Sifat ini semua
orang menyukainya walaupun tidak semua orang mampu menampilkannya, jujur
merupakan sifat dan sikap orang-orang yang membutuhkan hidupnya tanpa beban,
tidak ada masalah dan tidak menanggung sakit hati, hati orang yang jujur itu
bersih dari motivasi apapun selain kebaikan. Didikan sejak dini menjadi anak
yang jujur akan membekas hingga dewasa kelak, bila kejujuran dihilangkan dari
pendidikan maka semuanya akan berada dalam kebohongan.
Seorang Muslim sejatinya bukanlah pem- bohong atau orang
yang biasa melakukan kebohongan. Bahkan seharusnya ia tidak pernah berbohong;
kecuali dalam hal yang dibenarkan oleh syariah, seperti pada saat berperang
melawan musuh atau demi mendamaikan dua orang Muslim yang sedang berselisih.
Sebaliknya, seorang Muslim wajib selalu berkata dan bersikap
jujur/benar.Apalagi jika dia adalah seorang pemimpin umat, tokoh masyarakat,
atau malah seorang pejabat atau penguasa.
Berbohong jelas perbuatan dosa.Sebaliknya, berkata dan
berperilaku jujur/benar adalah wajib. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan jadilah kalian
beserta orang-orang yang jujur/benar (QS at- Taubah [9]: 119).
Dalam kitab Hawasyi Syarh al-'Aqa'id, al-'Allamah Ibn Abi
Syarif menyatakan, “Dalam istilah kaum sufi, kejujuran/kebenaran (ash-shidqu)
bermakna: samanya (perilaku seseorang) dalam keadaan tersembunyi (dari manusia)
maupun dalam keadaan terang-terangan(terlihat manusia); kesesuaian (penampakan)
lahiriah seseorang dengan batiniahnya. Dengan kata lainkeadaan seorang hamba
tidak bertentangan dengan perilakunya, dan perilakunya tidak berlawanan dengan
keadaannya.”
Dalam kitab Risalah al-Qusyairiyah karya Syaikh Zakariya
dinyatakan bahwa al-Junaid pernah ditanya, “Samakah sikap jujur/benar dengan
ikhlas?” ia menjawab, “Keduanya berbeda. Jujur/benar itu pangkal/pokok (ashl[un]),
sementara ikhlas itu ranting/cabang (far'[un]). Kejujuran/kebenaran
adalah pangkal segala sesuatu, sedangkan keikhlasan tidak terjadi kecuali
setelah melakukan perbuatan. Amal perbuatan tidaklah diterima oleh Allah
SWT kecuali dengan sikap jujur/benar dan ikhlas.”
Dalam ayat di atas, Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah; yakni dengan cara
meninggalkan maksiat (dan tentu dengan menjalankan ketaatankepada Allah SWT).
Jadilah kalian beserta orang-orang yang jujur/benar; yakni baik dalam keimanan
maupun dalam memenuhi berbagai macam perjanjian. Sebagian ulama
menyatakan: ma'a ash-shadiqqin (beserta orang- orang yang jujur/benar)
artinya bersama orang-orang yang senantiasa berdiri di atas jalan hidup yang
benar ('ala minhaj al-haqq).
Terkait dengan ayat di atas, di dalam sebuah hadisnya
Baginda Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Mas'ud, “Sesungguhnya
kejujuran/kebenaran (ash-shidqu) mengantarkan pada kebaikan (al-birru), dan
sesungguhnya kebaikan mengantarkan pada surga.Sesungguhnya kebohongan/kedustaan
mengantarkan pada kefasikan/kemaksiatan, dan sesungguhnya kefasikan/kemaksiatan
mengantarkan pada neraka. Sesungguhnya seseorang yang benar-benar bersikap
jujur/benar akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur/benar.
Sesungguhnya seseorang yang benar- benar berbohong di sisi Allah akan dicatat
sebagai pembohong.”(Mutaffaq 'alaih).
Maknanya, kejujuran/kebenaran dalam ucapan akan mengantarkan
pada amal shalih yang sunyi dari segala cela. Dalam hal ini al-birru adalah
nama untuk
menyebut segala jenis kebaikan (al-khayr). Imam al- Qurthubi berkata, “Setiap orang yang memahami Allah SWT wajib bersikap jujur/benar dalam ucapan, ikhlas dalam amal perbuatan dan senantiasa 'bersih' (tidak banyak melakukan dosa/kemaksiatan) dalam seluruh keadaan.Siapapun yang keadaannya seperti itu, dialah orang-orang benar-benar baik dan benar-benar ada dalam ridha Allah Yang Maha Pengampun.” (Lihat: Muhammad bin 'Allan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh ash-Shalihin, I/ 146).
menyebut segala jenis kebaikan (al-khayr). Imam al- Qurthubi berkata, “Setiap orang yang memahami Allah SWT wajib bersikap jujur/benar dalam ucapan, ikhlas dalam amal perbuatan dan senantiasa 'bersih' (tidak banyak melakukan dosa/kemaksiatan) dalam seluruh keadaan.Siapapun yang keadaannya seperti itu, dialah orang-orang benar-benar baik dan benar-benar ada dalam ridha Allah Yang Maha Pengampun.” (Lihat: Muhammad bin 'Allan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh ash-Shalihin, I/ 146).
Seorang yang jujur/benar pasti akan jauh dari sifat- sifat
munafik—sebagaimana dinyatakan oleh Baginda Rasulullah SAW—yakni: dusta dalam
berbicara; ingkar janji, mengkhianati amanah (HR al-Bukhari dan Muslim).
Terkait dengan sifat munafik ini, Sahabat Hudzaifah ra
pernah berkata, “Orang-orang munafik sekarang lebih jahat (berbahaya) daripada
orang munafik pada masa Rasulullah SAW” Saat ia ditanya, “Mengapa demikian?”
Hudzaifah menjawab, “Sesungguhnya pada masa Rasulullah SAW mereka
menyembunyikan kemunafikannya, sedangkan sekarang mereka berani menampakkannya.”(Diriwayatkan
oleh al-Farayabi tentang sifat an-nifaq (51-51), dengan isnad sahih).
Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Al-Kidzb (dusta) adalah
salah satu rukun dari kekufuran.” Selanjutnya ia menuturkan bahwa
jika Allah menyebut kata nifak dalam Alquran, maka Dia menyebutnya bersama
dengan dusta (al-kidzb). Demikian pula sebaliknya (Lihat: QS al-
Baqarah: 9-10; QS al-Munafiqun: 1).
Walhasil, dusta/bohong merupakan
karakter yang secara kongkret membuktikan bahwa pelakunya telah terjangkiti
virus kemunafikan.Semoga kita terpelihara dari sifat tersebut.[Media ummat,Bersikap Jujur, Menjauhi Dusta Wednesday, 13 April 2011
09:45].
Allah berfirman dalam surat Al
Ahzab ayat 70, ”Hai orang-orang yang
beriman, bertaqwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.
Sungguh jauh berbeda antara antara pengertian perkataan yang benar
[gaulan sadida] dan perkataan yang keras [qaulan syahida]. Kaum muslimin
dituntut untuk berbicara benar, tidak mencla-mencle atau lemah pendirian. Namun
dalam penyampaiannya digunakan ucapan yang lembah lembut dan santun. Bahkan
ketika berbicara dengan musuh sekalipun, ”Dan
tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara
yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara dan antara dia ada permusuhan
seolah-olah telah menjadi kawan yang akrab” [ Fushilat ;34].
Islam merupakan suatu dien yang persuasif dan sangat
menghargai jati diri manusia. Islam tidak ingin memaksakan doktrinnya untuk
diterima begitu saja oleh manusia, Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya dien [agama] mudah dan tidak seorangpun yang
mempersulitnya kecuali pasti dikalahkannya. Bertindaklah tepat, lakukanlah
pendekatan, sebarlah berita gembira, permudahlah dan gunakan siang dan malam
serta sedikit waktu fajar sebagai penolongmu” [HR. Bukhari].
Dalam kondisi akhlak manusia yang makin menuju ke arah
kehancufran ini, kebenaran menjadi barang langka. Sulit untuk menemukan
kebenaran hakiki dari mulut manusia. Yang ada, bahkan banyak, adalah manusia
yang mengaku benar. Begitu pula, sangat sulit menemukan manusia yang pandai
merasa. Yang banyak ditemukan adalah manusia yang tidak pandai merasa. Akankah kebenaran punah
dari muka bumi ini ?
Rasulullah sejak masih remaja telah nampak kejujurannya
sehingga beliau bergelar Al Amin. Walaupun demikian, setelah beliau menjadi
Rasul tidak sedikit orang yang curiga dan khawatir atas kerasulannya. Apalagi
para pendatang selalu tidak puas dalam menerima informasi tentang kerasulannya.
Bahkan beliau dituduh gila, tukang sihir dan perusak persatuan kabilah.
Kejujuran adalah tanda bukti
keimanan.Orang mukmin pasti jujur.Kalau tidak jujur, keimanannya sedang
terserang penyakit kemunafikan. Pernah seorang sahabat bertanya kepada
Rasulullah SAW: "Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?"Rasul
SAW menjawab: "Mungkin saja." Sahabat bertanya lagi:
"Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?" Rasul menjawab:
"Mungkin saja." Sahabat bertanya lagi, "Apakah mungkin seorang
mukmin berdusta?" Rasulullah menjawab: "Tidak." (HR Imam Malik
dalam kitab al Muwaththo')
Inti hadis ini menegaskan, seorang mukmin tidak mungkin melakukan kebohongan.Kejujuran adalah pangkal semua perbuatan baik manusia.Tidak ada perbuatan dan ucapan baik kecuali kejujuranlah yang mendasarinya.Oleh sebab itu, Allah menyuruh orang-orang mukmin agar selalu berkata benar dan jujur."Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang jujur/benar." (al-Ahzab [33]: 70).Rasulullah bersabda: "Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga." (HR Ahmad, Muslim, at-Turmuzi, Ibnu Hibban)
Kejujuranlah yang menjadikan Ka'b bin Malik mendapat ampunan langsung dari langit sebagaimana Allah jelaskan dalam surah at-Taubah. Kejujuranlah yang menyelamatkan bahtera kebahagiaan keluarga dan kejujuran pulalah yang menyelamatkan seorang Muslim dari siksa api neraka di kemudian hari. Kejujuran adalah tiang agama, sendi akhlak, dan pokok kemanusiaan manusia.Tanpa kejujuran, agama tidak lengkap, akhlak tidak sempurna, dan seorang manusia tidak sempurna menjadi manusia.
Di sinilah urgensinya kejujuran bagi kehidupan.Rasulullah pernah bersabda, "Tetap berpegang eratlah pada kejujuran.Walau kamu seakan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan." (HR Abu Dunya)
Ada tiga tingkatan kejujuran: Pertama, kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realitas. (lihat ash-Shaff [61]: 2 dan al-Ahzab [33]: 70). Kedua, kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.Ketiga, kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tingkat tinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah SWT.
Seorang mukmin tidak cukup hanya jujur dalam ucapan dan perbuatan, tapi harus jujur dalam niat sehingga semua ucapannya, perbuatannya, kebijakannya, dan keputusannya harus didasarkan atas tujuan mencari mardlotillah. Kejujuran inilah yang mendorong Umar bin Khattab memiliki tanggung jawab luar biasa dalam memerintah khilafah Islamiyah sehingga pernah berkata: "Seandainya ada seekor keledai terperosok di Baghdad (padahal beliau berada di Madinah), pasti Umar akan ditanya kelak: "Mengapa tidak kau ratakan jalan untuknya?" Bangsa yang tak henti-hentinya diterpa musibah dan krisis sangat membutuhkan manusia-manusia jujur, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun niat.[Republika Online, Achmad Satori Ismail.Mengukur Kejujuran,Thursday, 28 April 2011 13:15 WIB].
Hilangnya
kejujuran merupakan tanda kiamat akan dating Karena dengan kebohongan, hidup
tidak bisa amanah membuat kehidupan ibarat sudah hancur, tak bedanya dengan
kiamat sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah.
Ada dua poin penting yang terkandung dalam kisah di atas, pertama pemimpin haruslah amanah, kedua pemimpin haruslah orang tepat, sesuai keahlian dan kemampuannya. Jika hal itu tidak dipenuhi, maka kehancuran (kiamat) akan terjadi.
Hal itu pula yang selalu merisaukan Umar Bin Khatab saat diangkat menjadi khalifah.Pahlawan perang yang terkenal gagah perkasa ini selalu mengevaluasi diri setelah shalat malam. Beliau menangis mohon ampun dan petunjuk Allah Swt agar ia mampu bersikap adil dan amanah dalam menjalankan tugas sebagai khalifah.
Suatu kali apa yang ia kuatirkan itu terjadi juga, beliau mendapat informasi bahwa beliau telah berlaku tidak adil, ada satu keluarga rakyat beliau yang kelaparan. Umar langsung mendatangi keluarga itu dan setelah yakin kebenaran informasi itu beliau langsung memanggul sendiri sekarung gandum untuk diserahkan ke keluarga tersebut.
Umar sangat terkejut dengan kejadian itu, air matanya berurai. Ia sadar bahwa kepemimpinannya harus ia pertanggung jawabkan di dunia, juga akhirat.[Irwan PrayitnoGubernur Sumbar,Bisakah Kita Amanah?Selasa, 22/02/2011]
Pemimpin yang mengetahui bahwa jabatan bukanlah hadiah yang dapat digunakan sekehendak hati maka dia akan menjadikan kekuasaan itu sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkana kepada rakyat didunia dan kepada Allah di akherat kelak, pemimpin dan penguasa yang amanah akan bertekad menjadikan focus kekuasaannya untuk mensejahterakan rakyat.
Secara etimologis kata-kata amanah, iman, aman, dan amn(=ketenangan) berasal dari akar kata yang sama yaitu ‘ham zah, mim’, dan ‘nun’ yang memiliki pangkal makna ‘aman’, ‘tenteram’, ‘tidak merasa takut’. (lih al-Mu’jam al-Araby al-Asasy, hlm 109.) Hakikat maknanya pun sa ling berkaitan erat. Iman tidak ter wujud sempurna kalau tidak ada amanah, begitu juga sebaliknya.
Rasa aman dan ketenangan pun tidak akan terealisir kalau tidak ada iman dan amanah. Kon sekuensi logisnya, seorang mukmin yang tidak amanah perlu dicu rigai kesahihan imannya, demikian juga se orang yang amanah tapi tidak ber iman, amanahnya adalah palsu yang didasari atas kepentingan pribadi, politik, atau kelompoknya.
Hal ini diungkapkan oleh satu hadis yang acap kali disampaikan Rasulullah dalam khutbahnya: Tidak ada keimanan bagi seorang yang tidak amanah dan tidaklah ada manfaat beragama bagi orang yang tidak memegang janji. (HR Ahmad).
Amanah merupakan perasaan hati sanubari yang hidup, yang mendorong manusia untuk menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia serta melindungi semua amal perbuatan dari penyakit ifrath (berlebihan) dan tafrith (pengabaian).Amanah merupakan suatu keharusan dalam kehidupan ini.
Kepemimpinan dalam semua levelnya adalah tugas berat. Semakin tinggi level yang dipimpin semakin besar tanggung jawabnya.
Maka, hanya orang amanahlah yang mampu melaksanakan ke pemim pinan secara bertanggung jawab, karena ia menyadari bahwa kepemimpinan adalah taklif (beban berat) dan bukan tasyrif (kehormatan).
Orang yang berprinsip demikian tidak merasa bangga bila diberi jabat an ataupun bersedih ketika ditu runkan dari jabatannya.Ia tahu bah wa jabatan atau kepemimpinan adalah beban yang harus dipikulnya, bukan kesempatan untuk menge ruk keuntungan sebanyakbanyaknya.
Semakin tinggi kadar keimanan seseorang semakin besar sifat amanahnya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Dan, pada gilirannya akan semakin besar pula pengaruhnya dalam men ciptakan keamanan dan ke tente raman bawahan atau rakyat yang dipimpinnya.
Orang amanah adalah pembawa keamanan dan penebar kebajikan serta kedamaian bagi setiap individu dan masyarakat.Ia berusaha mengajak manusia pada petunjuk Allah dan perbaikan umat, serta membimbing ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Di suatu negeri mana pun, bila mayoritas penduduk dan pejabatnya amanah, ti dak ada pemerkosaan hak, kezalim an, manipulasi, kolusi, korupsi, intimidasi, dan tindakan-tindakan lain yang melawan hukum Allah.
Keamanan, ketenangan, dan ketenteraman senantiasa lahir bersama amanah dan keimanan.Rasa takut dan kegelisahan muncul akibat khianat dan kufur nikmat.Rasa aman itu nikmat dan rasa takut adalah musibah.Pokok pangkal kenikmatan manusia terdapat pada rasa aman dan kelapangan hidup.
Sedangkan pokok pangkal malapetaka terdapat pada rasa takut dan kesempitan hidup. Bila iman dan amanah ada dalam diri para pemimpin berarti umat manusia akan hidup nyaman dan aman.
Rasulullah menegaskan dalam suatu hadis, Apabila amanah diabaikan, maka tunggulah masa kehancuran.Ditanyakan kepada Rasulullah, Apakah bentuk peng abaian amanah?Beliau menja wab, Bila urusan diserahkan ke pada orang yang bukan ahlinya, ma ka tunggulah saat kehancurannya. (HR Bukhari dari Abu Hurairah RA)[Republika Online, KH Achmad Satori Ismail, Amanah,Selasa, 19 April 2011 17:13 WIB]
Sikap amanah itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sejak semula mampu bersikap jujur, kejujuran baginya merupakan prinsif hidupnya, ini pulalah pendidikan yang berlansung dimasa Rasulullah, kejujuran itu memang berat tapi mampu untuk menyelesaikan segala persoalan bahkan Allah akan mengampuni dosa seseorang dikala dia siap dengan jujur mengakui kesalahannya.
Rasulullah SAW
tampak keheranan mendengar pengakuan tulus Ma'iz bin Malik. Sadarkah Ma'iz
bahwa pengakuannya berakibat dijatuhi hukuman mati?Karena itu, Rasulullah
bertanya, apakah orang ini sedang mengalami gangguan kejiwaan."Ia tidak
gila!" jawab sahabat yang hadir.
Namun, Rasulullah SAW masih juga meragukan ketulusannya.Beliaupun menyuruh salah seorang di antara yang hadir untuk mencium aroma tubuhnya.Jangan-jangan ada bau minuman keras, bisa diduga laki-laki ini sedang mabuk berat.Juga tak tercium sedikit pun bau minuman keras di tubuhnya.Untuk lebih meyakinkan, Rasulullah SAW bertanya langsung kepadanya, apakah betul Anda berzina."Ya," jawab Ma'iz, seraya mendesak agar segera dibersihkan dirinya dari dosa zina.Dia siap menjalani hukuman rajam.
Kasus serupa terjadi pada diri wanita Ghamidiyah asal lembah Juhainah. Di hadapan Rasulullah SAW ia mengaku hamil hasil zina, dan memohon agar dijatuhi hukuman rajam seperti terjadi pada Ma'iz. Rasulullah SAW menganjurkan agar ia segera bertaubat kepada Allah, sambil menunggu lahir bayi yang di kandungnya.
Wanita itu kembali melaporkan diri setelah bayinya lahir, dan mendesak agar segera menjalani eksekusi.Rasulullah SAW masih juga menyuruhnya pulang dan memberinya kesempatan untuk menyusui sampai anaknya bisa disapih.
Wanita malang ini datang kembali sambil menggendong anaknya, di tangannya ada sepotong roti sebagai tanda bahwa sang anak benar-benar sudah disapih.
Kesempatan ini mestinya dapat dimanfaatkan oleh Ghamidiyah untuk melarikan diri. Rasulullah pun tidak akan menyuruh para sahabat mencari wanita itu, atau memasukkannya dalam daftar buronan jika benar bahwa setelah anaknya disapih ternyata ia tidak melaporkan diri. Tampaknya Rasulullah SAW sangat memahami bahwa wanita ini sungguh-sungguh bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatannya.
Ma'iz dan Ghamidiyah adalah sosok dua anak manusia langka di zaman sekarang ini.Keduanya datang melaporkan diri, mengakui kesalahannya, lalu minta dihukum dengan hukuman paling berat yang merenggut nyawa.
Keduanya seperti tidak yakin bahwa taubatnya diterima oleh Allah, jika hanya dengan lantunan doa dan istighfar, tanpa menjalani hukuman rajam. Keduanya memilih hukuman di dunia walaupun teramat berat, daripada di akhirat nanti dihukum dengan hukuman yang lebih dahsyat.Usai eksekusi para sahabat masih memperdebatkan, apakah taubatnya diterima oleh Allah atau tidak? Bahkan Umar bin Khattab mempertanyakan, apa layak menshalatkan jenazah orang yang berbuat dosa zina seperti ini?
Namun, Rasulullah SAW masih juga meragukan ketulusannya.Beliaupun menyuruh salah seorang di antara yang hadir untuk mencium aroma tubuhnya.Jangan-jangan ada bau minuman keras, bisa diduga laki-laki ini sedang mabuk berat.Juga tak tercium sedikit pun bau minuman keras di tubuhnya.Untuk lebih meyakinkan, Rasulullah SAW bertanya langsung kepadanya, apakah betul Anda berzina."Ya," jawab Ma'iz, seraya mendesak agar segera dibersihkan dirinya dari dosa zina.Dia siap menjalani hukuman rajam.
Kasus serupa terjadi pada diri wanita Ghamidiyah asal lembah Juhainah. Di hadapan Rasulullah SAW ia mengaku hamil hasil zina, dan memohon agar dijatuhi hukuman rajam seperti terjadi pada Ma'iz. Rasulullah SAW menganjurkan agar ia segera bertaubat kepada Allah, sambil menunggu lahir bayi yang di kandungnya.
Wanita itu kembali melaporkan diri setelah bayinya lahir, dan mendesak agar segera menjalani eksekusi.Rasulullah SAW masih juga menyuruhnya pulang dan memberinya kesempatan untuk menyusui sampai anaknya bisa disapih.
Wanita malang ini datang kembali sambil menggendong anaknya, di tangannya ada sepotong roti sebagai tanda bahwa sang anak benar-benar sudah disapih.
Kesempatan ini mestinya dapat dimanfaatkan oleh Ghamidiyah untuk melarikan diri. Rasulullah pun tidak akan menyuruh para sahabat mencari wanita itu, atau memasukkannya dalam daftar buronan jika benar bahwa setelah anaknya disapih ternyata ia tidak melaporkan diri. Tampaknya Rasulullah SAW sangat memahami bahwa wanita ini sungguh-sungguh bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatannya.
Ma'iz dan Ghamidiyah adalah sosok dua anak manusia langka di zaman sekarang ini.Keduanya datang melaporkan diri, mengakui kesalahannya, lalu minta dihukum dengan hukuman paling berat yang merenggut nyawa.
Keduanya seperti tidak yakin bahwa taubatnya diterima oleh Allah, jika hanya dengan lantunan doa dan istighfar, tanpa menjalani hukuman rajam. Keduanya memilih hukuman di dunia walaupun teramat berat, daripada di akhirat nanti dihukum dengan hukuman yang lebih dahsyat.Usai eksekusi para sahabat masih memperdebatkan, apakah taubatnya diterima oleh Allah atau tidak? Bahkan Umar bin Khattab mempertanyakan, apa layak menshalatkan jenazah orang yang berbuat dosa zina seperti ini?
"Sungguh Allah telah menerima taubatnya.Bila taubatnya dibagikan kepada seluruh umat ini, niscaya taubatnya masih tersisa," ujar Rasulullah SAW meyakinkan. (HR Muslim No 1695).[Republika OnLine Muhammad Abbas Aula,Mengaku Bersalah Jumat, 14 Januari 2011, 08:06 WIB
Hati-hatilah terhadap sikap hidup yang dapat merusak
kepribadian, yang merusak itu adalah hilangnya sifat dan sikap jujur, dusta dan
bohong dianggap suatu kepribadian, bila masyarakat sudah menjadikan jujur
sebagai akhlak pribadi maka akan tampil penguasa dan pemimpin yang jujur pula,
yang akan menjalankan segala amanah yang dipikulkan kepadanya dengan baik,
wallahu a’lam [Cheras Kuala Lumpur Malaysia, 05 Juni 2011 03 Rajab 1432.H/ 05
Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar