut nabuh Nuh yang beriman dan taat pada Allah dan nabi-Nya.
Dari kisah kehancuran lima
kaum tersebut di atas, penyebabnya hanya satu, yakni membangkang kepada sistem
dan aturan Allah yang diamanahkan kepada para Rasul-Nya untuk disampaikan
kepada umat mereka masing-masing. Pembangkangan tersebut bisa melalui pola sex
menyimpang (homosex dan lesby), atau disebabkan penyimpangan lainnya seperti
yang terkait dengan akidah yang dilakukan umat nabi Nuh yang menyembah kuburan
orang-orang sholeh, atau kesombongan yang dilakukan oleh Fir’aun dan para
pengikut dan pasukannya.
Disamping itu, ayat-ayat
tersebut bukan hanya menceritakan sebab-sebab kehancuran mereka, akan tetapi
juga memberikan solusi efektif agar tidak ditimpakan Allah berbagai azab
seperti yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu. Solusinya ialah : kembali
kepada Allah dengan berlari seperti yang Allah tawarkan pada ayat ke 50.
Kembali kepada-Nya dengan mentaati semua perintah dan menjauhi semua
larangan-Nya. Sebagai bukti utama dan terutama dari kembali kepada Allah itu
ialah tidak menyekutukan-Nya dalam penciptaan dan perbutan-Nya (rububiyyah),
ibadah (uluhiyyah) dan nama-nama (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya.
Inilah
satu-satunya solusi yang harus kita ambil jika kita ingin menyelamatkan negeri
dan umat ini dari azab Allah berupa berbagai bencana yang ditimpakan-Nya kepada
kita. Membangun satu gaya hidup menyimpang dari aturan Allah, apapun bentuknya,
adalah undangan turunnya azab Allah. Lalu babagimana dengan berbagai gaya hidup
menyimpang yang sekarang marak dilakukan oleh sebagian masyarakat kita?
Tentulah azab itu akan datang dengan berbagai macam pula. Sebelum terlambat, mari
kita berlari menuju Allah dengan mentaati semua sistemnya. Pada waktu yang
sama, kita buang jauh-jauh sistem hidup yang tidak diridhai Allah, bagaimanapun
beratnya. Dengan demikian insya Allah kita selamat dunia dan akhirat.[Ustadz Fathuddin Ja'far, MA, Berlarilah Kepada Allah, Eramuslim.com,
Rabu, 10/11/2010 17:34 WIB].
Ketaatan kadangkala datangnya tidaklah seketika, dia
melalui proses yang panjang apalagi selama ini telah bergelimang dengan
maksiat, namun dengan usia yang semakin berkurang seharusnya dicari hidayah itu
melalui pengajian dan pengkajian tentang agama sehingga restan usia dapat
dimanfaatkan untuk taat di akhir-akhir hayat ini, intinya kalau masih hidup
maka jangan sia-siakan usia itu demikian yang diungkapkan oleh Aidh Abdullah al-Qarni;
Tiap-tiap sesuatu dapat dicari penggantinya,kecuali usia.
Dan, tiap-tiap sesuatu bila telah lenyap, adakalanya dapat dikembalikan melalui
suatu jalan atau lainnya, kecuali usia. Karena apa yang telah berlalu dari usia
tidak dapat dikembalikan dan ia pergi untuk selamanya.
Apa
yang sudah berlalu dari usia, berarti lenyap yang diharapkan masih belum pasti,
dan bagimu hanyalah saat sekarang yang sedang dijalani.
Allah Ta'ala berfirman :"Dan apakah Kami
tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang
mau berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?"
(QS. Fathir [35] : 37)
Huruf
ma disebutkan dalam penggunaannya adakalanya sebagai huruf maushul yang
berarti: "Dalam yang cukup untuk berpikir" atau sebagai huruf mashdar
yang berarti: "Untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir" dalam
kehidupan ini.
Allah Ta'ala berfirman :"Allah bertanya:
'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggi di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal
di (dibumi) sehari atau setengah hari'." (QS. Al-Mu'muninun [23] :
112-113)
Allah Ta'ala berfirman :"Kamu tidak tinggal
(di bumi), melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Maka
apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi
Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan(yang berhak disembah) selain Dia,
Tuhan (yang mempunyai) Arsy yang mulia." (QS. Al-Mu'muninun [23] :
114-116)
Ibnu Abbas ra telah menceritakan bahwa Rasulullah shallahu
alaihi was sallam pernah bersabda: "Ada dua nikmat yang keduanya
memperdaya kebanyakan manusia,yaitu sehat dan waktu luang." (HR.
Muslim)
Hal yang paling menyia-nyiakan usia adalah melakukan
kedurhakan. Ulama salaf yang shalih sangat antusias dalam memelihara usia dan
menggunakan sebaik-baiknya. Apabila menggunakan usianya untuk maksiat, berarti
lenyaplah dunia dan akhiratnya. Semoga Allah melindungi kita dari kedurhakaan.
Sesungguhnya ulama salaf dahulu menjauhi banyak hal yang
diperbolehkan karna kawatir terjerumus ke dalam hal yang dimakruhkan. Berbeda
dengan kita sekarang, sesungguhnyakit tidak ragu lagi mengerjakan kedurhakaan,
bukan lagi sekadar hal-hal yang diperbolehkan.Semoga Allah mengampuni kita
semua.
Pernah dikatakan kepada Kanzun Ibnu Wabrah, salah seorang
ahli ibadah: "Duduklah bersama kami", maka ia menjawab:
"Tahanlah matahari!" Yakni agar tidak datang dan pergi menggerogoti
usia.
Kita datang dan pergi untu keperlulan kitadan keperluan
orang hidup iut tiada habisnya,akan berhentilah keperluan seseorang dengan
kematiannya,
selama seseorang masih hidup,perputaran siang dan malam hari,
telah membuat anak kecil beruban dan oran tua mati,bila malam telah membuat tua siang harinya,datanglah sesudahnya siang hari yang muda.
selama seseorang masih hidup,perputaran siang dan malam hari,
telah membuat anak kecil beruban dan oran tua mati,bila malam telah membuat tua siang harinya,datanglah sesudahnya siang hari yang muda.
Orang-orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam kehidupan di
dunia, dan durhaka kepada Allah Ta'ala, dan tidak mau bertaubat, maka
hanya kebinasaan ketika nanti di akhirat, dan tidak ada lagi pintu taubat
baginya.[Aidh Abdullah al-Qarni,
Jangan Sia-Siakan Usiamu,
Eramuslim.com.Minggu, 05/06/2011 15:09 WIB].
Ketaatan seorang muslim kepada Allah harus juga diujudkan
melalui ketaatan kepada yang lain seperti ketaatan kepada Rasul dan ketaatan
kepada orang-orang mukmin, ketaatan kepada orangtua dan ketaatan kepada para
pemimpin. Kita boleh taat kepada siapapun dalam rangka mentaati Allah, ketaatan
kepada siapapun tidak boleh bila ketaatan itu untuk bermaksiat kepada Allah.
AllOh
memeRintahkan kepada paRa pemimpin kaum muslimin untuk menunaikan beban di
pundak meReka beRupa amanat Rakyat. Hendaklah meReka
menegakkan hukum dengan adil, menegakkan hukuman dan mencegah ahli maksiat daRi
kemaksiatannya. Hendaklah meReka mempeRhatikan Rakyat, tidak membebani apa yang
membeRatkan umat. AllOh beRfiRman: ”dan
Rendahkanlah diRimu teRhadap ORang-ORang yang mengikutimu, yaitu ORang-ORang
yang beRiman. (QS. Asy-Syua’RO[26]: 215)
Demikian pula AllOh memeRintahkan kepada Rakyat agaR mendengaR dan taat
kepada pemimpin. Menaati meReka dalam peRkaRa yang dipeRintahkan atau yang
dilaRang, selagi peRintah itu tidak memaksiati AllOh. AllOh beRfiRman: ”Hai ORang-ORang yang beRiman, taatilah Allah
dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amRi di antaRa kamu. Kemudian jika kamu
beRlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
QuRan) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benaR-benaR beRiman kepada Allah dan
haRi kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(QS. An-Nisa’[4]: 59).
Kewajiban menaati pemimpin kaum muslimin adalah sebuah aqidah dalam agama
ini, yaitu keyakinan beRagama seORang muslim kepada RObbnya. Apabila seORang
penguasa atau pemimpin memeRintahkannya dengan suatu peRintah maka wajib untuk
dilaksanakan, selama tidak memaksiati AllOh, dan jika pemimpin melaRang
sesuatu, wajib untuk beRhenti dan meninggalkannya.
Pemimpin adalah paRa ulama dan paRa penguasa. Menaati meReka membawa
kebaikan agama dan dunia, dan menyelisihi meReka adalah keRusakan agama dan
dunia. PaRa pemimpin adalah ibaRat peRisai, melindungi jalan-jalan kaum
muslimin daRi ORang-ORang yang ingin meRampOk, mengambil haRta, membunuh atau
meRusak kehORmatan, mencegah ORang yang ingin meRusak keamanan, meReka memimpin
Rakyat ketika beRjihad di jalan AllOh, membela haRta dan kehORmatan.
KaRena peRtimbangan besaRnya manfaat dan kebaikan ini, maka paRa ulama
mengatakan wajibnya menaati penguasa walaupun dia ORang yang fasiq. Apabila dia
shOlat mengimami manusia wajib shOlat beRsamanya.
Sebagaimana wajib menaati paRa pemimpin maka wajib pula untuk menasehati
meReka, menampakkan kebaikan meReka dan menyembunyikan kejelekan meReka. HaRam
beRbicaRa yang dapat menyebabkan kemaRahan hati meReka. BaRangsiapa yang tidak
mampu untuk menasehati, maka dO’akanlah kebaikan bagi meReka.
Sebagaimana seluRuh waRga negaRa wajib menaati pemimpin, demikian pula halnya
dengan paRa pendatang. MeReka wajib untuk melaksanakan apa yang telah
ditetapkan negaRa beRupa syaRat-syaRat bagi pendatang. Janganlah meReka membuat
keRusakan di muka bumi, jangan menyebaRkan peRkataan yang beRacun, jangan
menipu ketika bekeRja. BaRangsiapa yang menyelisihi syaRat-syaRat yang telah
ditetapkan, atau membantu ORang untuk menyelisihi syaRat-syaRat ini, maka dia
telah beRmaksiat kepada pemimpin. Dalam sebuah hadits RasulullOh beRsabda”
”BaRang siapa yang menaatiku maka
telah menaati AllOh. Dan baRangsiapa yang memaksiatiku maka telah memaksiati
AllOh. BaRangsiapa yang menaati pemimpin maka telah menaatiku, dan baRang siapa
yang memaksiati pemimpin maka telah memaksiatiku.’’ (HR. BukhaRi)
Dalam hadits yang lain ROsulullOh shOllallahu ‘alaihi wa
sallam beRsabda: ”Sesungguhnya akan ada sesudahku paRa pemimpin yang
mementingkan diRi sendiRi dan akan teRlihat suatu peRkaRa yang kalian ingkaRi.
PaRa shahabat beRtanya: “Wahai ROsulullOh
apa yang anda peRintahkan jika kami menjumpai hal itu?, Nabi menjawab;
Tunaikanlah hak yang diwajibkan atas kalian dan mintalah kepada AllOh hak
kalian.” (HR. Muslim,).
Dalam hadits yang lain
ROsulullOh shOllallahu ‘alaihi wa sallam beRsabda, Wajib bagi seORang muslim
untuk mendengaR dan taat dalam peRkaRa apa yang dia senangi dan yang dibenci
kecuali apabila dipeRintah beRbuat maksiat. Apabila (pemimpin) memeRintahkan
kemaksiatan, maka tidak usah mendengaR dan taat.[Taat Kepada Pemimpin, Majalah Al-FuRqOn,
Edisi 8 TahunVI (Mei 2007),Compiled
by oRiDo™ ].
Para sahabat Rasulullah telah mencontohkan
kepada kita bagaimana ketaatan mereka kepada Allah, Rasul dan para pemimpinnya,
sebagai contoh dikala ada perintah untuk meninggalkan minuman khamar maka
ketika itu semua gentong, tempat-tempat air yang mengandung khamar ditumpahkan
bahkan ada gelas sedang berada di bibir mereka lansung dicampakkan, begitu
ketika ada perintah untuk memakai jilbab bagi para wanitanya, mereka lansung
merobek kain hordeng jendela dan taplak meja dijadikan sebagai jilbab untuk
menutup aurat, itu semua ujud dari ketaatan kepada perintah Allah, wallahu
a’lam, [Cubadak
Solok, 26 Juni 2011.M/ 24 Rajab 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar