Rabu, 02 Desember 2015

116. Andai aku tahu Bekerja Berpahala



Hidup manusia di dunia ini nampaknya sibuk dengan kegiatan yang tidak kunjung selesai, sejak dari bangun pagi hingga tidur  lagi, ada pekerjaan yang diprogram jangka pendek sehingga dalam waktu singkat pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan baik, ada program  jangka menengah  yang membutuhkan waktu tidak terlalu cepat tapi tidak terlalu lama dan program kerja jangka panjang yang berlansung sekian generasi.

            Selain setiap individu yang mengerahkan tenaga, fikiran dan perasaannya untuk menyelesaikan pekerjaan, keluarga juga punya target-target tertentu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, apalagi sebuah bangsa dan Negara tentu tidak luput dari program kerja yang harus diselesaikan, nampaknya manusia tidak lepas dirinya dari bekerja dan bekerja, apapun pekerjaan akan dilakukan oleh manusia sesuai dengan kapasitasnya, bekerja selain merupakan tuntutan hidup dia juga merupakan tuntutan untuk memenuhi kehidupan di dunia ini, tanpa bekerja tentu sulit untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Apapun profesi seseorang tidak jadi masalah karena sesuai dengan kapasitasnya dia akan memperoleh imbalan dari kerjanya, yang dilakukan secara baik, rapi dan profesional serta bertanggungjawab, bahkan kerjanya itu dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk keluarga disamakan dengan seorang muajhid"Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
 
Siapapun yang telah melangkahkan kakinya,  mengayunkan tangannya, mencurahkan tenaganya, memeras keringatnya karena mengerjakan suatu pekerjaan yang berat sekalipun untuk kebutuhan pribadi dan keluarganya maka tidaklah sia-sia, selain memperoleh pahala dari Allah dia juga akan diampuni, tentu semuanya dilandasi dengan keimanan yang mantap dan  amal yang disertai keikhlasan, "Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah" (HR. Ahmad)
 
Semua manusia punya salah dan dosa, yang harus diupayakan agar dosa dan kesalahan itu dapat hapus karena akan mengganggu perjalanan kehidupan seseorang hingga akherat kelak, ada dosa yang dapat hapus dari satu shalat ke shalat lainnya, ada dosa yang bisa diampuni dari satu jum'at ke jumat lainnya dan dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dari satu umrah ke umrah selanjutnya, kesusahan mencari nafkah dapat juga menghapuskan dosa seseorang sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah "Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah'' (HR. Ath-Thabrani)

 
Hikmah dari kemampuan mencari nafkah [qadirun alal kasbi] yaitu dapat memenuhi kebutuhan pribadi sehingga terjauh dari mengharapkan pemberian dari orang lain, hidupnya mandiri bahkan mampu untuk membantu orang yang membutuhkan, digambarkan dalam hadits Rasulullah, seorang lelaki yang sibuk setiap waktu untuk beribadah di masjid, sementara semua kebutuhannya dibiayai oleh adiknya, maka Rasuk menyatakan, adikmu lebih baik darimu, "Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak. (Mutafaq'alaih).

Rasulullah bersabda, "Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya"HR. Aththusi)
 
Rasulullah bersabda "Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari hasil keterampilan tangan" (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)
 
Rasulullah bersabda,"Sebaik-baik mata pencaharian ialah hasil keterampilan tangan seorang buruh apabila dia jujur (ikhlas). (HR. Ahmad)

Hasil usaha  sendiri kemudian dinikmati  mendatangkan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri walaupun tidak banyak, daripada banyak tapi hasil pencaharian orang lain, yaitu hasil dari pemberian, apalagi hasil dari meminta-minta, Rasulullah menyatakan,"Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri'' (HR.Bukhari), salah satu hikmah kenapa Nabi Muhammad mampu menolak tawaran dari  pamannya Abu Thalib berkaitan dengan datangnya kafir Quraisy yang menawarkan agar tidak lagi menyebarkan da'wah islam maka beliau akan diberi tiga hal yaitu harta yang banyak sehingga jadi orang kaya di Mekkah, diangkap sebagai pemimpin dan dicarikan wanita cantik sebagai isterinya, tapi hal itu dia tolak dengan ucapan “Wahai paman, seandainya mereka meletakkan bulan di pundakku sebelah kiri dan matahari sebelah kananku, agar aku meninggalkan da’wah ini, sungguh tidak akan berhenti sehingga aku mendapatkan kejayaan islam atau aku binasa karenanya”.

Kenapa Muhammad berani begitu kepada pamannya ? karena dia tinggal di rumah pamannya tidak gratis, dia ikut bekerja mencari nafkah, sejak kecil bekerja mengembalakan kambing dan setelah remaja hingga dewasa dia berdagang dengan Abu Thalib, artinya punya penghasilan dengan bekerja akan menimbulkan kemerdekaan dari pribadi seseorang, tidak mudah ditekan atau dijajah orang lain. 

Bagi  orang yang dibukakan pintu rezeki melalui usaha apapun yang menguntungkan maka sebaiknya ditekuni dengan maksimal, "Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka hendaklah dia melestarikannya"(HR. Al-Baihaqi) Yakni senantiasa bersungguh-sungguh dan konsentrasi di bidang usaha tersebut, serta jangan suka berpindah-pindah ke pintu-pintu rezeki lain atau berpindah-pindah usaha karena di khawatirkan pintu rezeki yang sudah jelas dibukakan tersebut menjadi hilang dari genggaman karena kesibukkan nya mengurus usaha yang lain. Seandainya memang mampu maka hal tersebut tidak mengapa.

            Bekerja adalah upaya menjemput rezeki Allah SWT.Tujuannya agar kebutuhan hidup dapat terpenuhi.Oleh karenanya, Rasulullah SAW mengajarkan prinsip-prinsip dalam menjemput rezeki.Yakni, yakin bahwa setiap manusia mendapat bagian rezeki; selalu memperbaiki cara-cara dalam menjemput rezeki; bersabar dengan rezeki yang belum kunjung datang; tidak menempuh cara-cara yang menyimpang dari sunatullah.
            Dalam proses mencari rezeki, seseorang akan menghadapi berbagai kendala dan rintangan. Rintangan terberat adalah ketika hati nurani tak lagi disertakan dalam bekerja, dan lebih memilih menuruti hawa nafsu. Ketika nafsu lepas kendali, rasa malu untuk melakukan keburukan tak ada lagi, segala macam cara dihalalkan, norma dan etika tak lagi penting, bahkan iman akan mudah dikorbankan. "Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi adalah 'jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu'." (HR Bukhari).

Bila kondisi semacam ini terus berlanjut, akan timbul perilaku-perilaku impulsif yang bisa menyeret pada kepribadian yang menyimpang (personality disorder). Tidak ada kecemasan ketika melakukan kejahatan dan seusai berbuat tak tebersit perasaan bersalah (guilty feeling), yang lebih ironis perbuatan jahatnya dianggap sesuatu yang wajar.

Perilaku seperti itu merugikan banyak pihak dan diri sendiri. Tidak saja lahan pekerjaan dan kepercayaan orang lain kepadanya yang terancam lenyap, tapi kerugian yang amat besar telah menantinya yaitu bangkrutnya kekayaan hakiki (hati nurani). Dan, pada saat hati nurani telah mati, tak ada lagi ukuran untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, setiap tindakan cenderung melampaui batas, perbuatan baik dan ketaatan menjadi sesuatu yang remeh, tak sadar bahwa hidup di dunia dalam genggaman Zat Pencipta yang setiap saat siap untuk dicabut, dan lupa bahwa kehidupan dunia menjadi penentu nasib di kehidupan akhirat yang kekal.[Republika online, Muhammad Saifudin Kodiran, Bekerja dengan Hati,Minggu, 10 April 2011 11:03 WIB].

Pekerjaan apa saja yang sedang diamanatkan maka harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, istilah agama disebut dengan ihsan dan itqan.Ihsan dan itqan adalah dua istilah yang terdapat dalam Alquran dan sunah yang berkaitan dengan amal perbuatan seorang Muslim yang harus dilakukannya dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini.Ihsan berarti optimalisasi dalam kebaikan. Artinya, kebaikan apa pun yang dilakukan seorang Muslim harus selalu optimal dalam persiapan dan pelaksanaannya, agar hasilnya didapat secara optimal pula. Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."

Jika seorang Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya. Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.

Seorang Muslim yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui."

Sedangkan, itqan berarti kesungguhan dan kemantapan dalam melaksanakan suatu tugas, sehingga dikerjakannya secara maksimal, tidak asal-asalan, sampai dengan pekerjaan tersebut tuntas dan selesai dengan baik.Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan." (HR Thabrani).

Karena itu, ihsan dan itqan harus selalu menjadi ruh dan spirit bagi setiap Muslim dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, sehingga pekerjaannya itu akan selalu bernilai ibadah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat [Republika Online, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc,Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban Tugas,Jumat, 06 Mei 2011 11:35 WIB].

Pekerjaan yang dilakukan dengan ihsan dan itqan akan menghasilkan buah bagi pelakunya dan akan dinikmati oleh pemakainya, tidak semua orang bisa bekerja dengan ihsan dan itqan, ini membutuhkan ketekunan untuk melakukannya.

Di sebuah negeri hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan.Mereka adalah pengrajin emas dan pengrajin kuningan.Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu, sebab itu adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan: cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil kerja itu ke kota. Hari pasar, demikian mereka menyebut hari itu. Mereka akan menjual barang-barang logam itu dan membeli keperluan selama sebulan. Beruntunglah pekan depan akan ada rombongan tamu agung mengunjungi kota dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang.Tentu, berita ini mendorong para pedagang agar membuat lebih banyak barang untuk dijajakan.Tak terkecuali dua orang pengrajin yang menjadi tokoh kita ini.
Siang-malam terdengar suara logam ditempa. Tungku-tungku api seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang membara seakan mewakili semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah dihiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias telah dihasilkan.Hari pasar makin dekat. Dan, lusa adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota.

Hari pasar telah tiba dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan.Keduanya pun berjejer berdampingan.Tampaklah barang-barang logam yang telah dihasilkan.Namun, ah sayang.., ada kontras diantara keduanya.Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam.Warnanya tidak berkilau.Ulir-ulirnya kasar.Pokok-pokok simpul rantai tidak rapi.Seakan pembuatnya adalah orang yang tergesa-gesa.

”Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasan kawannya tampak kusam.”Setiap orang akan memilih daganganku, sebab emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi.”Apalah artinya logam buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya. Aku akan membawa uang lebih banyak darimu”

Pengrajin kuningan hanya tersenyum.Ketekunannya mengasah logam membuat semua hasil karyanya lebih bersinar.Ulir-ulirnya halus.Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperti lingkaran yang tak putus.Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap dipandang mata.

Ketekunan memang mahal.Hampir semua orang yang lewat tak menaruh perhatian pada pengrajin emas.Mereka lebih suka mendatangi cincin dan kalung kuningan.Begitupun tetamu agung yang berkenan datang.Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia.Sebab, emas itu tidaklah cukup membuat mereka tertarik dan mau membelinya.Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu.Perajin emas tertegun diam dan perajin kuningan tersenyum senang.

Hari pasar usai.Para tetamu telah kembali pulang.Kedua pengrajin itu pun telah membereskan barang dagangan. Dan, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.[Internet].

Bekerja dengan ketekunan tentu akan membuahkan hasil yang memadai bahkan dapat mengubah nasib seseorang dari hasil yang diperolehnya berupa finansial yang dapat digunakan untuk kepentingan hidup dengan standard memadai terlengkapinya sandang, pangan dan papan.

Kerja keras untuk sebuah keluarga hingga menjadi komunitas masyarakat dan bangsa membutuhkan energy yang tidak sedikit dan waktu yang tidak pendek.Ini yang dilakukan oleh keluarga Ibrahim untuk memulai sebuah keluarga yang baru dibinanya, dengan bekerja, usaha dan doalah keberhasilan dapat diraihnya.

Lebih dari 4000 tahun lalu tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan Ismail – berjalan kaki sejauh lebih dari 2000 km – atau sejauh Makassar Jakarta – dari negeri Syam – yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju jazirah  tandus – yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun –.

Bayangkanlah bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.Bayangkanlah bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru. Bayangkanlah bagaimana 42 generasi dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun hingga Nabi Muhammad saw. membawa agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin peradaban dunia.

Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan akan ditawafi sekitar 12 juta manusia setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:
 “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat..maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..” ( Surat Ibrahim: 37).

Bayangkanlah bagaimana jazirah yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti doa Ibrahim:
 “Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak..”(Surat Al Baqarah: 126)

Bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi yang melanjutkan pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad saw menutup mata rantai kenabian di lembah itu, lalu kini – 1500 tahun kemudian – agama itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, persis seperti doa Ibrahim:
 “Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al Baqarah 129)

Bayangkanlah bagaimana – dari sebuah kampung kecil di Irak bernama Azar – Nabi Ibrahim datang seorang diri membawa agama samawi ini, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu garis dari istrinya Hajar yang menurunkan Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah lebih dari 4 millenium agama samawi itu – Islam, Kristen dan Yahudi – dipeluk oleh lebih dari 4 milyar manusia.[Website Eramuslim,Muhammad Anis Matta, Lc.Khutbah Idul Adha 1431 H: Jalan Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja Dan Berkorban ,12/11/2010 | 05 Zulhijjah 1431 H|.

Ternyata kerja yang dilakukan dengan ketekunan, ihsan dan itqan bukan hanya menghasilkan rezeki untuk kehidupan manusia tapi juga kemuliaan dan harga diri apalagi pekerjaan itu jelas-jelas untuk kepentingan yang lebih besar lagi yaitu kepentingan risalah dan da’wah islamiyyah. Karena memang tugas manusia hanya bekerja seoptimal mungkin dengan daya dan upaya maksimal,  sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah. Bekerja memang suatu kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS an-Nahl [16]: 97).

Firman Allah SWT di atas menggambarkan secara jelas bahwa Islam adalah ajaran yang mengutamakan dan mendahulukan pelaksanaan dan pemenuhan kewajiban.Barulah kemudian menerima dan mendapatkan haknya sebagai balasan dari amal perbuatannya tersebut.Dan, bukan sebaliknya.

Setiap orang yang melaksanakan kewajiban, cepat atau lambat, baik langsung maupun tidak langsung, pasti akan mendapatkan haknya. Tetapi, tidak setiap orang yang menuntut hak dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik. Allah SWT berfirman dalam ayat yang lain, yaitu QS an-Najm [53] ayat 39, "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."

Sebagai contoh, sebuah rumah tangga akan menjadi keluarga yang bahagia manakala pasangan suami istri melaksanakan kewajibannya masing-masing dengan baik dan bukan saling menuntut hak. Alquran surah an-Nisa [4] ayat 34 menggambarkan bahwa kewajiban suami dan istri itu ada dua.
Kewajiban suami adalah mendidik, membimbing, mengayomi istri serta anaknya (qowwaamun), dan mencari nafkah untuk kepentingan keluarganya.Sedangkan kewajiban istri yang pertama adalah tunduk dan patuh kepada suaminya atas dasar kepatuhan dan ketundukan pada Allah SWT.Kewajiban kedua, menjaga diri dan kehormatannya serta kehormatan keluarganya.

Seorang pemimpin pun memiliki kewajiban untuk berlaku adil dan berpihak kepada masyarakat dan rakyatnya sehingga masyarakat terlindungi dan tersejahterakan dengan baik. Bukan sebaliknya, hidup dengan fasilitas yang berlebih-lebihan, tetapi tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.[Republika Online, KH Didin Hafidhuddin, Mendahulukan Kewajiban ,Rabu, 06 April 2011 08:36 WIB].

Semua kita berkewajiban untuk bekerja sesuai dengan kualitas dan kapasitas  masing-masing, orang buta mendapat tugas untuk menunggu lesung, orang pekak diserahi pekerjaan untuk membunyikan meriam dan orang lumpuh untuk mengusir-usir ayam, begitu diibaratkan oleh orang-orang dahulu, semuanya mendapat porsi pekerjaannya.

Karena tuntutan hidup pula banyak orang yang bekerja untuk melebihi keperluannya sehingga dapat mengumpulkan harta yang banyak untuk hidup dihari tua hingga sekian generasi, selain itu diperoleh juga kekuasaan yang mengokohkan eksistensinya, tapi kehidupan ini akan berangsur surut, pensiun akan datang dan semuanya akan berakhir.

Di balik peristiwa sejarah menyimpan proses pembelajaran, muhasabah (koreksi diri), dan kearifan. Di pentas sejarah kita bisa mengambil ibrah, bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir, fana.

Yang namanya fana, mana ada kehidupan yang abadi di dunia ini?Mana ada kekuasaan tanpa pensiun?Mana ada jabatan yang kekal?Mana ada manusia yang hidup secara terus-menerus? Dari sel sperma dan sel telur yang menyatu menjadi janin, dari janin menjadi bayi, anak-anak, pemuda, usia lanjut, dan beruban, kematian  adalah suatu keniscayaan dalam peta realitas kehidupan. “Semua yang ada di bumi itu akan binasa.Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”(QS. Ar Rahman : 26-27).

Ingatlah, kehidupan dan segala karakteristik yang melekat di dalammya selalu berubah.Tidak ada peristiwa kehidupan ini yang langgeng. Suka dan duka, tertawa dan menangis, sedih dan gembira, untung dan rugi, sukses dan gagal, jaya dan nestapa, naik dan turun, gelap dan terang, kuat dan lemah, di atas dan di bawah adalah deretan panjang kehidupan. Perubahan kondisi adalah ujian sekaligus romantika kehidupan.Semuanya tidak ada yang kekal.Yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri.

Kekuasaan dan kekayaan tidak menjamin kebahagiaan hidup seseorang, keluarga dan bangsa.Tahta dan harta hanyalah wasilah (alat) untuk mengoptimalkan pengabdian hanya kepada Allah.Harta dan tahta bukan modal pertama dan utama dalam meraih kesuksesan hidup.Islam tidak mengharamkan harta dan tahta tetapi, mampukah kita mensucikan keduanya dari pencemaran berbagai kepentingan hawa nafsu? Jika kita tidak berhasil mensterilkan tahta dan harta dari kotoran dosa dan kontaminasi kepentingan pribadi, akan mencelakakan kita sendiri.

Mari kita renungi dalam-dalam nasehat seorang ahli sastra Arab:Apabila engkau mengantar janazah di atas keranda ke kuburan, ingatlah suatu saat engkau akan digotong juga.Dan apabila engkau diserahi urusan kaum, sadarilah suatu saat engkau akan diturunkan.[Shalih Hasyim,Agar “Pensiun” Kita Lebih Berkah ,hidayatullah.com,Friday, 25 June 2010 13:54].

Bekerjalah selama kemampuan untuk bekerja itu masih ada, bekerjalah walaupun besok kiamat akan terjadi sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah, Bila di tanganmu masih ada bibit kurma maka  tanamlah meskipun kau tahu besok akan kiamat, wallahu a’lam [Mengkoang Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar