Hidup manusia di
dunia ini nampaknya sibuk dengan kegiatan yang tidak kunjung selesai, sejak
dari bangun pagi hingga tidur lagi, ada
pekerjaan yang diprogram jangka pendek sehingga dalam waktu singkat pekerjaan
itu dapat diselesaikan dengan baik, ada program
jangka menengah yang membutuhkan
waktu tidak terlalu cepat tapi tidak terlalu lama dan program kerja jangka
panjang yang berlansung sekian generasi.
Selain setiap individu yang mengerahkan tenaga, fikiran
dan perasaannya untuk menyelesaikan pekerjaan, keluarga juga punya
target-target tertentu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, apalagi sebuah
bangsa dan Negara tentu tidak luput dari program kerja yang harus diselesaikan,
nampaknya manusia tidak lepas dirinya dari bekerja dan bekerja, apapun
pekerjaan akan dilakukan oleh manusia sesuai dengan kapasitasnya, bekerja
selain merupakan tuntutan hidup dia juga merupakan tuntutan untuk memenuhi
kehidupan di dunia ini, tanpa bekerja tentu sulit untuk memperoleh sesuatu yang
diinginkan.
Apapun profesi seseorang tidak jadi masalah karena sesuai dengan
kapasitasnya dia akan memperoleh imbalan dari kerjanya, yang dilakukan secara
baik, rapi dan profesional serta bertanggungjawab, bahkan kerjanya itu dalam
rangka memenuhi kebutuhan untuk keluarga disamakan dengan seorang muajhid"Sesungguhnya
Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli).
Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa
dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
Siapapun yang telah melangkahkan
kakinya, mengayunkan tangannya,
mencurahkan tenaganya, memeras keringatnya karena mengerjakan suatu pekerjaan
yang berat sekalipun untuk kebutuhan pribadi dan keluarganya maka tidaklah
sia-sia, selain memperoleh pahala dari Allah dia juga akan diampuni, tentu
semuanya dilandasi dengan keimanan yang mantap dan amal yang disertai keikhlasan, "Barangsiapa
pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada
siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah" (HR. Ahmad)
Semua manusia punya salah dan dosa,
yang harus diupayakan agar dosa dan kesalahan itu dapat hapus karena akan
mengganggu perjalanan kehidupan seseorang hingga akherat kelak, ada dosa yang
dapat hapus dari satu shalat ke shalat lainnya, ada dosa yang bisa diampuni
dari satu jum'at ke jumat lainnya dan dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya
dari satu umrah ke umrah selanjutnya, kesusahan mencari nafkah dapat juga
menghapuskan dosa seseorang sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah "Sesungguhnya
di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat,
sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam
mencari nafkah'' (HR. Ath-Thabrani)
Hikmah dari kemampuan mencari
nafkah [qadirun alal kasbi] yaitu dapat memenuhi kebutuhan pribadi sehingga
terjauh dari mengharapkan pemberian dari orang lain, hidupnya mandiri bahkan
mampu untuk membantu orang yang membutuhkan, digambarkan dalam hadits Rasulullah,
seorang lelaki yang sibuk setiap waktu untuk beribadah di masjid, sementara
semua kebutuhannya dibiayai oleh adiknya, maka Rasuk menyatakan, adikmu lebih
baik darimu, "Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan
mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya
digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari
seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang
ditolak. (Mutafaq'alaih).
Rasulullah
bersabda, "Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan
dan kemauan kerasnya serta ambisinya"HR. Aththusi)
Rasulullah bersabda "Mata
pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan dan dari
hasil keterampilan tangan" (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)
Rasulullah bersabda,"Sebaik-baik
mata pencaharian ialah hasil keterampilan tangan seorang buruh apabila dia
jujur (ikhlas). (HR. Ahmad)
Hasil
usaha sendiri kemudian dinikmati mendatangkan kebanggaan dan kebahagiaan
tersendiri walaupun tidak banyak, daripada banyak tapi hasil pencaharian orang
lain, yaitu hasil dari pemberian, apalagi hasil dari meminta-minta, Rasulullah
menyatakan,"Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan
sendiri'' (HR.Bukhari), salah satu hikmah kenapa Nabi Muhammad mampu
menolak tawaran dari pamannya Abu Thalib
berkaitan dengan datangnya kafir Quraisy yang menawarkan agar tidak lagi
menyebarkan da'wah islam maka beliau akan diberi tiga hal yaitu harta yang
banyak sehingga jadi orang kaya di Mekkah, diangkap sebagai pemimpin dan
dicarikan wanita cantik sebagai isterinya, tapi hal itu dia tolak dengan ucapan
“Wahai paman, seandainya mereka meletakkan bulan
di pundakku sebelah kiri dan matahari sebelah kananku, agar aku meninggalkan
da’wah ini, sungguh tidak akan berhenti sehingga aku mendapatkan kejayaan islam
atau aku binasa karenanya”.
Kenapa Muhammad berani begitu kepada pamannya ? karena
dia tinggal di rumah pamannya tidak gratis, dia ikut bekerja mencari nafkah,
sejak kecil bekerja mengembalakan kambing dan setelah remaja hingga dewasa dia
berdagang dengan Abu Thalib, artinya punya penghasilan dengan bekerja akan
menimbulkan kemerdekaan dari pribadi seseorang, tidak mudah ditekan atau
dijajah orang lain.
Bagi orang yang
dibukakan pintu rezeki melalui usaha apapun yang menguntungkan maka sebaiknya
ditekuni dengan maksimal, "Apabila dibukakan bagi seseorang pintu
rezeki maka hendaklah dia melestarikannya"(HR. Al-Baihaqi) Yakni
senantiasa bersungguh-sungguh dan konsentrasi di bidang usaha tersebut, serta
jangan suka berpindah-pindah ke pintu-pintu rezeki lain atau berpindah-pindah
usaha karena di khawatirkan pintu rezeki yang sudah jelas dibukakan tersebut
menjadi hilang dari genggaman karena kesibukkan nya mengurus usaha yang lain. Seandainya
memang mampu maka hal tersebut tidak mengapa.
Bekerja adalah upaya menjemput rezeki Allah SWT.Tujuannya
agar kebutuhan hidup dapat terpenuhi.Oleh karenanya, Rasulullah SAW mengajarkan
prinsip-prinsip dalam menjemput rezeki.Yakni, yakin bahwa setiap manusia
mendapat bagian rezeki; selalu memperbaiki cara-cara dalam menjemput rezeki;
bersabar dengan rezeki yang belum kunjung datang; tidak menempuh cara-cara yang
menyimpang dari sunatullah.
Dalam proses mencari rezeki, seseorang akan menghadapi
berbagai kendala dan rintangan. Rintangan terberat adalah ketika hati nurani
tak lagi disertakan dalam bekerja, dan lebih memilih menuruti hawa nafsu.
Ketika nafsu lepas kendali, rasa malu untuk melakukan keburukan tak ada lagi, segala
macam cara dihalalkan, norma dan etika tak lagi penting, bahkan iman akan mudah
dikorbankan. "Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia
dari perkataan para nabi adalah 'jika engkau tidak malu, berbuatlah
sesukamu'." (HR Bukhari).
Bila
kondisi semacam ini terus berlanjut, akan timbul perilaku-perilaku impulsif
yang bisa menyeret pada kepribadian yang menyimpang (personality disorder).
Tidak ada kecemasan ketika melakukan kejahatan dan seusai berbuat tak tebersit
perasaan bersalah (guilty feeling), yang lebih ironis perbuatan jahatnya
dianggap sesuatu yang wajar.
Perilaku seperti itu merugikan
banyak pihak dan diri sendiri. Tidak saja lahan pekerjaan dan kepercayaan orang
lain kepadanya yang terancam lenyap, tapi kerugian yang amat besar telah
menantinya yaitu bangkrutnya kekayaan hakiki (hati nurani). Dan, pada saat hati
nurani telah mati, tak ada lagi ukuran untuk membedakan antara yang baik dan
yang buruk, setiap tindakan cenderung melampaui batas, perbuatan baik dan
ketaatan menjadi sesuatu yang remeh, tak sadar bahwa hidup di dunia dalam
genggaman Zat Pencipta yang setiap saat siap untuk dicabut, dan lupa bahwa
kehidupan dunia menjadi penentu nasib di kehidupan akhirat yang kekal.[Republika online, Muhammad Saifudin
Kodiran, Bekerja
dengan Hati,Minggu, 10 April 2011 11:03 WIB].
Pekerjaan apa saja yang sedang diamanatkan maka harus
dilakukan dengan sebaik-baiknya, istilah agama disebut dengan ihsan dan itqan.Ihsan
dan itqan adalah dua istilah yang terdapat dalam Alquran dan sunah yang
berkaitan dengan amal perbuatan seorang Muslim yang harus dilakukannya dalam
hidup dan kehidupannya di dunia ini.Ihsan berarti optimalisasi dalam kebaikan.
Artinya, kebaikan apa pun yang dilakukan seorang Muslim harus selalu optimal
dalam persiapan dan pelaksanaannya, agar hasilnya didapat secara optimal pula.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati
dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya
(optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."
Jika seorang Muslim sedang
melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, baik ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya. Ketika
melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara pelaksanaannya
disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga betul-betul
predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan mempertahankannya
ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.
Seorang Muslim yang sedang
mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif, ataupun
yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar betul-betul
mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa di
wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan ciri utama
dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan
dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada
Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.
Allah SWT berfirman dalam QS
al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati
amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui."
Sedangkan, itqan berarti kesungguhan
dan kemantapan dalam melaksanakan suatu tugas, sehingga dikerjakannya secara
maksimal, tidak asal-asalan, sampai dengan pekerjaan tersebut tuntas dan
selesai dengan baik.Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah sangat
mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan
tersebut dilakukannya dengan itqan." (HR Thabrani).
Karena itu, ihsan dan itqan
harus selalu menjadi ruh dan spirit bagi setiap Muslim dalam melaksanakan tugas
dan pekerjaannya, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama
manusia, sehingga pekerjaannya itu akan selalu bernilai ibadah dan memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat [Republika Online, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc,Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban
Tugas,Jumat, 06 Mei 2011 11:35 WIB].
Pekerjaan yang dilakukan dengan ihsan dan itqan akan
menghasilkan buah bagi pelakunya dan akan dinikmati oleh pemakainya, tidak
semua orang bisa bekerja dengan ihsan dan itqan, ini membutuhkan ketekunan
untuk melakukannya.
Di sebuah negeri hiduplah dua
orang pengrajin yang tinggal bersebelahan.Mereka adalah pengrajin emas dan
pengrajin kuningan.Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu, sebab itu
adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang
yang dihasilkan: cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias.
Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil kerja itu ke kota. Hari pasar, demikian mereka menyebut hari itu. Mereka akan menjual barang-barang logam itu dan membeli keperluan selama sebulan. Beruntunglah pekan depan akan ada rombongan tamu agung mengunjungi kota dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang.Tentu, berita ini mendorong para pedagang agar membuat lebih banyak barang untuk dijajakan.Tak terkecuali dua orang pengrajin yang menjadi tokoh kita ini.
Siang-malam terdengar suara
logam ditempa. Tungku-tungku api seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang
membara seakan mewakili semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak
pernah dihiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya
masing-masing.Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias telah
dihasilkan.Hari pasar makin dekat. Dan, lusa adalah waktu yang tepat untuk
berangkat ke kota.
Hari pasar telah tiba dan
keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang
dagangan siap dijajakan.Keduanya pun berjejer berdampingan.Tampaklah
barang-barang logam yang telah dihasilkan.Namun, ah sayang.., ada kontras
diantara keduanya.Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat
oleh pengrajin emas tampak kusam.Warnanya tidak berkilau.Ulir-ulirnya
kasar.Pokok-pokok simpul rantai tidak rapi.Seakan pembuatnya adalah orang yang
tergesa-gesa.
”Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasan kawannya tampak kusam.”Setiap orang akan memilih daganganku, sebab emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi.”Apalah artinya logam buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya. Aku akan membawa uang lebih banyak darimu”
”Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasan kawannya tampak kusam.”Setiap orang akan memilih daganganku, sebab emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi.”Apalah artinya logam buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya. Aku akan membawa uang lebih banyak darimu”
Pengrajin kuningan hanya
tersenyum.Ketekunannya mengasah logam membuat semua hasil karyanya lebih
bersinar.Ulir-ulirnya halus.Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat
seperti lingkaran yang tak putus.Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap
dipandang mata.
Ketekunan memang mahal.Hampir
semua orang yang lewat tak menaruh perhatian pada pengrajin emas.Mereka lebih
suka mendatangi cincin dan kalung kuningan.Begitupun tetamu agung yang berkenan
datang.Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan
logam mulia.Sebab, emas itu tidaklah cukup membuat mereka tertarik dan mau
membelinya.Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu.Perajin emas
tertegun diam dan perajin kuningan tersenyum senang.
Hari pasar usai.Para tetamu
telah kembali pulang.Kedua pengrajin itu pun telah membereskan barang dagangan.
Dan, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari
itu.[Internet].
Bekerja dengan ketekunan tentu
akan membuahkan hasil yang memadai bahkan dapat mengubah nasib seseorang dari
hasil yang diperolehnya berupa finansial yang dapat digunakan untuk kepentingan
hidup dengan standard memadai terlengkapinya sandang, pangan dan papan.
Kerja keras untuk sebuah
keluarga hingga menjadi komunitas masyarakat dan bangsa membutuhkan energy yang
tidak sedikit dan waktu yang tidak pendek.Ini yang dilakukan oleh keluarga
Ibrahim untuk memulai sebuah keluarga yang baru dibinanya, dengan bekerja,
usaha dan doalah keberhasilan dapat diraihnya.
Lebih dari 4000 tahun lalu
tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan Ismail – berjalan kaki sejauh lebih
dari 2000 km – atau sejauh Makassar Jakarta – dari negeri Syam – yang sekarang
menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju jazirah tandus –
yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun –.
Bayangkanlah bagaimana mereka
memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.Bayangkanlah
bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru. Bayangkanlah bagaimana
42 generasi dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun hingga Nabi Muhammad
saw. membawa agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan
pemimpin peradaban dunia.
Bayangkanlah bagaimana Ka’bah
pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi
sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji
– dan dalam beberapa tahun ke depan akan ditawafi sekitar 12 juta manusia
setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa
sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi
tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka
mendirikan sholat..maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..”
( Surat Ibrahim: 37).
Bayangkanlah bagaimana jazirah
yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah
menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti
doa Ibrahim:
“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya
Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada
penduduknya berupa buah-buahan yang banyak..”(Surat Al Baqarah: 126)
Bayangkanlah bagaimana Nabi
Ibrahim bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi
yang melanjutkan pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad saw menutup mata
rantai kenabian di lembah itu, lalu kini – 1500 tahun kemudian – agama itu
diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, persis seperti doa
Ibrahim:
“Ya Tuhan
Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al
kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al Baqarah
129)
Bayangkanlah bagaimana – dari
sebuah kampung kecil di Irak bernama Azar – Nabi Ibrahim datang seorang diri
membawa agama samawi ini, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari
istrinya Sarah yang menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu garis dari
istrinya Hajar yang menurunkan Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah lebih
dari 4 millenium agama samawi itu – Islam, Kristen dan Yahudi – dipeluk oleh
lebih dari 4 milyar manusia.[Website Eramuslim,Muhammad Anis Matta, Lc.Khutbah Idul Adha 1431 H: Jalan Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah
Bekerja Dan Berkorban ,12/11/2010 | 05 Zulhijjah 1431 H|.
Ternyata kerja yang dilakukan dengan ketekunan, ihsan dan
itqan bukan hanya menghasilkan rezeki untuk kehidupan manusia tapi juga
kemuliaan dan harga diri apalagi pekerjaan itu jelas-jelas untuk kepentingan
yang lebih besar lagi yaitu kepentingan risalah dan da’wah islamiyyah. Karena
memang tugas manusia hanya bekerja seoptimal mungkin dengan daya dan upaya
maksimal, sedangkan hasilnya diserahkan
kepada Allah. Bekerja memang suatu kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan
begitu saja.
"Barang siapa yang
mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS an-Nahl [16]: 97).
Firman Allah SWT di atas
menggambarkan secara jelas bahwa Islam adalah ajaran yang mengutamakan dan
mendahulukan pelaksanaan dan pemenuhan kewajiban.Barulah kemudian menerima dan
mendapatkan haknya sebagai balasan dari amal perbuatannya tersebut.Dan, bukan
sebaliknya.
Setiap orang yang melaksanakan
kewajiban, cepat atau lambat, baik langsung maupun tidak langsung, pasti akan
mendapatkan haknya. Tetapi, tidak setiap orang yang menuntut hak dapat
melaksanakan kewajibannya dengan baik. Allah SWT berfirman dalam ayat yang
lain, yaitu QS an-Najm [53] ayat 39, "Dan bahwasanya seorang manusia tiada
memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."
Sebagai contoh, sebuah rumah
tangga akan menjadi keluarga yang bahagia manakala pasangan suami istri
melaksanakan kewajibannya masing-masing dengan baik dan bukan saling menuntut
hak. Alquran surah an-Nisa [4] ayat 34 menggambarkan bahwa kewajiban suami dan
istri itu ada dua.
Kewajiban suami adalah
mendidik, membimbing, mengayomi istri serta anaknya (qowwaamun), dan mencari
nafkah untuk kepentingan keluarganya.Sedangkan kewajiban istri yang pertama
adalah tunduk dan patuh kepada suaminya atas dasar kepatuhan dan ketundukan
pada Allah SWT.Kewajiban kedua, menjaga diri dan kehormatannya serta kehormatan
keluarganya.
Seorang pemimpin pun memiliki
kewajiban untuk berlaku adil dan berpihak kepada masyarakat dan rakyatnya
sehingga masyarakat terlindungi dan tersejahterakan dengan baik. Bukan
sebaliknya, hidup dengan fasilitas yang berlebih-lebihan, tetapi tidak
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.[Republika Online, KH Didin Hafidhuddin, Mendahulukan Kewajiban ,Rabu, 06 April
2011 08:36 WIB].
Semua kita berkewajiban untuk
bekerja sesuai dengan kualitas dan kapasitas
masing-masing, orang buta mendapat tugas untuk menunggu lesung, orang
pekak diserahi pekerjaan untuk membunyikan meriam dan orang lumpuh untuk
mengusir-usir ayam, begitu diibaratkan oleh orang-orang dahulu, semuanya
mendapat porsi pekerjaannya.
Karena tuntutan hidup pula banyak
orang yang bekerja untuk melebihi keperluannya sehingga dapat mengumpulkan
harta yang banyak untuk hidup dihari tua hingga sekian generasi, selain itu
diperoleh juga kekuasaan yang mengokohkan eksistensinya, tapi kehidupan ini
akan berangsur surut, pensiun akan datang dan semuanya akan berakhir.
Di balik peristiwa sejarah menyimpan proses pembelajaran,
muhasabah (koreksi diri), dan kearifan. Di pentas sejarah kita bisa mengambil
ibrah, bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir, fana.
Yang namanya fana, mana ada kehidupan yang abadi di dunia
ini?Mana ada kekuasaan tanpa pensiun?Mana ada jabatan yang kekal?Mana ada
manusia yang hidup secara terus-menerus? Dari sel sperma dan sel telur yang
menyatu menjadi janin, dari janin menjadi bayi, anak-anak, pemuda, usia lanjut,
dan beruban, kematian adalah suatu keniscayaan dalam peta realitas
kehidupan. “Semua yang ada di bumi itu akan binasa.Dan tetap kekal Dzat
Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”(QS. Ar Rahman : 26-27).
Ingatlah, kehidupan dan segala karakteristik yang melekat
di dalammya selalu berubah.Tidak ada peristiwa kehidupan ini yang langgeng.
Suka dan duka, tertawa dan menangis, sedih dan gembira, untung dan rugi, sukses
dan gagal, jaya dan nestapa, naik dan turun, gelap dan terang, kuat dan lemah,
di atas dan di bawah adalah deretan panjang kehidupan. Perubahan kondisi adalah
ujian sekaligus romantika kehidupan.Semuanya tidak ada yang kekal.Yang abadi
hanyalah perubahan itu sendiri.
Kekuasaan dan kekayaan tidak menjamin kebahagiaan hidup seseorang, keluarga dan bangsa.Tahta dan harta hanyalah wasilah (alat) untuk mengoptimalkan pengabdian hanya kepada Allah.Harta dan tahta bukan modal pertama dan utama dalam meraih kesuksesan hidup.Islam tidak mengharamkan harta dan tahta tetapi, mampukah kita mensucikan keduanya dari pencemaran berbagai kepentingan hawa nafsu? Jika kita tidak berhasil mensterilkan tahta dan harta dari kotoran dosa dan kontaminasi kepentingan pribadi, akan mencelakakan kita sendiri.
Kekuasaan dan kekayaan tidak menjamin kebahagiaan hidup seseorang, keluarga dan bangsa.Tahta dan harta hanyalah wasilah (alat) untuk mengoptimalkan pengabdian hanya kepada Allah.Harta dan tahta bukan modal pertama dan utama dalam meraih kesuksesan hidup.Islam tidak mengharamkan harta dan tahta tetapi, mampukah kita mensucikan keduanya dari pencemaran berbagai kepentingan hawa nafsu? Jika kita tidak berhasil mensterilkan tahta dan harta dari kotoran dosa dan kontaminasi kepentingan pribadi, akan mencelakakan kita sendiri.
Mari kita renungi dalam-dalam nasehat seorang ahli sastra
Arab:Apabila engkau mengantar janazah
di atas keranda ke kuburan, ingatlah suatu saat engkau akan digotong juga.Dan
apabila engkau diserahi urusan kaum, sadarilah suatu saat engkau akan
diturunkan.[Shalih Hasyim,Agar
“Pensiun” Kita Lebih Berkah ,hidayatullah.com,Friday,
25 June 2010 13:54].
Bekerjalah selama kemampuan
untuk bekerja itu masih ada, bekerjalah walaupun besok kiamat akan terjadi
sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah, Bila di tanganmu masih ada bibit
kurma maka tanamlah meskipun kau tahu
besok akan kiamat, wallahu a’lam [Mengkoang
Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar