Seorang mukmin dituntut untuk menyampaikan risalah islam
ini semampunya yang kita kenal dengan da'wah, bahkan Rasulullah bersabda, ”Sampaikan
apa yang engkau peroleh dariku meskipun satu ayat”.
Ceramah atau tabligh
bukanlah segala-galanya, dia merupakan bagian awal dari da’wah melalui
fase-fase yang rapi, tidaklah disebut da’wah bila hanya mengandalkan ceramah
atau tabligh saja, seorang da’i
seharusnya menguasai marhalah atau fase-fase dalam da’wah sehingga dalam waktu
yang ditargetkan dapat melahirkan syakhsiyah islamiyyah yaitu pribadi islam
yang militansinya dapat diandalkan untuk mengasung da’wah ini bersama jajaran
da’i lainnya; ”Kamu adalah ummat terbaik yang
dikeluarkan dikalangan manusia, karena memerintahkan kepada yang ma’ruf dan
mencegah dari perbuatan mungkar, dan beriman kepada Allah”[Ali Imran
3;110].
Suatu hari Anas
bin Nadhar kacewa karena dia tidak ikut
dalam perang Badar, padahal saat itu kemenangan dipihak ummat islam,
yang dia sesalkan bukan kemenangan itu, tapi dalam kemenangan itu tidak ada
kontribusinya. Dari realitas
keberhasilan da’wah islam itu, adakah keterlibatan kita sebagai mubaligh di
dalamnya atau hanya kita sibuk dengan ceramah tanpa melakukan pembinaan, da’wah
bukanlah ceramah saja tapi adalah pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa
dilepaskan metode ceramah.
Dalam rangka
mengembangkan sayap da’wah ke tengah masyarakat sehingga da’wah itu betul-betul
mereka rasakan, banyak sarana yang dapat dipakai diantaranya berupa tulisan
yang tersaji dalam bentuk artikel atau makalah, semua itu untuk nashrul fikrah
[penyebaran ide-ide] yang islami sekaligus mengantisipasi pemikiran-pemikiran
yang berkembang tidak islami, cendrung menyesatkan sehingga idiologi seorang muslim
terkontaminasi oleh segala isme yang diciptakan manusia. Sebuah ungkapan
mengatakan bahwa seorang muslim itu mempunyai dua kiblat, ketika shalat
kiblatnya jelas ke ka’bah tapi segala tindak tanduk diluar shalat mereka
berkiblat ke barat.
Allah memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah
menyandang predikat muslim dan da’i untuk meluruskan pandangan ummat agar
berberak bersama islam dan berjalan menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl
16;125 diterangkan, ”Ajaklah manusia itu
ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta beragumentasilah
dengan mereka dengan cara yang baik pula”.
Rasulullah menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah apa yang telah anda terima
dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini menunjukkan betapa pentingnya da’wah
demi keselamatan hidup manusia di dunia hingga akherat. Bahkan seorang syaikh
bernama Dr. Musthafa Mashur menyatakan, ”Nahnu
Du’at qabla kulli syai’” artinya kami adalah da’i sebelum menjadi sesuatu
apapun.
Ketika berda'wah kita juga harus berhati-hati karena
makna da'wah itu asalnya adalah mengajak, kalau mengajak tentu dengan cara yang
santun agar orang mau untuk mengikuti ajakan kita; "Serulah (manusia)
kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. SesungguhnyaTuhanmudialah yang
lebihmengetahuitentangsiapa yang tersesatdarijalan-Nyadandialah yang
lebihmengetahui orang-orang yang mendapatpetunjuk." [An Nahl
16;125].
SuatuketikacucuRasulullah yang
bernamaHasandanHusenmenyaksikanseorangnenek yang sedangberwudhu,
namunwuhdu'nyatidaklahsesuaidenganapa yang diajarkanolehRasulullah,
untukmenegurnenekinitentusuatuhalmustahil,
makamerekamendatanginenekitupadawaktu yang lain sambilpura-purabertengkar, sang
nenekberperansebagaipenengah. Merekamengatakanbahwasetiapberwudhu'
selaluributkarenamasing-masingsalingmenyalahkan,
Hasanmenyatakanbahwacarawudhu'nya yang baikdansebaliknyaHusenjugamengakudialah
yang paling benar.
Akhirnyasecarabergilirankeduanyamemperagakankemampuannyaberwudhu' sedangkan
sang nenekbertindaksebagaijuri. Ketikakeduanyasudahmenampilkanpraktekberwudhu'
di hadapan sang nenek, lansung sang
nenekmenangisdanmengatakanbahwakeduacucuRasulitubagusdanbenarcarawudhu'nyasedangkannenek
yang salah, mulaisaatitu sang nenekmemperbaikicaraberwudhu'nya.
PadasuatuhariRasulullahkedatanganseorangtamudaripegunungan,
diadatanglansungmasuk masjid danbuang air kecil di pojok masjid itu,
melihathaldemikiansahabatpadamarah, ada yang akanmenebaskepalanya, ada pula
yang menawarkandiriuntukmengusir orang itudari masjid,
semuanyamarahmelihatkelakuanpemudapegununganitu. Rasulullahlalumengambilseember
air danmenyirambekaspipisitukemudianmendekatinyadanbertanya,"Apa yang
andalakukandanandamaukemana".PemudaitumengatkanbahwadiasedangmencariseorangNabibernama
Muhammad, makaberkenalanlahdiadenganRasulterusmenyatakandirisebagaimuslim.
Ketikaakankembalikedesanya sang
pemudaitu berdo'a,"Ya Allah kinisayasudahbertemudengannabi-Mu
dansayatelahsebagaimuslim, ya Allah masukkanlahsayadan Muhammad
kedalamsyurga-Mu, sedangkan yang marah-marahtadijangan".
Allah
berfirman dalam surat Ali Imran 3;159, ”Maka
disebabkan rahmat Allah dan karena Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap kasar lagi keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itulah maafkan mereka, mohonlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah
dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad,
maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya’.
Da'wah
mengandung keutamaan, tidak satupun pekerjaan yang lebih baik di dunia ini
selain pekerjaan da'wah, keutamaan da'wah itu diantaranya;
1.Merupakan nikmat
Allah terbesar kepada manusia
Diantara nikmat yang diberikan Allah ialah nikmat iman atau hidayah yang
diperoleh dari perjuangan da'wah, Rasulullah bersabda; "Dan seandainya
Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih
baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga
terbenam" [HR. Bukhari Muslim]
Tanpa da'wah maka tidaklah akan sampai iman dan islam
kepada kita pada hari ini dan tentu kita masih dalam keadaan kafir, begitu
besar nikmat da'wah itu sehingga mampu melepaskan orang dari kekafiran dan
mengantarkan pengikutnya ke dalam syurga.
2.Da'wah itu
pekerjaan para Nabi
Apapun pekerjaan yang dilakukan manusia maka hal itu biasa, tapi pekerjaan
da'wah adalah pekerjaan yang luar biasa
karena ini merupakan pekerjaan para nabi, da'i meneruskan pekerjaan nabi ini
hingga hari akhir, alangkah mulianya kita bila mengemban pekerjaan para nabi; "Dia
Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang
kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali
(kepada-Nya). [Asy Syura 42;13]
3.Pekerjaan yang
paling mulia disisi Allah
Semua pekerjaan yang dilakukan manusia selama untuk kebaikan adalah baik,
tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan yang mulia dihadapan Allah yaitu
berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling tinggi nilainya, da'wah adalah
pekerjaan orang-orang piihan yaitu nabi dan rasul maka juru da'wah adalah orang
yang mulia setelah nabi dan rasul karena mereka melakukan pekerjaan rasul; "Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?"[Fushilat 41;33]
Rasulullah bersabda; "Orang yang paling tinggi
kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak
berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada manusia" [HR.
Thahawi]
4.Membawa du'at
kepada kehidupan Rabbany
Da'wah membawa para da'i kepada kehidupan Rabbany yaitu kehidupan yang
penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup pada kehidupan yang islami
sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif dan tercela, mereka adalah
orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama Allah dan mereka adalah
orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan terhadap mad'unya namun tidak lupa belajar untuk kepentingan
peningkatan kualitas diri dan keluarganya;
" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al
kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah
kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi
(Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu
selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" [Ali Imran 3;79]
Yang
dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang yang selalu mengajar dan selalu
secara terus menerus belajar Al Qur'an; "Sebaik-baik kamu adalah orang
yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR. Bukhari dan Muslim]
5.Membahagiakan
hidup para pendukungnya
Orang yang hidup dalam naungan da'wah islamiyah hidupnya
akan tentram, jauh dari gundah gulana apalagi stres sebagaimana yang difirman
Allah dalam surat An Nahl 16;97 "Barangsiapa yang mengerjakan amal
saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya
akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka
kerjakan"
Kebahagiaan hidup para da'i terletak di hati, tidak akan
dirasakan melainkan oleh orang-orang yang terliibat di dalamnya.
Da’wah memang tidak akan selesai oleh seorang da’i saja,
tapi ada tidak peran kita di dalamnya karena da’wah memang seperti bola salju,
dia akan bergulir kencang kebawah, semakin lama semakin membesar dan menggulung
siapa saja, tapi ada tidak peran mubaligh di dalamnya yang selama ini sering
tampil di mibar-mimbar tapi melalaikan
kaderisasi dalam da’wah, silahkan sibukkan diri dalam tabligh apa saja tapi
jangan lupakan takwin yaitu pembinaan ummat walaupun hanya satu orang,
Rasulullah bersabda,”Seandainya Allah memberi petunjuk kepada
seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari
sejak terbit hingga terbenam”
Obyek
pertama dari da’wah ialah rumah tangga sebagaimana Nabi mempraktekkan kepada
isteri dan anaknya serta kepada budak dan orang yang dibawah tanggungjawabnya.
Setelah itu baru tingakat lebih tinggi yaitu kerabat dekat atau masyarakat.
Dalam menyampaikan da’wah kepada keluarga banyak mengalami kesulitan baik itu
isteri atau anak sendiri sehingga banyak da’i yang mundur dari gelanggang
da’wah di tengah masyarakat karena dia tidak mampu membina serta mengarahkan
keluarganya, apalah artinya keberhasilan da’wah di masyarakat sementara
keluarga terbengkalai, sang da’i ini mengalami tekanan psikologis, sementara
anak dan isteri sebagai penentang utama sebagaimana yang dialami Nabi Nuh yang
ditentang anaknya sendiri, Nabi Luth tidak diikuti oleh isterinya, Nabi
Muhammad yang ditentang pamannya.
Da’wah yang paling berat yaitu di rumah tangga, mampukah
seorang ayah mengajak anak dan isterinya untuk menciptakan keluarga muslim atau
isteri membawa suami dan anaknya menjalankan perintah Allah atau anak dengan
ilmu yang dimilikinya meluruskan langkah orangtuanya. Bila usaha ini telah
dilakukan dengan sungguh-sungguh sebenarnya telah terlepaslah kewajiban
perorangan di hadapan Allah dalam menjalankan amar ma’ruf nahyi mungkar.
Akan tetapi dalam masyarakat kita rasa jemu ini telah
menjalar, sekali dua kali ucapan ayah tidak diladeni isteri dan anaknya dia
biarkan saja lagi, sudah sekian kali isteri mengajak suami dan anaknya untuk
melakukan amaliah ibadah akhirnya luntur tidak pernah terdengar lagi, dengan
nada keras anakpun mempropagandakan syurga kepada orangtuanya tapi tetap
diacuhkan. Semua peristiwa diatas akhirnya mengalami kebosanan pada
masing-masing pribadi, akhirnya anak, isteri atau suami melakukan perbuatan
tercela tidak lagi digubris, karena dianggap segala nasehat telah cukup.
Seorang da’i yang demikian, mudah putus asa, jiwanya
pesimis maka tidaklah berhasil da’wahnya, sebenarnya Allahpun tidaklah melihat
hasil yang diperoleh tapi kesungguhan dalam usaha. Bila betul-betul dengan
kesungguhan serta kemampuan telah dikerahkan, tanpa ada rasa bosan mengajak
walaupun gagal maka Allah tidak akan mencela bahkan dicatat sebagai amal yang
patut dipuji, karena masalah hdiayah dan kesadaran agama disamping diusahakan
juga karena hidayah dan kuasa Allah.
Seorang anak baru saja tamat dari perguruan Islam dengan
bekal ilmu agama yang cukup mapan ditambah pula dengan ilmu pengetahuan umum
lainnya. Problem utama yang akan dihadapi adalah keluarganya. Tentu saja ilmu
yang telah diterimanya akan diterapkan dalam keluarga yang keislamannya masih
dilapisi oleh khurafat, tahyul, bid’wah dan syirik. Ketegasan si anak dalam hal
ini tetap akan ditentang oleh orangtuanya karena di hati orangtua telah
berkarat ajaran yang dilapisi tradisi berhala. Ketika anak berkata kepada
orangtuanya tentang islam yang sebenarnya sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan
Hadits akan ditolak dengan ucapan, ”Nak
ini ajaran nenek moyang kita dahulu, kamu belum tahu karena masih kecil, kan
baru kemaren tamat sekolah”, pasti tantangan pertama adalah keluraga.
Dalam menyampaikan kebenaran pada kelompok ramai atau
masyarakat tidaklah begitu sulit dan sedikit resiko atau beban mentalnya tetapi
untuk keluarga sendiri terlalu banyak kendala apalagi merombak suatu tradisi,
memang bicara kebenaran dalam keluarga akan ditentang oleh anak dan isteri.
Orang lain mudah tersentuh dengan dalil dan ajakan dari seseorang, tapi untuk
menyentuh hati anak dan isteri terlalu sulit sebagaimana sebuah riwayat yang
terjadi di masa Khalifah Umar bin Khattab dan hal ini memang terjadi pada diri
beliau sendiri.
Pada
suatu hari seorang sahabat ingin datang kepada Umar mengadukan peristiwa dia
dengan keluarganya yaitu sang isteri yang tidak bisa dibentuk atau diarahkan ke
jalan yang benar, pertengkaran selalu terjadi dalam rumah tangga. Kalaulah satu
minggu ada tujuh hari, hanya satu hari saja adanya gencatan senjata [damai].
Dia datang dengan maksud minta nasehat Umar, bagaimana atau resep apa yang
bagus untuk mengatasi hal itu.
Baru
saja dia sampai di pintu gerbang rumah Umar, dia dikejutkan oleh keributan
dalam rumah tersebut. Jelas betul bahwa keributan itu dialami oleh Umar dan
isterinya, dia perhatikan agak lama akhirnya mengambil kesimpulan untuk
mengurungkan niatnya kembali saja pulang. Rupanya Umar melihat tamu di luar
yang akan pulang, dipanggilnya tamu itu dipersilahkan masuk serta terjadilah
dialoq, ”Maksud kedatangan saya yaitu ingin minta nasehat Amirul Mukminin untuk
keluarga kami, saya begitu sulit memberikan kebenaran dan menunjukkan isteri
saya, sehingga sering dalam rumah terjadi pertikaian pendapat yang diakhiri
dengan pertengkaran. Tapi setelah sampai disini saya melihat dalam rumah
khalifah seperti apa yang saya alami, sehingga saya batalkan maksud saya”.
Mendengar keluhan sahabatnya itu Umar
menjawab, ”Saya memang orang yan ditakuti dalam masyarakat, orang segan kepada
saya, tetapi setelah berada di rumah maka saya adalah orang yang lemah,
keluarga saya terutama isteri tidak akut dan segan kepada saya, kita senasib ya
sahabat”.
Itulah sebuah gambaran bahwa keperkasaan seorang suami,
kehebatannya di masyarakat belum tentu perkasa dan hebat dalam rumah tangga
untuk menyampaikan misi da’wahnya. Tantangan ini selalu hadir dan dihadapi oleh
da’i atau mubaligh, penentang misinya kebanyakan adalah orang yang dicintainya
serta lebih dekat dengannya. Apakah seorang da’i tersebut akan tetap
berda’wah atau mundur karena dia tidak
mampu membina keluarganya. Tidaklah demikian sebagaimana dengan nabi Nuh
bersama kaumnya walaupun anaknya sendiri menentang, bagaimana nabi Ibrahim
meskipun dimusuhi oleh ayahnya sendiri dan bagaimana dengan nabi Muhammad yang
selalu dikejar bahkan nyaris dibunuh oleh Abu Lahab seorang pamannya, orang
yang dekat denganya yang seharusnya menerima dukungan dan pembelaan.
Tugas
seorang da’i dimanapun dia berada harus berda’wah walaupun di Lembaga
legislatif, eksekutif ataupun yudikatif. Tentu dengan
cara dan sistim yang berbeda dari sebelumnya, walaupun hari ini mereka sebagai
anggota dewan tapi sejak dahulu tugas mulia yang diembannya sebagai da’i tidak
bisa dilupakan. Boleh saja sang da’i berhenti di dewan tapi tugas dakwahnya tidak boleh berhenti.
Mimbar dewan
sangat efektif untuk menyuarakan hati nurani rakyat melalui pandangan umum
anggota atau penyampaian pendapat akhir fraksi, sidang-sidang komisi, gabungan
komisi, kunjungan kerja menjadi sebuah peluang untuk menyampaikan kebenaran
secara universal. Bagaimana anggota dewan bisa meminimalisir bahkan menyetop
pengeluaran dana untuk kepentingan yang tidak/belum bermanfaat karena banyak
kebutuhan yang belum terperhatikan yang semuanya membutuhkan biaya.
Pendistribusian
dana untuk kepentingan umat dapat terarah dengan baik jika anggota dewan resfon
terhadap kepentingan masyarakatnya seperti pendidikan yang membutuhkan dana
tidak sedikit sementara mutunya anjlok. Begitu juga untuk biaya kesehatan
menghindari ancaman kematian bayi dan ibu hamil, penghayatan dan pengamalan
ajaran agama di tengah masyarakat dan sejuta problematika masyarakat yang sulit
dilukiskan.
Da’i yang komitmen
dengan nilai-nilai dakwah yang dia bawa, maka kehadirannya di dewan yang utama
adalah dakwah, baik melalui ucapan atau tingkah laku. Prilaku moralis dan
agamis yang ditampilkan oleh seorang anggota dewan membuat orang simpati dengan
partai yang dia tumpangi. Sebaliknya demikian pula seorang da’i yang
bertentangan cara berfikir, bertindak dan ucapannya di tengah masyarakat akan
merugikan dakwah dan partai.
Hal yang
sangat sensitif di dewan itu adalah masalah uang dan main uang, umumnya pada
saat pemilihan Kepala Daerah dan Laporan Pertanggung Jawaban [LPJ] Kepala
Daerah. Mengingat pembahasannya menyangkut uang, sang Kepala Daerah setelah
menyerahkan uang untuk menggolkan maksudnya dia harus mencari kembali proyek
yang bisa mengembalikan uang hilangnya itu. Sayangnya juga mengimbas pada
anggota dewan yang identitasnya adalah da’i atau ulama yang selama ini dia
berteriak bahwa money politic itu haram, tapi nyatanya dikala dia kebagian
tidak terdengar suaranya lagi.
Artinya
banyak da’i yang telah menghalalkan uang riba di Bank, membolehkan sogok
menyogok, manipulasi kwitansi dianggap wajar dan segudang kerusakan moral
lainnya. Hal itu terjadi ketika sang da’i atau ulama ada di dewan.
Lalu mana lagi yang akan diikuti oleh ummat kalau tokoh agamanya sendiri saja
sudah rusak begitu ? Komitmen keislaman sang da’i diuji ketika duduk
dimana saja sama apalagi tempat yang
rawan terjadi gelimang uang dan harta, mungkin sebagai anggota legislatif,
eksekutif atau yudikatif. Karena memang ujian dunia itu selain kekuasaan,
wanita dan juga harta.
Namun dari
sekian banyak prilaku negatif anggota dewan yang berstatus da’i, masih ada di
antara mereka yang tidak larut di dalamnya. Bahkan ada yang sejak berada di
dewan, dia telah mengkampanyekan bahwa money politic itu sebuah pembodohan
terhadap rakyat dan bertentangan dengan hati nurani, adat dan agama sehingga
dalam pemilihan Kepala Daerah dan setiap pembahasan LPJ Kepala Daerah tidak
mengeluarkan sepeserpun uang untuk itu.
Sementara di tempat lain ada informasi dua orang anggota dewan di Jawa Barat
ketika diketahui rekeningnya sudah membengkak masing-masing dengan tambahan setengah miliar rupiah, lalu
uang itu dibagikan pada masyarakat yang membutuhkan. Wallahu a'lam [Cubadak Solok, 18 Ramadhan 1431.H/ 28 Agustus 2010]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar