Ramadhan disebut juga dengan bulan Yang
penuh berkah, bukan bulannya yang diberkahi tapi amal ibadah yang dilakukan
pada bulan Ramadhan mengandung kwalitas yang tinggi diantaranya;
a.
Melakukan
shalat sunnah di bulan Ramadhan akan dinilai sebagai shalat wajib, apalagi
melaksanakan shalat wajib.
b.
Memberi berbuka
orang yang berpuasa sama pahalanya seperti orang yang berpuasa.
c.
Membaca Al Qur’an
di luar bulan Ramadhan, satu huruf akan bernilai sepuluh apalagi dilakukan
di bulan Ramadhan.
d.
Berinfaq diluar
bulan Ramadhan akan dinilai satu rupiah sama dengan tujuh ratus pahala, apalagi
di dalam bulan Ramadhan.
e.
Tidurnya orang yang
berpuasa dinilai sebagai ibadah dan bau mulut orang yang berpuasa dihadapan
Allah seperti minyak kasturi.
f.
Pada bulan ini ada
satu malam yang disebut dengan malam qadar, bila seseorang memperoleh malam ini
nilai ibadahnya sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan, Allah
berfirman,”Sesungguhnya Kami telah menurunkan [Al Qur’an] pada malam
keluhuran/kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam
kemuliaan itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan” [Al Qadar
97;1-3].“Sesungguhnya kami telah
menurunkannya (Al Quran) itu pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah
malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada
malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin RABB-nya
untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar.”
Adapun Rasulullah apabila memasuki sepuluh terakhir
Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan menjauhi
isterinya” [Mutafaqun alaih]. ”Beliau
lebih rajin beribadah sepuluh malam terakhir melebihi rajinya pada malam lain”
[HR.Ahmad dan Muslim]. ”Carilah malam
qadar itu pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan pada setiap malam
ganjil” [Mutafaqun alaih].
Untuk memperkuat motivasi dalam meraih Lailatul Qadr bagi
seorang muslim tidaklah salah untuk membuka kembali literatur yang berkaitan
dengan dalil tentang Lailatul Qadr itu diantaranya;
1.
Menghidupkan malam Laylatul Qadar
adalah bukti keimanan seseorang :
Dari Abu Hurairah ra, bersabda Nabi
SAW : “Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap
ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari)
2.
Menggapai Laylatul Qadar hendaklah
dalam keadaan berpuasa :
Dari Abu Hurairah ra Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa
menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho ALLAH SWT
maka diampuni dosanya yang terdahulu, dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dalam
Iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”
(HR Bukhari,)
3.
Mencari Laylatul Qadar itu pd 10
malam yg terakhir :
Dari Aisyah ra berkata : “Adalah Nabi SAW biasa mencari
Laylatul Qadar pada 10 malam yang terakhir.” (HR Bukhari)
4.
Mencari Laylatul Qadar itu pada 10
terakhir tersebut, terutama pada malam-malam Witirnya.
Dari Aisyah ra : “Adalah Nabi SAW mencari Laylatul Qadar
pada malam-malam witir di 10 hari terakhir.” (HR Bukhari,)
5.
Hadits paling seringnya tentang
Laylatul Qadar adalah tanggal 27 tapi terjadi juga tanggal 23-nya :
Dari AbduLLAAH bin Unais ra, bersabda Nabi SAW : “Aku
melihat Laylatul Qadar lalu aku dibuat lupa waktunya, dan ditampakkan padaku
saat Shubuhnya aku sujud di tanah yang basah, lalu kata AbduLLAAH: Maka turun
hujan atas kami pada malam 23, maka Nabi SAW shalat Shubuh bersama kami, lalu
beliau SAW pulang dan nampak bekas air dan tanah di dahi dan hidung beliau SAW,
lalu dikatakan: Maka AbduLLAAH bin Unais berkata tanggal 23 itulah Laylatul
Qadar.” (HR Muslim)
6.
Laylatul Qadar itu bisa didapati
dalam keadaan jaga maupun juga dalam mimpi yang benar :
Dari Ibnu Umar ra : “Ada beberapa orang laki-laki sahabat
Nabi SAW yang bermimpi melihat Laylatul Qadar pada 7 malam terakhir, maka sabda
Nabi SAW : Aku juga melihat apa yang kalian mimpikan itu jatuhnya pada 7 malam
terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya maka carilah pada 7 malam
terakhir tersebut.” (HR Bukhari)
7.
Laylatul Qadar itu tidak panas,
tidak dingin, tidak ada awan, tidak ada angin, tidak hujan :
“Pada malam Laylatul
Qadar itu tidak panas & tidak dingin, tidak berawan dan tidak hujan dan
tidak berangin, tidak juga terang dengan bintang-bintang, tanda di pagi harinya
adalah Matahari terbit bercahaya lembut.” (HR As-Suyuthi)
8.
Tapi kadang-kadang Laylatul Qadar
itu disertai juga dengan hujan :
Dari Abu Said Al-Khudriy ra, bersabda Nabi SAW : “… Aku
melihat Laylatul Qadar lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yg
ingin mencarinya maka carilah pada 10 hari terakhir pada malam-malam witirnya
dan aku melihat diriku pada malam tersebut sujud di atas tanah yang basah… Maka
kami kembali dan kami tidak melihat ada awan di langit, maka tiba-tiba ada awan
dan turun hujan sampai airnya menembus sela-sela atap masjid yang terbuat dari
pelepah Kurma, maka aku melihat Nabi SAW sujud di atas tanah yang basah, sampai
kulihat bekas tanah yang basah itu di dahi beliau SAW.” (HR Bukhari)
9.
Pagi hari setelah Laylatul Qadar
cahaya Matahari putih tapi tidak silau :
Berkata Ubay bin Ka’ab ra : “Demi ALLAH yg Tiada Ilah
kecuali DIA, sungguh malam tersebut ada di bulan Ramadhan, aku berani bersumpah
tentang itu dan demi ALLAH aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita
diperintah Nabi SAW untuk menghidupkannya yaitu malam 27 dan tanda-tandanya
adalah Matahari bersinar di pagi harinya dengan cahaya putih tapi tidak
menyilaukan.” (HR Muslim)
10. Laylatul Qadar hanya bermanfaat bagi orang yang Iman &
mengharap Ridho ALLAH SWT :
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa
yang bangun saat Laylatul Qadar lalu pas melihatnya, lalu sabda Nabi SAW: Dan orang
tersebut beriman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang telah
lalu.” (HR Muslim)
11. Saat Laylatul Qadar Malaikat yang turun ke bumi lebih banyak
dari Kerikil :
Bersabda Nabi SAW : “Laylatul Qadar itu pada malam 27 atau
29, sungguh Malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah
batu kerikil.” (HR Thayalisi)
12. Apakah doa yang paling baik dibaca saat Laylatul Qadar?
Dari Aisyah ra : Wahai RasuluLLAAH, menurut pendapatmu jika
aku tahu bahwa malam terjadinya Laylatul Qadar, maka doa apa yg paling baik
kuucapkan? Sabda Nabi SAW : “Ucapkanlah olehmu, Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU
adalah Maha Pemaaf, mencintai orang yang suka memaafkan, maka maafkanlah aku.”
(HR Ahmad)
[Abi AbduLLAAH, Tinjauan
Dalil Tentang Lailatul Qadar Al-Ikhwan.net | 13 October 2006 | 20
Ramadhan 1427 H].
Pada sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadhan kita
sering mendengarkan orang menyebutkan umgkapan: Menunggu
Turunnya LaylatulQadri. Sebuah Hadits dari St 'Aisyah RA yang
diriwayatkan oleh Bukhari artinya: Cari
LaylatulQadri dalam sepuluh terakhir dari Ramadhan. Dijelaskan dalam
sebuah Shahih Bukhari yang lain khususnya malam ke-25, 27 dan 29.
Menurut Hadits tersebut RasuluLlah SAW menyuruh kita
mencari LaylatulQadri pada sepuluh malam teakhir dari Ramadhan.
Jadi kita tidak disuruh menunggu, melainkan mencari, yaitu tidak
pasif melainkan proaktif. RasuluLlah SAW proaktif mencari
LaylatulQadri dengan cara I'tikaf dalam masjid, seperti diriwayatkan pula
oleh Bukhari, juga dari St 'Aisyah RA, artinya: (RasuluLlah SAW) tidak masuk ke dalam rumah kecuali
suatu keperluan (penting), apabila (beliau) sedang beri'tikaf.
Menghadapkan qalbu kita kepada Allah SWT dalam masjid
pada sepuluh malam terakhir untuk mencari LaylatulQadr, itulah
yang disebut i'tikaf. Sementara i'tikaf boleh pulang ke rumah
untuk suatu keperluan penting, misalnya ke belakang, tetapi
diingatkan dalam Al Quran, tidak boleh bercampur dengan isteri, artinya: Janganlah kamu bercampur dengan isterimu
apabila kamu beri'tikaf dalam masjid (S. Al Baqarah, 2:187). Pada
malam bulan puasa kita diperbolehkan bercampur dengan isteri, kecuali
sedang i'tikaf. artinya: Dihalalkan
bagimu pada malam (bulan) puasa bercampur dengan isterimu (S. Al
Baqarah, 2:187).
Sheikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi merujuk kepada surah Al-Qadar
didalam membicarakan persoalan keistimewaan Lailatul Qadar, katanya : "Allah telah memuliakan Al-Quran dimalam
ini, dan ditambahnya dengan maqam yang mulia, yaitu kedudukan dan kemuliaannya
yang sangat banyak dari kebaikan dan kelebihan dari 1000 bulan. Apa-apa
ketaatan dan ibadah didalamnya menyerupai 1000 bulan yang bukan Lailatul Qadar.
1000 bulan ini menyamai 83 tahun 4 bulan. Hanya di satu malam ini lebih baik
dari umur seseorang yang menghampiri 100 tahun, jika tambah berapa tahun beliau
baligh dan dipertanggung jawabkan".
Dan pada malam itu turunnya malaikat-malaikat dengan rahmat
Allah dengan kesejahteraan dan barakahnya. Dan kesejahteraanya melimpah
sehingga ke terbit fajar. Didalam As-sunnah, banyak hadist-hadist yang
menyebutkan mengenai keutamaan Lailatul Qadar ini. Yang banyak dianjurkan untuk
mencarinya pada 10 malam terakhir. Dalam Sahih Bukhari dari Hadis Abu
Hurarirah, "Barangsiapa yang berqiam dimalam Al-Qadar dengan penuh
keimanan dan bersungguh-sungguh maka telah diampunkannya apa yang telah lalu
dari dosanya". (Riwayat Bukhari didalam Kitab Al-Saum).
Rasulullah SAW telah memberi penjelasan kepada siapa yang
lalai dan tidak memperhatikan malam tersebut, yaitu sama seperti menghalang
diirinya dari menerima kebaikannya dan ganjarannya. Berkata para sahabat yang
telah dinaungi mereka bulan Ramadan, "Sesungguhnya bulan ini telah hadir
kepada kamu didalamnya mengandung malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa
yang memuliakannya maka beliau akan dimuliakan kebaikan semua perkara. Dan
siapa yang tidak memuliakannya maka kebaikannya akan dihalang". (Riwayat
Ibnu Majah dari Hadis Anas, isnad Hassan sebagaimana didalam Sahih Jaami'
Al-Saghir).
Sheikh Ibnu Taimiyyah (Majmu' fatawa - Jilid-25/286)
didalam membicarakan soalan yang mana satu lebih afdal, diantara Malam Isra'
Nabi saw atau Lailatul qadar? Kata: "Sesungguhnya Malam Isra' lebih afdal
dan Malam Al-Qadar lebih afdal bila dinisbahkan kepada umat...". Manakah
yang lebih afdal 10 Zulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadan?. Kata Ibnu Taimiyyah,
"Hari 10 Zulhijjah lebih afdal dari hari 10 dari bulan Ramadan. Dan
malam-malam 10 akhir Ramadan lebih afdal malam 10 Zulhijjah". Jelas
menunjukkan bahwa para ulama menyatakan bahwa malam lailatul Qadar ini sangat
istimewa kepada umat Muhammad.
Menurut Sheikh Abdul Khaliq Al-Sharrif bahwa tanda-tanda
Lailatul Qadar akan ditunjukkan pada pagi harinya matahari akan memancar dan
cuacanya yang agak sejuk. Sheikh Saleh Munajjid mengatakan bahwa matahari yang
keluar itu tidak memancarkan cahaya. Sheikh Dr Yusuf Qaradhawi mengatakan
terdapat juga berbagai tanda, seperti cahayanya merah kelemah-lemahan dan pada
malam itu hujan dan angin sepoi-poi, tiada bau dan tiada sejuk sebagaimana yang
disebut oleh Al-Hafiz didalam Fathul Bari'.
Kata Al-Qaradhawi:"Semua tanda ini tidak memberi
kepastian mengenainya. Tidak mungkin ia berulang-ulang, karena malam Al-Qadar
selalu berbeda-beda cuacanya dalam berbagai negara, berbeda pula waktunya. Ia
mungkin dijumpai di sebuah negara Islam yang tidak putus hujannya, dan
kemungkinan di negara lain yang keluarganya bersholat istiqo' yang berdepan
dengan kemarau, dan negara-negara berbeda dari segi kepanasan dan kesejukannya,
naik matahari dan turunnya, kuat atau lemah pancarannya, maka mustahil untuk mendapat
titik pertemuan ini. Kajian ulama' mengatakan: boleh di ambil malam-malam yang
tertentu Lailatul Qadar itu dari sebahgian manusia. Ia hanya kelihatan kepada
dia seorang saja yang melihatnya. Atau menerima mimpi didalam tidur, atau
berlaku (karamah) keajaiban yang luar biasa. Atau Ia terjadi kepada keseluruhan
umat Islam agar ia menerima ganjaran kepada siapa saja yang berpeluang
melakunya. Dan Ia tidak nampak apa-apa yang berlaku. Kebanyakkan ulama'
mengambil pandangan yang awal tadi.
Sheikh Atiyah Saqr menganjurkan:Hidupkannya dengan
bersholat, membaca Al-Quran, berzikir, beristigfar dan berdo'a dari terbenam
matahari sehingga terbit fajar. Dan hidupkan ramadhan dengan bersolat terawikh
di dalamnya. Sebuah riwayat yang mengatakan, "Barangsiapa yang bersholat
magrib dan Isya' di hari akhir yaitu di malam Al-Qadar secara berjamaah, ia
telah diberi keuntungan dari Lailatul Qadar". Berkata A'isyah r.h "Ya
Rasulullah di waktu Lailatul Qadar, apakah yang harus aku katakan".
"Katakalah, "Ya Allah sesungguhnya kamu pengampun dan suka kepada
pengampunan, maka ampunkanlah ku"[Cara Jitu Memburu Lailatur Qadar, Hidayatullah.com/Selasa, 26 November 2002].
Lailatul Qadr merupakan hadiah
dan berkah dari Allah bagi orang yang mampu dan mau mempersiapkan ibadah jauh
sebelum datangnya bulan Ramadhan, bahkan ketika berakhirnya Ramadhan tahun
lalu, sudah diawali dengan melaksanakan puasa Syawal selama enam hari, segala
aktivitas ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan tahun lalu sudah menjadi
kebiasaan untuk dilakukan sebelas bulan berikutnya hingga dating lagi Ramadhan
tahun ini, orang muslim yang mempersiapkan segala sesuatunya itulah yang kelak
tahun ini akan memperoleh Lailatul Qadr, jadi mustahil seseorang akan
mendapatkan Lailatul Qadr bila dijemput hanya ketika masuk Ramadhan saja atau
saat-saat pada tanggal ganjil saja.
Semoga datangnya Ramadhan tahun
ini akan memotivasi kita untuk menjemput Lailatul Qadr dengan memakmurkan
Ramadhan bersama aktivitas amaliyah ibadah yang maksimal, wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 23 Juli 2011.M/21 Sya’ban 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar